PESAN IMAM MAZHAB AGAR JANGAN FANATIK BUTA


Terkadang kita melihat ada satu masyarakat yang fanatik buta dengan mazhabnya dan mengakibatkan pertengkaran yang sangat dan menyebabkan takfir (saling mengkafirkan). Padahal hanya bukan permasalahan prinsip (aqidah/ushul) dan yang dipertengkarkan adalah masalah khilafiyah (furu’) yang bukan prinsip.

Hanya karena dia qunut atau tidak qunut bisa dikatakan bukan ahlussunnah dan dikafirkan, hanya karena tidak talqin mereka di takfirkan. Mereka berargumentasi hal ini adalah pendapat yang benar dari Syekhnya. Padahal Imam-imam Mazhab besar sekaliber Imam Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, dll sangat jelas membenci perbuatan taqlid buta (fanatik buta) terhadap mazhab. Berikut adalah petikan qaul mereka yang sangat masyhur……

1. Abu Hanifah rahimahullah

Imam mazhab yg pertama adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Beliau selalu berkata kepada para muridnya untuk selalu berpegang pada Hadits Nabi saw dan meninggalkan sikap membeo pendapat2 para imam bila bertentangan dengan Hadits Nabi saw. Beberapa ucapan beliau:

a. “Jika suatu Hadits shahih, itulah mazhabku.”(Ibn ‘abidin dlm kitab Al-hasyiyah (I/63) dan Kitab Rasmul Mufti (I/4) dari kumpulan2 tulisan ibnu abidin).

b. “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tdk tahu darimana kami mengambil sumbernya.”(Ibnu Abdul Barr dlm kitab Al-Intiqa fi Fadhail Ats-Tsalasa Al-Aimma Al Fuqaa hlm.145, Ibnul Qayyim dlm kitab I’lamul Muwaqqi’in (II/309), dst..)

Pada riwayat lain ditambahkan: “Kami hanyalah manusia. Hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya”.

Imam ini berkata demikian krn beliau seringkali mendasarkan pendapatnya pada qiyas. Jika telah sampai kepadanya Hadits nabi, lalu ia ambil Hadits tsb, lalu dia meninggalkan pendapatnya yg terdahulu.

Sya’rani dlm Kitab Al-Mizan (I/62) berkata: “Keyakinan kami dan keyakinan semua orang yg arif tentang Imam Abu hanifah ialah jika ia msh hidup sampai masa pembukuan Hadits, niscaya beliau akan berpegang pada Hadits2 dan meninggalkan qiyas yg dahulu digunakannya. Penggunaan qiyas pada mazhab ini lebih banyak dari mazab lainnya karena terpaksa, sebab tdk ada nash tentang masalah2 yg beliau tetapkan berdasarkan qiyas, krn pada masanya dalil2 Hadits ada pada para pengikutnya yg terpencar-pencar di berbagai pelosok negeri islam.”

2. Malik bin Anas

Imam malik menyatakan:
a. “Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh krn itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dgn Alquran dan sunnah, ambilah. Dan bila tidak sesuai dgn alquran dan sunnah, tinggalkanlah” (Ibnu Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dlm kitabnya Ushul Al-akam (VI/149)).

b. “Siapapun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya nabi saw sendiri.” (Ibnu Abdul Hadi dlm kitabnya Irsyad As-Salik (I/227).

c. Ibnu Wahab berkata:”Saya pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan org tentang menyela jari2 kaki dlm wudhu, jawabnya: ‘Hal itu bukan urusan manusia.’ Lalu saya tinggalkan beliau sampai org2 yg mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian saya berkata padanya: ‘Kita mempunyai Hadits tentang hal itu’. Dia bertanya:’Bagaimana Hadits itu?’ Saya menjawab: ‘Laits bin Sa’ad, ibnu Lahi’ah, ‘Amr bin Harits meriwayatkan kepada kami dari Yazid bin Amr al-Mu’afiri, dari Abdurrahman Al-Habali, dari Mustaurid bin Syaddad Al-Quraisyiyyi, ujarnya: ‘Saya melihat Rasulullah saw menggosokan jari manisnya pada celah2 jari2 kakinya.’ Kemudian Malik menyahut: ‘Hadits ini hasan, saya tdk mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini.’ Kemudian di lain waktu saya mendengan dia ditanya tentang hal yg sama, lalu beliau menyuruh org itu utk menyela jari2 kakikanya.” (Baihaqi dlm Sunan-nya (I/81)).

3. Syafi’i

Riwayat2 yg dinukil org dari imam Syafi’i dlm masalah ini lebi banyak dan lebi bagus. Ibnu Hazm berkata dlm kitabnya (VI/118): “Para ali fiqh yg ditaklidi telah mengangap batal taqlid itu sendiri. Mereka melarang para pengikutnya utk taqlid kpd mereka. Org yg plg keras dlm melarang taqlid ini adalah Imam Syafi’i. Beliau degn keras menegaskan agar org mengikuti Hadits2 shahih dan berpegan pada ketetapan2 yg digariskan dlm hujjah selama tdk ada org lain yg menyampaikan hujjah yg lebih kuat, serta beliau sepenuhnya berlepas diri dari org2 yg taqlid kpdnya dan dgn terang2an mengumumkan hal ini.”

Pesan beliau antara lain:
a. “Setiap org hrs bermadzhab kpd Rasulullah saw dan mengikutinya. Apapun yg aku katakan atatu sesuatu yg aku katakan itu berasal dari Rasulullah saw tetapi ternyata berlawan dgn pendapatku, apa yg disabdakan rasulullah itulah yg menjadi pendapatku.” (HR. Hakim dgn sanad bersambung kpd Imam Syafi’i, seperti tsb dlm kitab Tarikh Damsyik, karya Ibnu Asakir (XV/1/3), I’lam Al-Muwaqqi’in (II/363-364), Al-Iqazh hlm 100).

b. “Seluru kaum muslimin tela sepakat bhw org yg secara jelas telah mengetahui Hadits dari Rasulullah tdk halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang.” (Ibnul Qayyim (II/361), Al-Filani hlm 68)

c. “Bila kalian menemukan dlm kitabku sesuatu yg berlainan dgn hadits Rasululla, peganglah hadits rasulullah itu dan tinggalkan pendapatku itu.” (harawi dlm kitab Dzamm Al-kalam (III/47/1), Al-Khatib dlm Itijaj bi Asy-Syafi’i (VIII/2), Ibnu ‘Asakir (XV/9/1), Nawawi dlm Majmu’ (I/63), Ibnul Qayyim (II/361), Al-Filani hlm 100 dan riwayat lainnya)

d. “Bila suatu hadits itu shahih, itulah madzhabku.” (Nawawi dlm Al-Majmu’, Sya’rani (I/57) dan ia nisbatkan kpd Hakim dan Baiaqi, Filani hlm 107).

e. “Kalian (ditujukan kpd Imam Amad) lebih tahu tentang hadits dan para rawinya daripada aku. Apabila suatu hadits itu shahih, beritahukanlah kpdku biar dmn pun orgnya, apaka di Kuffah, Bashrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya.” (Ibnu Abi Hatim dlm kitab Adabu As-Syafi’i hlm 94-95, abu nu’aim dlm Al-Hilyah (IX/106), dan msh banyak lagi riwayat lainnya. “Bila suatu masala ada haditsnya yg sah dari Rasululla saw menurut kalangan ahli hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati.” (Abu Nu’aim dlm Al-Hilyah (IX/107), Al-Harawi (47/1), Ibnul Qayyim dlm Al-I’lam (II/363) dan Al-Filani hlm 104)

f. “Setiap perkataanku bila berlainan dgn riwayat yg shahih dari nabi saw, hadits nabi lebih utama dan kalian jgn bertaqlid kepadaku.” (Ibnu

4. Ahmad bin Hambal

Amad bin hambal merupakan seorang imam yg paling banyak menghimpun hadits dan berpegang teguh padanya, sehingga beliau benci menjamah kitab2 yg memuat masalah furu’ dan ra’yu. Beliau menyatakan sbb:

a. “Janganlah engkau taqlid kpdku,atau kpd Malik, Syafi’i,Auza’i, dan Tsauri, tetapi ambilah dari sumber mereka mengambil” (Al-Filani hlm 113 dan Ibnul Qayyim dlm Al-I’lam (II/302))

b. “Yg dinamakan Ittiba’ yaitu mengikuti apa yg dtg dari nabi saw dan para saabatnya, sedang yg datang dari para tabi’in boleh dipilih.” (Abu Dawud dlm Masa’il Imam Ahmad hlm 276-277)

Jadi jauhilah fanatik buta terhadap suatu mazhab, teruslah mencari kebenaran dalam al-Qur’an dan al-Hadits sebagaimana yang dikatakan oleh para imam mazhab… jika tidak bisa? minimal kita tidak taqlid (fanatik buta), minimal kita harus ittiba’ (ikut dengan mengetahui dalil al-Qur’an dan Haditsnya).. Semangat, kita pasti bisa..

 

Sumber:

http://bangfitpoe.blogspot.com/2010/11/pesan-imam-madzhab-agar-menjauhi.html

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 30 April 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: