Nikah Sirr dalam Islam


NIKAH AL-SIRR (نِكَاحُ السِّرِّ)

Oleh:

Apriansyah Bintang

 

A. NIKAH AL-SIRR DALAM ISLAM

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا. (النساء: 24)

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

 

Ayat tersebut -yang digaris bawahi- ditafsirkan oleh Imam Qurthubi[1] sebagai berikut:

وَمِنْهُ قَوْلُ النَّبِيْ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, حِيْنَ سَمِعَ الدِّفاَفَ فِيْ عُرْسِ هَذاَ النِّكَاحِ: “لاَ السِّفاَحَ وَلاَ نِكَاحَ السِّرِّ!”

 

“Dan sebagian dari hadits Nabi saw yang melarang Nikah al-Sirr adalah ketika beliau mendengar laki-laki bernama al-Difaf melaksanakan Nikah al-Sirr tesebut, lantas beliau bersabda: “Zina itu haram, begitu pula dengan Nikah al-Sirr!”

 

Bahwasanya Paduka kita; Baginda Nabi besar Muhammad Rasulullah saw bersabda:

1) عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ السِّرِّ (رَوَاهُ الطَّبْرَانِيْ فِيْ اْلأَوْسَطِ, عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِالصَّمَدِ بْنِ أَبِي الْجَرَاحِ؛ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ فِيْهِ أَحَدٌ, وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ).

 

Dari Abu Hurairah ra: “Bahwasanya Rasulullah saw melarang Nikah al-Sirr.” (HR. Thabrani dalam kitab al-Ausath-nya. Hadits ini diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abd al-Shamad bin Abi al-Jarah. Dan para Ahli Hadits tidak ada yang mempermasalahkan sedikitpun mengenai perawi tersebut. Sedangkan perawi yang lainnya semuanya berpredikat Tsiqat [jujur semua]).[2]

 

2) وَأَخْبَرَنَا أَبُوْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِيْ إِسْحَاقَ وَأَبُوْ بَكْرُ بْنُ الْحَسَنِ قَالاَ ثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوْبَ أَنْبَأَ الرَّبِيْعُ بْنُ سُلَيْمَانَ أَنْبَأَ الشَّافِعِيُّ أَنْبَأَ مَالِكُ عَنْ أَبِي الزُّبــَيْرِ قَالَ: “ثُمَّ أَتَى عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِنِكاَحٍ لَمْ يَشْهَدْ عَلَيْهِ إِلاَّ رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ, فَقَالَ: “هَذَا نِكَاحُ السِّر, وَلاَ أُجِيْزُهُ, وَلَوْ كُنْتُ تَقَدَّمْتُ فِيْهِ لَرَجَمْتُ.”

 

Kami mendapat kabar dari Abu Zakariya bin Abi Ishaq dan Abu Bakr bin al-Hasan, mereka berdua berkata: “Berbicara kepada kami Abu al-‘Abbas Muhammad bin Ya’kub; memberi kabar kepada kami al-Rabi’ bin Sualiman, al-Syafi’I, Malik; “Dari Abi al-Zubair, berkata: “lalu ‘Umar ra mendatangi pernikahan yang tidak didatangi kecuali oleh satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Lantas beliau berkata: “Ini adalah Nikah al-Sirr, aku tidak akan pernah mengizinkan Nikah al-Sirr. Andaikata aku datang terlebih dahulu dalam Nikah al-Sirr tersebut niscaya akan aku rajam mereka!”[3] (HR. Baihaqiy, Imam Malik dan Imam al-Syafi’iy).

 

3) حَدَّثَنَا سَعِيْدُ, قَال:َ حَدَّثَنَا هَشِيْمُ, قَالَ: حَدَّثَنَا يُوْنــُسُ عَنْ عُبَيْدَ, قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ: “أَنَّ رَجُلاً تَزَوَّجَ امْرَأَةً سِرًّا, فَكَانَ يَخْتَلِفُ إِلَيْهَا, فَرَآهُ جَارٌ لَهَا فَقَذَفَهُ بِهَا فَاسْتَعَدَّى عَلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ, فَقَال لَهُ عُمَرُ: “بَيَّنَتْكَ عَلىَ تَزْوِيْجِهَا؟” فَقَالَ: “ياَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ, كَانَ أَمَرَناَ دُوْنٌ فَأَشْهَدَتْ عَلَيْهَا أَهْلَهُا.” فَدَرًّا عُمَرُ الْحَدَّ عَنْ قَاذِفِهِ, وَقَالَ: “حَصِّنُوْا فُرُوْجَ هَذِهِ النِّسَاءِ وَأَعْلِنُوْا هَذَا النِّكَاحِ!” وَنــَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ. (628) حَدَّثـَنَا سَعِيْدُ, قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ عِيَاشِ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ, أَنــَّهُ سَمِعَهُ يَقُوْلُ: “إِنَّ نِكَاحَ السِّرِّ حَرَامٌ. (629)

 

 (628) Sa’id bercerita kepada kita, dia berkata: “Hasyim, berkata kepada kita”, dia berkata: “Yunus bercerita dari ‘Ubaid”, dia berkata: “al-Hasan bercerita kepada kami”: “Ada seorang pria yang menikahi wanita dengan cara Sirr, suatu saat pria tersebut berselisih paham dengan wanita itu, sedangkan tetangganya melihat pria tersebut bersama wanita tadi. Lantas Tetangganya menuduh pria tadi berzina dengan wanita tersebut. Maka ‘Umarpun bersiap-siap untuk menjatuhkan Had kepada penuduhnya. ‘Umar bertanya: “Apakah wanita itu meminta bukti atas pernikahannya?” Pria itupun menjawab: “Wahai Amir al-Mu’minin, sesungguhnya yang menyarankan kita untuk menikah ialah orang lain. Lantas Keluarganyapun menyaksikan wanita itu menikah denganku.” Setelah mendengar argumen pria tadi, maka ‘Umarpun tidak menjatuhkan Had kepada tetangga yang menuduhnya. dan beliau berkata: “Jagalah kalian semua akan kehormatan wanita ini, dan umumkanlah pernikahan ini.” Dan beliaupun melarang akan Nikah Mut’ah.” (629) Sa’id bercerita kepada kita, dia berkata: “Isma’il bin ‘Iyas bercerita, katanya hadits tersebut dari ‘Urwah dan ‘Urwah dari Ayahnya. Bahwasanya ‘Urwah pernah mendengar dari Rasul saw: “Sesungguhnya Nikah al-Sirr itu adalah Haram.”

 

B. PENDAPAT SAHABAT NABI DAN ‘ULAMA FIQH DAN FILSUF MUSLIM

Banyak para sahabat yang mengharamkan Nikah al-Sirr, antara lain: ‘Umar, ‘Urwah, ‘Abd Allah bin ‘Ubaid Allah bin ‘Utbah, A’-Sya’biy, Nafi’ Maula Ibn ‘Umar, Imam Abu Hanifah, Imam al-Syafi’iy, Imam al-Syaukaniy, Imam Ibn Hazm; seorang Filsuf besar Ibn Rusyd pun mengharamkannya, dan bahkan Abu Bakr ‘Abd al-‘Aziz mengatakan, bahwasanya Nikah al-Sirr itu perkara batil.[4]

 

C. PENDAPAT PENULIS

Saya berpendapat, bahwasanya tujuan dari Islam (Maqashid al-Syari’ah) ialah Kebaikan. Artinya selagi suatu perbuatan itu lebih banyak perkara baiknya dari pada perkara buruknya maka perkara tersebut adalah halal. Dan begitu pula sebaliknya, jika ada suatu perkara -meskipun terlihat seperti amalan akhirat- namun lebih banyak menimbulkan madharat maka hukumnya adalah haram.

Mungkin dalam melaksanakan Nikah al-Sirr bisa jadi niat seseorang tersebut adalah baik, namun niat baik saja tidak cukup, bila niat baik tersebut menimbulkan implikasi sosial yang parah. Sebagai contoh jika Nikah al-Sirr tersebut tidak disetujui oleh pihak suami tidaklah menjadi masalah asalkan pihak perempuan setuju. Namun jika Nikah al-Sirr tersebut tidak direstui oleh pihak wanita maka haram total hukumnya. Sebab walau bagaimanapun seorang wanita wajib taat (kecuali dalam masalah maksiat) pada orangtuanya hatta permasalahan nikah -secara syari’ah-. Karena jika pria tidak disetujui oleh orang tanya maka dia bisa mencari wali hakim dan lainnya. Namun jika pihak wanita tidak disetujui oleh keluarganya maka dia tidak bisa mencari wali hakim.

Lagi pula jika dilihat dari segi sosial, maka akan banyak timbul dosa-dosa sosial. Antara lain adalah bisa beurusan dengan polisi jika keluarga wanita mengadu -lantaran mengetahui bahwa si pria tersebut menikahi anak wanitanya tanpa izin- kepada polisi karena merasa anaknya “diculik”. Madharat yang lain adalah penghulu dan saksi Nikah al-Sirr tersebut bisa masuk penjara lantaran mendukung “penculikan” tersebut.

Dan yang paling parah adalah perasaan orangtua dan keluarga pihak pria (terlebih-lebih pihak wanitanya) akan merasa sakit hati, karena merasa sang anak tidak mau mendengarkan pendapat orangtuanya. Sehingga bisa jadi meraka akan saling benci satu sama lain, dan bisa jadi nantinya akan putus hubungan silaturrahim.

Dan dampak yang paling parah dari Nikah al-Sirr adalah terjadinya Fitnah di masyarakat. Artinya masyarakat akan menuduh yang tidak-tidak jika ada dua insan yang berbeda “jalan” bersamaan dengan mesranya dan terlebih lagi jika masuk ke rumah/kamar, maka masyarakat akan menuduhnya berbuat a susila, sehingga tidak menutup kemungkinan akan dihakimi masa, dan lagi-lagi bisa masuk penjara.

Kalau dari pihak pria tersebut jujur dan baik hati, kalau jahat? Maka yang dirugikan adalah pihak wanita. Dan pihak wanita tidak bisa menuntut ke pengadilan. Karena, jika nama mereka tidak ada di KUA maka negara tidak dapat berbuat apa-apa.

Apalagi dilihat dari mata pandang tashawuf. Jika seseorang lebih mementingkan pendapatnya sendiri dibandingkan dengan pendapat orangtuanya, maka anak tersebut bisa dikatakan anak yang tidak tahu terimakasih.

Initinya, Nikah al-Sirr adalah perbuatan Haram, dan tidak ada contohnya pada zaman Nabi. Bahkan banyak perkataan, perbuatan, dan isyarat nabi, sahabat, ulama, sufi, bahkan filsuf muslim yang mengharami perbuatan tersebut. Karena bisa menimbulkan dampak sosial.

Karena dosa sosial adalah dosa horizontal. Sedangkan dosa horizontal adalah lebih besar dari dosa vertikal. Jika dosa vertikal kita hanya cukup bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Namun jika dosa horizontal taubat saja tidak cukup, tapi dia harus menjalani konsekuensi logis dari dosa horizontal tersebut.

Jika Zina adalalah salah satu alasan seseorang Nikah al-Sirr, maka masih banyak alternatif lain untuk menjauhi zina, seperti: puasa, olah raga, dan menyalurkan bakat-bakat lainnya.

Jika rasa sayang dan cinta sedangkan ada salah satu atau bahkan kedua-duanya dari pihak orang tua/keluarga pria atau wanita tidak setuju, maka itu adalah kembali kepada diri sendiri. Apakah kita lebih menyayangi dan mencintai “orang lain” yang belum jelas suatu kebahagiaan akan bersama kita jika bersamanya, atau apakah kita lebih menyayangi orangtua/keluarga yang jelas-jelas telah membina, mendidik, menjaga, kita? Apabila sewaktu kecil kita menangis maka mereka rela bangun dan bahkan sampai bergadang untuk menemani kita, yang apabila kita kita menangis maka dengan rela ummi menyusui kita meskipun ummi sedang lelah? yang jika kita membutuhkan sesuatu maka bapaklah sang pangeran kita, yang memberikan segala kebutuhan sesuai dengan kemampuannya; yang apabila kita diperlakukan semena-mena maka abang/kakak kita akan membela kita? Yang jika kita sakit maka satu-satunya penolong kita bukanlah “oranglain tersebut”, tapi keluarga kita? Yang apabila mereka meninggal dunia maka yang dibutuhkan adalah doa seorang anak laki-laki yang saleh dan seorang anak wanita yang salehah? Namun apakah kita bisa disebut sebagai anak yang saleh/salehah dengan “menolak” berbakti kepada mereka? Bertaubatlah kita semua sebelum terlambat.

Berhubung Nikah al-Sirr ini adalah haram, maka yang menjadi saksi dan penghulu pada Nikah al-Sir juga haram hukumnya. Apalagi jika pihak saksi adalah bukan orang yang mengerti benar akan agama, maka haram total. Beda halnya jika sang saksi tidak mengetahui, atau dalam intimidasi seseorang untuk menjadi saksi maka hal tersebut dimaafkan. Dan untuk kebaikan pihak pria dan wanita, maka Nikah al-Sirr tersebut harus di beberkan kepada pihak yang berkaitan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan membeberkan perkara tersebut merupakan kebaikan yang insya Allah mendapatkan ganjaran setimpal dari Allah swt.

Karena harus dibedakan mana Amanah yang baik dan mana Amanah yang buruk. Amanah yang baik adalah amanah pada hal-hal yan gbukan maksiat. Berhubung Nikah al-Sirr adalah haram maka melakukan- nyapun menjadi haram dan maksiat. Dan perkara maksiat tidak boleh dijadikan amanah. Dan jika menjadi amanah maka ini adalah amanah yang buruk dan wajib tidak ditaati.

Dan jika anda bingung akan suatu perkara apakah itu halal atau haram, maka meskipun anda telah bertanya pada banyak orang akan tetapi tanyalah pada akal sehat anda dan hati nurani yang paling dalam, apakah benar perkara itu halal?! Karena Allah adalah cahaya dan cahya itu hanya masuk pada orang yang bercahaya. Maka carilah cahaya kebenaran itu dengan sungguh-sungguh. Semoga kita diselamatkan dari kesesatan. Meskipun kesesatan itu berwajah syariat.

 

BIBLIOGRAFI

al-Andalusy, ‘Ali bin Ahmad bin Hazm Abu Muhammad, Al-Ihkam Li Ibn Hazm,Cairo: Dar al-Hadits, cet. I, 1404 H.

al-Ashbahiy, Malik bin Anas Abu ‘Abd Allah, Muwaththa’ Malik, Mesir: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabiy, cet. —, t.t.

al-Baihaqiy, Ahmad bin ‘Ali bin Musa Abu Bakr, Sunan al-Baihaqiy al-Kubra, Makkah al-Mukarramah: Maktabah Dar al-Bazz, cet. —, 1414 H/1994 M.

al-Haitsamiy, ‘Ali bin Abi Bakr, Majma’ al-Zawaid Wa Manba’ al-Fawa’id,Cairo: Dar al-Rayyan al-Turats, cet. —, 1407 H.

al-Khurasaniy, Abu ‘Utsman Sa’id bin Manshur, Kitab al-Sunan,India: Dar al-Salafiyyah, cet. I, 1982 M.

al-Muqaddasiy, ‘Abd Allah bin Ahmad bin Qudamah Abu Muhammad, Al-Mughniy,Beirut: Dar el-Fikr, cet. I, 1405 H.

al-Qurthubiy, Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh Abu ‘Abd Allah, Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubiy),Cairo: Dar al-Sya’b, cet. II, 1372 H.

al-Qurthubiy, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Abu al-Waliyd, Bidayah al-Mujtahid,Beirut: Dar al-Fikr, cet. —, t.t.

al-Syafi’iy, Muhammad bin Idris Abu ‘Abd Allah, Al-Um,Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. II, 1393 H.

al-Syafi’iy, Muhammad bin Idris Abu ‘Abd Allah, Musnad al-Syafi’I,Beirut: Dar Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. —, t.t.

al-Syaukaniy, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad, Nail al-Authar,Beirut: Dar al-Jayl, cet. —, 1973.

———-0O0———

END NOTE


[1] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Qurthubiy Abu ‘Abd Allah, Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubiy),Cairo: Dar al-Sya’b, cet. II, 1372 H, jld. V, h. 127.

[2] ‘Ali bin Abi Bakr al-Haitsamiy, Majma’ al-Zawaid Wa Manba’ al-Fawa’id,Cairo: Dar al-Rayyan al-Turats, cet. —, 1407 H, jld. IV, h. 285.

[3] Lihat:

  1. Ahmad bin ‘Ali bin Musa Abu Bakr al-Baihaqiy, Sunan al-Baihaqiy al-Kubra, Makkah al-Mukarramah: Maktabah Dar al-Bazz, cet. —, 1414 H/1994 M, jld. VII, h. 126.
  2. Muhammad bin Idris Abu ‘Abd Allah al-Syafi’iy, Musnad al-Syafi’iy,Beirut: Dar Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. —, t.t., jld. I, h. 291.
  3. Malik bin Anas Abu ‘Abd Allah al-Ashbahiy, Muwaththa’ Malik, Mesir: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabiy, cet. —, t.t., jld. II, h. 535.

[4] Baca:

  1. ‘Abd Allah bin Ahmad bin Qudamah al-Muqaddasiy Abu Muhammad, Al-Mughniy,Beirut: Dar el-Fikr, cet. I, 1405 H, jld. VII, h. 63.
  2. Muhammad bin Idris al-Syafi’iy Abu ‘Abd Allah, Al-Um,Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. II, 1393 H, jld. VII, h. 235.
  3. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd al-Qurthubiy Abu al-Waliyd, Bidayah al-Mujtahid,Beirut: Dar al-Fikr, cet. —, t.t., jld. II, h. 13.
  4. Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad al-Syaukaniy, Nail al-Authar,Beirut: Dar al-Jayl, cet. —, 1973, jld. VI, h. 259.
  5. ‘Ali bin Ahmad bin Hazm al-Andalusy Abu Muhammad, Al-Ihkam Li Ibn Hazm,Cairo: Dar al-Hadits, cet. I, 1404 H, jld. II, h. 231.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 1 Maret 2010, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: