TAUBAT


TAUBAT

By: Apriansyah Bintang, S.Pd.I[1]

 

A. DEFINISI TAUBAT

Taubat secara etimologi adalah musytaq dari kata Taabaa  ( تَوَّبَ / تَابَ ) yang bermakna kembali.[2] Sedangkan secara etimologi menurut syaikh syams al-Din al-Juzairi[3] taubat adalah:

الندمُ عَلىَ مَا فَرَطَ مِنْهُ فِي الْمَاضِيْ، وَالْعَزْمُ عَلَى اْلإِمْتِنَاعِ عَنْهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ

“Penyesalan atas ketergelinciran di masa lalu dan berkeinginan untuk mencegah terulangi hal itu pada masa yang akan datang.”

Sedangkan menurut Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin[4] definisi taubat adalah:

التَّوْبَةُ هِيَ الرُّجُوْعُ مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ تَعَالَى إِلَى طَاعَتِهِ .

  1. التَّوْبَةُ : مَحْبُوْبَةُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ :  إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ  .
  2. التَّوْبَةُ : وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ :  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا .
  3. التَّوْبَةُ : مِنْ أَسْبَابِ الْفَلاَحِ : وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. وَالْفَلاَحُ : أَنْ يَحْصُلَ لِلْإِنْسَانِ مَطْلُوْبُهُ وَيَنْجُوَ مِنْ مَرْهُوْبِهِ.
  4. التَّوْبَةُ النَّصُوْحُ : يَغْفِرُ اللهُ بِهَا الذُّنُوْبَ كَمَا عَظِمَتْ وَمَهْمَا كَثُرَتْ :  قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

 

Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya.”

  1. Taubat itu disukai oleh Allah swt, (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri) [Al-Baqarah: 222].
  2. Taubat itu wajib atas setiap mukmin, (Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya) [At-Tahrim: 8].
  3. Taubat itu salah satu faktor keberuntungan, (Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung) [An-Nur: 31].Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.
  4. Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53).

Penulis menyimpulkan dari dua terminologi diatas, bahwasanya taubat adalah suatu keadaan manusia yang sadar dan mengakui telah tergelincir dalam kesalahan dan/atau kemaksiatan, dan memproklamirkan dalam hati bahwa dia tidak akan mengulanginya kembali di masa yang akan datang, serta berusaha sekuat tenaga ketergelincirannya itu dengan ketaatan kepada Allah swt.

 

B. TAUBAT SELAYANG PANDANG

Taubat disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 81 kali dalam berbagai bentuk kata dan konteks. Namun dari sekian banyak ayat tersebut bisa dipastikan bahwasanya taubat merupakan perkara yang sangat urgen yang menentukan tempatnya kelak di akhirat sana.

Dalam QS. Al-Baqarah: 222 disebutkan bahwasanya Allah sangat menyukai taubat manusia -suka tanpa kebutuhan tentunya-; dan taubat tersebut diiringi dengan kata mensucikan diri. Penulis mendapatkan kesan pertama dari ayat ini bahwa Allah sangat menginginkan umatnya bertaubat, akan tetapi tidak cukup bertaubat dan harus diiringi dengan perbuatan yang suci yang menghilangkan “kotoran” dosa. Karena taubat artinya menyadari bahwa dia telah melakukan pekerjaan “kotor” dan tentunya kotoran tersebut harus dibersihkan, oleh sebab itu perkara taubat betul-betul harus dicamkan di dalam hati dan beritikad tidak akan mengulangi lagi dan menghilangkan “kotoran” tadi dengan berbuat amal saleh.

Rasulullah yang Allah sudah jamin tempatnya di dalam surga pun sangat menyukai taubat, beliau sering beristighfar dan meminta ampun kepada Allah swt dalam sehari tidak kurang dari 70 kali[5] sehingga dijuluki oleh para sahabat dengan julukan “nabi sang pemohon taubat/ampunan,”[6] bahkan pernah pada suatu saat kaki beliau yang mulia bengkak lantaran lamanya shalat memohon ampun kepada Allah pada shalat malam dalam rangka bersyukur kepada Allah.[7]

Pada suatu saat, nabi Muhammad saw pernah menceritakan kepada para sahabat tentang suatu kisah perjalanan taubat seseorang pemaksiat pada zaman nabi-nabi sebelum beliau, yakni:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ.

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar -dan lafadh ini miliki Ibnul Mutsanna- mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku bapakku dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq dari Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ‘ Orang alim itu menjawab; ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat Azab membantah; ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.’ Qatadah berkata; ‘Al Hasan berkata; ‘Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup.”[8]

 

            Dari berbagai kisah dalam hadits diatas dapat penulis mengambil kesimpulan bahwa betapa taubat merupakan perkara yang sangat di cintai Allah, tidak perduli latar belakang orang yang bertaubat tersebut apakah seorang nabi atau pembunuh sekalipun, adalah Allah mencintai orang-orang yang bertaubat seekstrem apapun dosanya, kecuali menyekutukan Allah (syirik),[9] akan tetapi syirik inipun tetap bisa diampuni apabila si empunya dosa betul-betul menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.[10] Inilah yang disebut dengan taubat nasuha.

 

C. SUBJEK PEMOHON TAUBAT

            Taubat diwajibkan untuk seluruh manusia,[11] karena pada hakikatnya seluruh manusia itu adalah berdosa dan oleh sebab itulah kewajiban bertaubat ini lekat pula pada seluruh manusia. Nabi muhammad bersabda dalam suatu kesempatan:[12]

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas’adah Al Bahili telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak cucu Adam itu melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat.”

 

Betapa pentingnya taubat ini dilakukan oleh semua orang sampai-sampai Rasulullah mengkiaskan orang yang melakukan maksiat dan enggan bertaubat kepada Allah swt ibarat seseorang yang hatinya ditutupi bintik hitam yang lama-kelamaan akan menutupi hatinya dan butalah ia terhadap kebenaran. Rasulullah bersabda:

 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَعِيلَ وَالْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ [كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ]

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il dan Walid bin Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya, jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun naka hatinya akan kembali putih, namun jika ia menambah (dosanya) maka akan bertambah (titik hitam), maka itulah penutup (hati) yang di sebutkan dalam firman Allah dalam kitab-Nya; “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS Al Muthafifin; 14).

 

D. TAUBAT NASUHA

Penulis pernah mendengar seseorang yang -menurutnya- sangat banyak berbuat maksiat sangat sungkan untuk datang shalat memenuhi perintah Allah swt, atau masih memiliki keraguan terhadap kasih sayang Allah terhadapnya; orang tadi beralasan apakah Allah swt akan menerima taubatnya, sedangkan dosanya teramat banyak? Penulis memahami mengapa orang tadi berfikir demikian, karena pola berfikir itu terjadi tidak lepas dari pola pengasuhan orangtua, pendidikan, lingkungan dan seserusnya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan murka Allah swt dikalahkan dengan rasa kasih sayang-Nya yang Maha Luas, antara lain adalah dengan bertaubat. Namun taubat inipun tidak sembarang taubat, sebab taubat yang bisa diterima disisi Allah swt harus memenuhi beberapa syarat, antara lain: ikhlas, menyesal, meninggalkan, bertekat dan pada waktunya.

D.1. Ikhlas

Ikhlas di sini artinya menjalankan taubat tersebut betul-betul mengharapkan “wajah” Allah untuk mendapatkan pahala-Nya dan dijauhi dari siksa-Nya, dan tidak ada motif lain dibaliknya.

D.2. Menyesal

Maksudnya adalah menyesali ketergelincirannya dengan sebenar-benarnya dan berangan-angan jika saja ketergelinciran itu tidak pernah terjadi.

D.3. Meninggalkan

Artinya orang yang hendak betaubat berkewajiban untuk meninggalkan segala ketergelinciran yang telah dilakukannya tanpa kecuali.

D.4. Bertekat

Harus ada tekat kuat dalam diri seseorang yang bertaubat untuk tidak mengulangi kembali segala ketergelinciran yang telah dilakukannya pada masa yang akan datang.

D.5. Pada waktunya

Ikhlas, menyesali, meninggalkan ketergelinciran dan bertekat tidak akan mengulanginya kembali tidaklah akan berguna apabila taubat dilakukan tidak tepat pada waktunya. Waktu bagi orang yang bertaubat dibatasi oleh Allah swt sampai ajal menjemput, tepatnya ketika nyawa sampai batas kerongkongan.[13] Pada saat ini tidaklah berguna taubat seorang hamba kepada Tuhannya, dan hanyalah penyesalan yang tersisa.

Dalam sebuah Hadits[14] disebutkan suatu riwayat:

حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْبَيْلَمَانِيِّ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَابَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِيَوْمٍ قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ قَالَ فَحَدَّثَهُ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آخَرَ بِهَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْهُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَابَ إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِنِصْفِ يَوْمٍ قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ قَالَ فَحَدَّثَنِيهَا رَجُلٌ آخَرُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَابَ إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِضَحْوَةٍ قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ قَالَ فَحَدَّثَهُ رَجُلًا آخَرَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ يُغَرْغِرَ نَفَسُهُ قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ.

Telah menceritakan kepada kami Asbath dari Hisyam bin Sa’ad dari Zaid bin Aslam dari ‘Abdur Rahman binAl Bailamani dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Barangsiapa bertaubat kepada Allah AzzaWaJalla sehari sebelum meninggal dunia, Allah menerima taubatnya.” Kemudian ia menceritakannya pada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya, sahabat itu bertanya: “Kau mendengar (hadits) ini dari beliau?” Ia menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Maka aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bertaubat kepada Allah setengah hari sebelum meninggal dunia, Allah menerima taubatnya.” “Kemudian sahabat lain menceritakannya padaku, ia bertanya: “Kau mendengar (hadits) ini?” Ia menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Barangsiapa bertaubat kepada Allah sesaat sebelum meninggal dunia, Allah menerima taubatnya.” Kemudian sahabat itu menceritakannya pada sahabat lain, ia bertanya: “Kau mendengar (hadits) ini dari beliau?” Ia menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Maka aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bertaubat kepada Allah sebelum nafas sampai kerongkongan, Allah menerima taubatnya.”

Hadits di atas menceritakan tentang seorang pemaksiat yang membunuh manusia sebanyak 100, jumlah yang teramat banyak, namun jumlah dosa orang tersebut masih kalah dengan luasnya ampunan serta rahmat-Nya. Jadi statemen sebagian orang yang mengatakan bahwa Allah swt tidak mungkin mengampuni seorang hamba lantaran dia terlalu nista adalah anggapan pencari-cari alasan, pemalas dan/atau frustasi dan sangat tidak tepat, sudah selayaknya kita memperbaiki sikap dan pemikiran kita dari hal-hal seperti itu. Meski demikian, taubatnya seseorang itu tidaklah akan bertahan lama apabila tidak punya keinginan yang sangat kuat di dalam hatinya.

 

E. KONKLUSI

Dari pemaparan penulis di atas dapat disimpulkan bahwasanya setiap umat Islam diwajibkan untuk bertaubat kepada Allah swt tanpa kecuali, dosa sebesar apapun akan diampuni oleh Allah jika kita melakukannya dengan ikhlas, menyesalinya, meninggalkannya, bertekat tidak mengulanginya dan bertaubat pada waktunya. Insya Allah.

 

F. PENUTUP

            Makalah ini dibuat untuk seorang sahabat dekat yang bertanya kepada penulis tentang cara bertaubat yang benar dan bagaimana agar taubat kita diterima. Kritik yang membangun sangatlah penulis harapkan. Wallahu A’lam.

 

END NOTE:


[1] Penulis lahir di Jakarta 25 April 1981, lulus strata satu UIN Jakarta tahun 2004 jurusan Pendidikan Agama Islam dan mengajar di tingkat Universitas Gajah Putih Aceh Tengah tahun 2005, dan tingkat sekolah dan/atau  pesantren dan di Aceh tahun 2004-2008, di Jakarta tahun 2008, dan di SMA Islam Al-Azhar Bekasi 4 Kemang Pratama sebagai guru Bahasa Arab dan al-Qur’an tahun 2008 sampai sekarang.

[2] Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Abd al-Qadir al-Raziy, Mukhtar al-Shihah, Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 1415 H/1995 M, cet. I, vol. I, h. 33.

[3] Al-Kasymiriy, Faydh al-Bariy Syarh al-Bukhariy, Lebanon: Maktabah al-Misykah al-Islamiyyah, t.t., vol. VII, h. 207.

[4] Muhammad bin Shalih al-‘Utsaiymin, Min al-Ahkam al-Fiqhiyyah fi al-Thaharah wa al-Shalah wa al-Jana’iz, Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Sa’udiyyah: Wizarah al-Syu’un al-Islamiyyah wa al-Awqaf wa al-Da’wah wa al-Irsyad, 1420 H, cet. I, vol. I, h. 41.

[5] [1] Hadits Bukhari nomor 5948: Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abd Allah al-Bukhari al-Ja’fi, Shahih Bukhari, Beirut: Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1407 H/1987 M, cet. II, vol. V, h. 2324.

[2] Hadits Ibnu Hibban nomor 924: Muhammad bin Hubban bin Ahmad Abu Hatim al-Tamimi al-Basati, Shahih Ibn Hibban, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1414 H/1993 M, cet. II, vol. III, h. 204.

[3] Hadits Turmudzi nomor 3259: Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa al-Turmudzi al-Salmi, Sunan al-Turmudzi, Beirut: Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi, t.t., vol. V, h. 383.

[4] Hadits Nasa’i nomor 10266: Ahmad bin Syu’aib Abu ‘Abd al-Rahman al-Nasa’i, al-Sunan al-Kubra, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H/1991 M, cet. I, vol. VI, h. 114.

[5] Hadits Ibnu Majah nomor 3816: Muhammad bin Yazid Abu ‘Abd Allah al-Quzwaini, Sunan Ibn Majah, Beirut: Dar el-Fikr, t.t., vol. II, h. 1254.

[6] Hadits Thabrani nomor 2877: Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath, Cairo: Dar el-Haramain, 1415 H, cet. -, vol. III, h. 186.

[7] Hadits Ahmad bin Hanbal nomor 7780: Ahmad bin Hanbal Abu ‘Abd Allah al-Syaibani, Musnad Ahmad, Egypt: Mu’assasah Cordoba, t.t., vol. II, h. 282.

[6] Hadits Muslim ke 1660: Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Nisaiburi, Shahih Muslim, Beirut: Dar Ehya’ el Turath, t.t., vol. III, h. 1282.

[7] [1] HR Bukhari nomor 1077: Op.Cit., vol. I, h. 380; [2] HR Ahmad bin Hanbal, Op.Cit., vol. IV, h. 255; [3] HR Thabrani nomor 2154, Op.Cit., vol. II, h. 336; HR. Ibnu Khuzaimah nomor 1184: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah Abu Bakr al-Salmi al-Naisaburi, Shahih Ibn Hibban, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1390 H/1970 M, cet.-, vol. II, h. 201.

[8] [1] HR Muslim nomor 2766: Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Loc.Cit, vol. VI, h. 2118; [2] HR Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban, Loc.Cit, vol. III, h. 221.

[9] QS. An-Nisa: 48 dan 116.

[10] [1] QS. Al-Baqarah: 284; [2] Ali ‘Imran: 135; [3] Al-Ma’idah: 18; [4] Al-Anfal: 38, [5] Az-Zumar: 53, dan seterusnya.

[11] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Qurthubi Abu ‘Abd Allah, Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Cairo: Dar el-Sya’b, 1372 H, cet. II, vol. V, h. 90.

[12] [1] HR Turmudzi nomor 2499: HR Turmudzi nomor 3537: Muhammad bin, Sunan al-Turmudzi, Loc.Cit, vol. IV, h. 659; [2] HR Ibnu Majah nomor 4251: Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Loc.Cit, vol. II, h. 1420; [3] HR Ahmad nomor 13072: Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Loc.Cit, vol. III, h. 198; [4] HR Al-Darimi nomor 2727: ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman Abu Muhammad al-Darimi, Sunan al-Darimi, Beirut: Dar el-Kitab el-‘Arabi, 1407 H, cet. I, vol. II, h. 392.

[13] [1] QS Al-Qiyamah: 26; [2] Al-Waqi’ah: 83. Para mufassirin menerangkan tentang ayat-ayat tersebut tentang larangan bakhil dan sombong, serta untuk bersedekah sebelum maut menjemput. Lihat: Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi Abu al-Fada’, Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar el-Fikr, 1401 H, cet.-, vol. III, h. 582. Dan lain-lain.

[14] [1] HR Turmudzi nomor 3537: Muhammad bin, Sunan al-Turmudzi, Loc.Cit, vol. V, h. 547; [2] HR Ibnu Majah nomor 4253: Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Loc.Cit, vol. II, h. 1420; [3] HR Ahmad nomor 6408: Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Loc.Cit, vol. II, h. 153.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 30 April 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: