Ghadhdhul Bashar (Menahan Pandangan)


A. DEFINISI GHADHDHUL BASHAR

Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadhdhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau menundukkan pandangan.[1] Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan haknya (aurat orang lain atau yang bukan aurat akan tetapi dapat menjdikan kita membayangi aurat tersebut) lalu ia tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya.[2] Dengan kata lain menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya.[3] 

 

B. DALIL GHADHDHUL BASHAR

1.Al-Quran

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30-31).

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata min dalam min absharihim maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja. Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).[4]

Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.

 

2. Hadits Rasulullah saw:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي. رواه مسلم

“Dari Jarir bin Abdillah ra berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya.” (HR. Muslim).

Maksudnya jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ. رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي

“Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).

يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ. رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني

“Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berukutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani).

الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ. متفق عليه

“Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang.” (Muttafaq ‘alaih).

 

C. PENYEBAB MENGUMBAR PANDANGAN

Diantara faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengumbar pandangannya adalah:

  1. Mengikuti hawa nafsu dan ajakan syaithan
  2. Jahil (tidak tahu) terhadap akibat negatif mengumbar pandangan, diantaranya bahwa mengumbar pandangan itu penyebab utama zina.
  3. Hanya mengandalkan dan mengingat ampunan Allah swt dan lupa terhadap ancaman siksa-Nya.
  4. Melihat atau menyaksikan media yang porno atau berbau pornografi baik cetak, elektronik, atau internet.
  5. Tidak menikah atau menunda pernikahan bagi mereka yang sebenarnya telah siap untuk menikah.
  6. Sering berada di tempat-tempat bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan, seperti pasar atau mall.
  7. Merasakan kelezatan semu ketika memandang yang haram sebagai akibat dari lemahnya iman dan tidak hadirnya keagungan Allah swt dalam hatinya. Karena orang yang merasakan keagungan-Nya pasti akan bersedih kalau berbuat maksiat kepada-Nya.
  8. Godaan dari lawan jenis berupa pakaian yang membuka aurat, ucapan, atau gerakan tubuh yang menarik perhatian.

 

D. AKIBAT NEGATIF MEMANDANG YANG HARAM

1.RUSAKNYA HATI (AL-QALB)

Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Seorang penyair berkata:

لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ وَكُنْتَ إِذَا أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا

عَلَيْهِ وَلاَ عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ

Kau ingin puaskan hatimu dengan mengumbar pandanganmu
Suatu saat pandangan itu pasti kan menyusahkanmu
Engkau tak kan tahan melihat semuanya
Bahkan terhadap sebagiannya pun kesabaranmu tak berdaya

Atau seperti percikan api yang membakar daun atau ranting kering lalu membesar dan membakar semuanya:

وَمُعْظَمُ النَّارِ مِنْ مُسْتَصْغَرِ الشَّرَرِ كُلُّ الحَوَادِثِ مَبْدَؤُهَا النَّظَرُ

Segala peristiwa bermula dari pandangan,
dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil.

 

2.KEMUNGKINAN BESAR TERJERUMUS ZINA

Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina). Penyair berkata:

فَكَلاَمٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلاَمٌ

Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..
Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.

 

3.LUPA ILMU

Ilmu adalah cahaya Allah di bumi, dan cahaya tersebut akan masuk pada hati yang bercahaya pula. Mungkin ada sebagian kita bertanya, orang non Islam atau munafik banyak yang berilmu meskipun mereka bermaksiat yang tertinggi (musyrik)? jawabnya adalah: ini masalah keberkahan. Betapa banyak ilmu yang dihasilkan pemaksiat dan non Islam tidaklah berkah, berkah di sini artinya mendapatkan ridha Ilahi dan menghasilkan pahala untuk selama2nya atas usaha keilmuan kita yang bermanfaat. JIka ilmu dunia yang kita hasilkan tidaklah berkah lantaran kita bermaksiat apalagi ilmu agama yang jelas2 cahaya yang terang benderang, sangatlah logis apabila cahaya tersebut pudar dan akhirnya hilang selama2nya dari hati seorang insan yang bermaksiat.

 

4.TURUNNYA BALA’

Amr bin Murrah berkata: “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Ku harap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”

 

5.MERUSAK SEBAGIAN AMAL

Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya berarti ia telah membatalkan puasanya.”

 

6.MENAMBAH LALAI TERHADAP IBADAH

Seorang hamba yang telah bermaksiat terhadap Allah dengan mengobral matanya pada lawan jenis yang bukan haknya, maka ibarat pasukan tentara yang meyerang musuh yang bukan musuhnya. Tentunya akan menjadi sia2 serangan tentara tersebut yang telah mengeluarkan banyak energi dan amunisi, ternyata musuh yang diserang adalah bukan musuhnya. Begitu pula mata yang memandang lawan jenis yang bukan haknya. Hanyalah kesia2an semata yang mengeluarkan energi yang bukan pada tempatnya. Yang semestinya energi tersebut bisa disimpan kelak ketika berumah tangga. Aduhai betapa nikmatnya mata yang bisa menahan syahwat dan melelehkan airmata untuk mengharapkan ampunan Allah ta’ala daripada hanya sekedar melihat lawan jenis yang bukan haknya.

 

E.RENDAHNYA PANDANGAN MATA YANG TIDAK PADA TEMPATNYA DALAM SYARIAT ISLAM

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَوِ اطَّلَعَ أَحَدٌ فِي بَيْتِكَ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ جُنَاحٌ. متفق عليه

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah saw sangatlah tegas dalam menghukumi mata yang memandang tidak pada tempatnya. Hal ini meninmbang efek dan bias yang akan terjadi setelah melakukannya.

 

F. MANFAAT MENAHAN PANDANGAN

Diantara manfaat menahan pandangan adalah:

  1. Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.
  2. Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang mengumbar pandangannya.
  3. Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya karena hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi.

Imam Syafi’i berkata:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِـلْمَ نُـوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْـدَي لِعَاصِي

Kuadukan kepada Waki’, guruku, tentang buruknya hafalan
Arahannya: “Tinggalkanlah ma’siat.”
Diberitahukannya bahwa ilmu itu cahaya,
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku ma’siat.

4. Mempertajam firasat dan prediksi

Syuja’ Al-Karmani berkata:

مَنْ عَمَرَ ظَاهِرَهُ بِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، وَبَاطِنَهُ بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَكَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَأَكَلَ مِنَ الْحَلاَلِ- لَمْ تُخْطِئْ فِرَاسَتُهُ.

“Siapa yang menyuburkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal maka firasatnya tidak akan salah.”

5. Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (cinta Allah swt).
Al-Hasan bin Mujahid berkata:

غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.

Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah swt akan mewarisi cinta Allah.

 

G. HAL YANG BISA MENJADIKAN KITA KUAT MENAHAN PANDANGAN

Diantara faktor yang membuat seseorang mampu menahan pandangannya adalah:

  1. Hadirnya pengawasan Allah dan rasa takut akan siksaNya di dalam hati.
  2. Menjauhi diri dari semua penyebab mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.
  3. Meyakini semua bahaya mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.
  4. Meyakini manfaat menahan pandangan.
  5. Melaksanakan pesan Rasulullah saw untuk segera memalingkan pandangan ketika melihat yang haram.
  6. Memperbanyak puasa.
  7. Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (pernikahan).
  8. Bergaul dengan orang-orang shalih dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab dengan orang-orang yang rusak akhlaknya.
  9. Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.

 

H. KONKLUSI DAN PENUTUP

Dalam Islam ada dua perkara yang menjadikan seseorang itu dipandang serius dalam menjalanan perintah Allah atau tidak:

  1. Niat, dan;
  2. Kesungguhan

Ada sebagian orang yang tidak bisa melepas kebiasaannya untuk mengumbar mata liarnya, kebiasaan maksiatnya, dan seterusnya karena dia tidak mempunyai niat, ataupun ada niat tapi dia tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Maka dua partikel inilah yang menjadikan kita dipandang oleh Allah dan makhluk-Nya di bumi ini, baik dalam masalah ibadah maupun masalah lainnya.

Insya Allah dengan 9 hal tersebut apabila kita melaksanakannya dengan niat dan kesungguhan, maka busur setan (istilah para ulama untuk mata yang liar) akan bisa dikendalikan dan bisa dilontarkan pada sasaran yang memang haknya, dan pada saatnya nanti sesuatu yang berdosa akan menjadi berpahala dan bernilai jihad fi sabilillah apabila janur kuning melengkung di depan rumah kita (MENIKAH). Duhai indahnya permata intan dan berilan surga, berhiaskan dipan-dipan yang terbuat dari emas dan mutiara yang semuanya disiapkan kelak bagi hamba-Nya yang sanggup menahan pandangan dari yang bukan haknya. Semoga Allah membantu kita untuk melaksanakannya. Amin

———-0O0———-

FOOT NOTE
——————

[1] Tajul ‘Arus 1/4685, dan Maqayisul Lughah 4/306.
[2] Yusuf Al-Qaradhawi, Halal & Haram, hlm 171.
[3] Tafsir At-Thabari 19/154, Ibnu Katsir 6/41.
[4] Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, Al-Qurthubi, 1/3918.

——————-

BIBLIOGRAFI
———————
Abi al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Maqayiis al-Lughah, Egypt: Ittihad al-Kitab al-‘Arab, 1423 H/2002 M.

Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amiliy, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qir’an (Tafsir Thabari), Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1420 H/2000 M.

Abu al-Fada’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), Beirut: Dar al-Thaybah, t.t.

Muhammad bin Muhammab bin ‘Abd al-Razzaq al-Husainiy (Abu al-Faydh), Taj al-‘Arusy Min Jawahir al-Qamus, Beirut: Dar Ihya’ el-Turath, 1965 M.

Disarikan dari:

Materi Tamhidi Madah Tazkiyah dengan penyempurnaan Referensi Kitab Kuning dari Penulis

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 30 April 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: