Al-Qur’an salah tentang Lebah? Bagaimanakah hukum membaca al-Fatihah bagi Makmum?


Sebelumnya marhaban ya ramadhan, salamun shaum antum.

1. Seperti biasa saya mau bertanya. Dalam Quran, kata arab yg diterjemahkan buah – buahan adalah tsamarat dan fawkiha. Pertanyaan adalah apa perbedaan antara kedua kata trsbt tetapi artinya sama. Kaum kafir telah menuding kesalahan ilmiah Quran, surat 16;69 mereka berkata keliru tidak mungkin lebah memakan buah melainkan saripati bunga dari pohon buah.

Jawab:

Secara bahasa tsamarat dan fawakih tidak ada perbedaan mendasar. Adapun secara makna, dalam mentafsirkan ayat al-Qur’an tidak lepas dari asbab al-Nuzul (sebab turunnya ayat)/situasi dan kondisi masyarakat setempat serta harus dilihat makna yang terkandung di dalamnya menurut hadits Rasulullah saw. Mengenai QS.Al-Nahl: 69 yang berbunyi:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69)

“kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”

Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan:

Maksud ayat tersebut adalah bukan buah dalam kata utuh, yakni “satu potong buah,”  tentu sangat lucu apabila kita dengar ada lebah makan satu buah secara utuh dan pasti yang menyuruhnya juga rasa-rasanya bercanda. Apalagi dalam ayat tersebut ‘buah’ nya digambarkan dalam bentuk plural (tsamarat: buah-buahan) bisa dibayangkan kalu lebah makan buah-buahan, tentu akan mati kekenyangan?

Tapi kekonyolan tadi akan sirna apabila kita memahami kondisi si Pemerintah (Allah swt) dengan yang diperintah (lebah). Saya menganalogikan, apabila ada orangtua memerintahkan kepada anaknya: “Nak, nasi yang sudah dibuat ibu nanti dihabiskan ya, karena mubazir…” mungkinkah orang tua tadi akan berkata seperti ini: “Nak, nasi, tempe, tahu, ayam, sayur, kuah, sambal, air putih, susu dan buah-buahan, dst yang sudah dibuat ibu nanti dimakan ya, karena mubazir!” kalau ada tentu orangtua ini sangat mubazir dalam bercakap-cakap.

Hal ini sama dengan Allah swt memerintahkan kepada lebah untuk memakan buah-buahan, bukan lantas buah dalam artian utuh, tentunya juga cara memakan ala lebah, yakni menyedot saripati buah tadi yang adanya di bunga. Mengapa Allah tidak spesifik menyatakannya? Karena alam pengetahuan bangsa Arab pada saat itu belum sampai pada tahap mengetahui lebah memakan sesuatu dengan sungut dan hanya saripati bunga. Jadi supaya bangsa Arab nyambung maka Allah menggunakannya dengan bahasa mudah, mirip orangtua yang memerintahkan makan kepada anaknya yang masih kecil tadi.[1]

—————————————————————————————————————————————————-

2. Masalah lain tentang shalat, ketika shalat dzuhur dan ashar bersama imam, apakah makmun turut baca Quran atau diam saja sedang suara imam tidak terdengar?

Jawab:

Ma’mun diwajibkan membaca al-Qur’an Surah al-Fatihah saja apabila shalat Zhuhur dan ‘Ashr. Akan tetapi dalam shalat Shubuh, Maghrib dan ‘Isya’ maka ada perbedaan pendapat. Imam Syafi’i mewajibkan akan tetapi yang lain tidak apabila bacaan imam fashih dan kita menyimaknya penuh.

Perbedaan ini berdasarkan penafsiran ulama dari ayat dan hadits-hadits berikut ini:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنَ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS.Al-A’raf: 204)

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ خَلْفَ الإِمَامِ فَحَسْبُهُ قِرَاءَةُ الإِمَامِ، وَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيَقْرَأْ

“Jika salah satu kalian shalat di belakang imam maka cukup baginya bacaan Imam, dan apabila kalian shalat sendiri maka bacalah (yang sempurna).”[2]

مَنْ صَلَّى خَلْفَ إِمَامٍ، فَإِنَّ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

“Barangsiapa yang shalat di belakang imam (berjama’ah) maka bacaan imam adalah bacaan juga bagi si makmum.”[3]

Dan dengan ayat dan hadits-hadits berikut ini:

…..فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ…

“….Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an dan dirikanlah shalat ….” (QS. Al-Muzammil: 20)

وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أَفِي كُلِّ صَلَاةٍ قِرَاءَةٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: وَجَبَتْ. قَالَ الْبُخَارِيُّ: وَتَوَاتُرُ الْخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا صَلَاةَ إِلَّا بِقِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ»

Abu Darda bertanya kepada Rasulullah saw: ‘apakah dalam setiap shalat itu wajib membaca bacaannya?’ Rasulullah saw menjawab: ‘ya.’ Lalu berkata seseorang dari golongan Anshar: ‘membaca dalam setiap shalat itu adalah kewajiban,’ Dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda: ‘Tidak ada shalat yang sah kecuali dengan membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah).”[4]

لَا صَلَاةَ إِلَّا بِقِرَاءَةٍ

“Tidak sah yang namanya shalat apabila tidak membaca bacaan.”[5]

لَا صَلَاةَ إِلَّا بِقِرَاءَةِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada yang namanya shalat tanpa adanya bacaan surah al-Fatihah.”[6]

‘Ulama Fiqh berbeda pandangan disebabkan dalil yang telah disebutkan di atas:[7]

  1. Imam Hanafiy    : “Sesungguhnya bacaan al-Fatihah bagi makmum di belakang imam adalah Makruh dan bisa berdosa baik dalam shalat berjamaah Sirriyyah (Zhuhur dan ‘Ashr) ataupun Jahriyyah (Subuh, Maghrib dan ‘Isya) karena banyaknya hadits2 yang diriwayatkan mengenai pelarangan membaca apapun bagi makmum yang berjamaah.”
  2. Imam Syafi’iy     : “Wajib bagi makmum untuk membaca Surah al-Fatihah di belakang Imam. Terkecuali bagi yang masbuq maka bacaan sebelumnya ditanggung Imam.”
  3. Imam Malikiy     : “Membaca bacaan al-Fatihah bagi makmum adalah sunnah pada shalat berjamaah Sirriyyah, dan makruh pada shalat berjamaah Jahriyyah, terkecuali untuk menjaga kekeliruan imam maka disunnahkan.”
  4. Imam Hanbaliy  : “Amat dicintai untuk membaca surah al-Fatihah bagi makmum dalam shalat berjamaah Sirriyyah, dan pada berhentinya imam (ketika imam lupa/suara imam tidak terdengar karena jarak atau sound system yang buruk, ed.) dalam shalat Jahriyyah. Dan dimakruhkan membacanya ketika Imam sedang membaca.”

Wallahu a’lam bi al-Shawab

END NOTE:


[1](1) Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labiy Abu Ishaq, al-Kasyf wa al-Bayan ‘An Tafsiyr al-Qur’aan, Beirut: Dar Ehya’ el-Turath el-‘Arobiy, 1422 H/2002 M, cet. I, vol. vi, p. 28.

(2) Abu al-Hasan ‘Aliy bin Ahmad bin ‘Aliy al-Waahidiy al-Nisaburiy al-Syafi’iy, al-Wasiyth fiy Tafsiyr al-Qur’aan al-Majiyd, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1415 H/1994 M, cet. I, vol. III, p. 71.

[2] (1) HR. Malik: Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amir al-Ashbahiy al-Madaniy, Muwaththa’ al-Imam al-Malik, Beirut: Mu’assasah el-Risalah, 1412 H, vol I, p. 96.

(2) HR. Ahmad bin Hanbal: Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syibaniy,  Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Beirut: Mu’assasah el-Risalah, 1421 H/2001 M, cet. I, vol. ix, p. 112.

(3) HR. Baihaqiy: Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Musa al-Khusraowjirdiy al-Khuroosaaniy Abu Bakr al-Baihaiy, al-Sunan al-Kubroo, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1424 H/2003 M, cet. III, vol. II, p.227.

[3] HR. Thabrani: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyuwb bin Muthiyr al-Lakhmiy al-Syaamiy Abu al-Qaasim al-Thabariy, al-Mu’jam al-Awsath, Cairo: Dar el-Haromaiyn, t.t., vol. VII, p. 43.

[4] HR. Bukhariy: Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughiyrah al-Bukhariy, Juz’ al-Qira’ah Khalf al-Imaam, Lahore: al-Maktabah al-Salafiyyah, 1400 H/1980 M, vol. I, p. 7.

[5] HR. Muslim: Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairiy al-Niysabuwriy, al-Musnad al-Shahiyh al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl Ila Rasulillah saw (Shahiyh Muslim), Beirut: Dar Ehya’ el-Turath, t.t., vol. I, p. 297.

[6] HR. Ahmad bin Hanbal: Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syibaniy,  Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Loc.Cit., vol. xv, p. 324.

[7] ‘Abd al-Rahman bin Muhammad ‘Awdh el-Juzairy, al-Fiqh ‘alaa al-Madzaahib al-Arba’ah, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1424 H/2003 M, vol. I, p. 208.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 21 Juli 2012, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. pak saya belum tahu apa yg di maksud dengan tsamarat dan fawkiha. apa itu??

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 174 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: