MENGUAK “KEDUSTAAN” PSIKOLOG


BAB I

PRA KATA

    Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah manusia biasa yang diberikan kelebihan oleh Allah berupa pangkat kenabian dan kerasulan. Shalawat dan Salam semoga diberikan kepada junjungan saya dan anda serta makhluk sedunia; Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang berjuang menegakkan Islam; yang menghalalkan segala suatu hal kecuali yang dilarang-Nya.

    Sebenarnya, tema diatas timbul sebagai refleksi atas ketidaksetujuan penulis atas adanya islamisasi ilmu pengetahuan, juga karena ketidaksetujuan penulis atas disiplin ilmu psikologi yang mempunyai banyak istilah yang rancu, seperti emosi, jiwa, apalagi psikologi faal yang diklaim sebagai bahasan para psikolog..

    Meskipun Ibu dosen: Heny Narendani H, S.Ag sebagai asisten dosen: Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat telah merekomendasikan kepada para mahasiswanya untuk membuat tugas individu dengan format laporan buku, namun setelah izin dari beliau, penulis diperkenankan untuk membuat dalam format yang lain, yakni paper yang berisi tentang teori-teori yang penulis “sodorkan” beserta dengan argumen dan analisa kritikalnya.

Jakarta, 1 April 2003


Penulis

BAB II

PEMBAHASAN

A. AKAR PERMASALAHAN

    Dalam pencarian penulis mengenai hakikat Jasmani dan Rohani, penulis telah menemukan suatu hal -yang menurut penulis- suatu kebenaran dan harus disampaikan. Setelah membaca-baca sedikit buku-buku yang berkaitan dengan otak, mind, akal, ruh, jiwa, soul, mental dan kawan-kawannya, serta berdialog dan berdiskusi dengan orang-orang yang compatible sebagai pakar filsafat dan juga dengan dosen filsafat; Bpk. Drs. Jaimuddin, M.Ag serta teman-teman mahasiswa; baik yang lain fakultas (adab, syari’ah dan lainnya) maupun yang spesifik dalam fakultasnya (psikologi, filsafat, dan lainnya) maka penulis menemukan sebuah kesimpulan bahwasanya otak adalah segala-galanya dibandingkan jiwa/nyawa/ soul/arwah/ruh.

    Penulis juga agak sedikit “bingung” dengan maraknya “penjiplakan” disiplin ilmu lalu diembel-embeli dengan Islam di belakangnya. Seperti psikologi + Islam = Psikologi Islam, yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan disiplin psikologi umum, hanyasaja sedikit dikomparasikan dengan Qur’an dan Hadits dan atau plus pengalaman orang-orang “suci”. Dan contoh rancu lainnya adalah Filsafat Islam, dan lain sebagainya.

    Penulis berpendapat, bahwasanya disiplin ilmu itu adalah netral dan universal, tidak ada disiplin ilmu yang Islam, Kristen, Kafir, Munafik dan lainnya. Mengapa demikian, sebab jika suatu disiplin ilmu itu ada embel-embel agama di belakangnya maka niscaya disiplin ilmu tersebut akan subjektif mutlak sesuai dengan agamanya.

Seperti misalnya ada seseorang yang tidak mau beriman kepada Allah swt atau menyatakan beriman akan tetapi hanya di lidah saja, psikologi Islam akan memandangnya sebagai kurang tepatnya atau kurang sehatnya psikis orang tersebut dalam memahami Islam karena di dalam hatinya ada penyakit, sebagaimana ayat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 8-10:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ آمَنَّا بِاللهِ وَباِلْيَوْمِ اْلآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ (8)؛ يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَمَا يَخْدَعُوْنَ إِلاَّ أَنـْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ (9)؛ ِفيْ قُلُوْبــِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ بِمَا كَانـُوْا يَكْذِبُوْنَ (10) {البقرة/2: 10 – 8}.

    “(8) Dan sebagian dari manusia ada yang berkata: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal mereka sebenarnya tidak beriman. (9) Mereka hendak ‘menipu’ Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka hanyalah menipu diri sendiri sedangkan mereka tidaklah sadar. (10) Di hati mereka ada “penyakit”, lalu Allah menambahkan kadar penyakitnya kepada mereka, dan bagi mereka adalah azab yang pedih dengan apa-apa yang mereka dustakan.” (QS. Al-Baqarah/2: 8-10).

    Padahal tugas untuk menafsirkan kenapa ada orang yang tidak beriman kepada Allah atau beriman namun hanya di lidah saja itu adalah tugas dari agamawan. Karena permasalahan iman adalah transenden yang hanya bisa ditangkap oleh disiplin ilmu yang khusus di bidangnya, seperti ilmu ushuluddin/tauhid/kalam /tasawuf dan lainnya, dan tidak bisa di tangkap oleh disiplin ilmu sains yang sistematis yang dapat dibuktikan di secara ilmiah. Jika hal ini menjadi tugas dari psikolog Islam (itupun kalau istilah ini ada dan disepakati) maka otomatis dia secara tidak langsung telah atau akan merebut “lahan garapan” agamawan yang spesifik di bidang itu.

    Contoh yang lain adalah Filsafat Islam, dilihat dari kedua istilah ini saja sudah terdapat pebedaan yang mencolok. Kalau mempelajari Filsafat diawali dengan keragu-raguan (skeptical) dan dilanjutkan dengan pemikiran tajam yang ekstrim terhadap objek dengan menggunakan metode tertentu, sedangkan mempelajari (agama) Islam adalah diawali dengan keyakinan (faithful) dan dilanjutkan dengan beriman penuh serta taat, dan boleh kritis kepada selain Tuhan (seperti syariat dan lainnya), dan haram mengkritisi Tuhan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Rasulullah saw dan anjuran-anjuran orang-orang “suci” setelah beliau:

تَفَكَّرُوْا ِفي اْلخَلْقِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا ِفي الخْاَلِقِ (الحديث)

“Pikirkanlah ciptaan dan jangan pikirkan Pencipta.”

Dari satu sisi saja istilah ini sudah rancu dan bisa terpatahkan. Sebab, bagaimana kita mau mengkritisi Tuhan -sebagaimana syarat ilmu Filsafat untuk berfikir kritis dan ekstrim- kalau dalam ajaran (agama) Islam sendiri melarang pengkritisan terhadap Tuhan itu sendiri. Dan otomatis pemikiran tentang Tuhan ini pastilah tidak akan objektif dan pastilah akan sesuai dengan subjektifitas keyakinannya. Jadi, bagaimana mau “menikahkan” Filsafat yang objektif dengan (agama) Islam yang subjektif?

Pendapat ini tentu saja ditolak oleh sebagian banyak orang Islam ekstrimis yang menerima konsep islamisasi ilmu pengetahuan, dan bahkan akan ditolak juga non Islam yang menerima konsep psikologi atau spesifikasi disiplin ilmu yang “bermesraan” dengan agama. Akan tetapi, penulis yakin konsep ini akan diterima oleh orang-orang yang berfikir objektif dan ilmiah.

B. KERANCUAN PSIKOLOGI

Penulis menganalisa, bahwasanya tidaklah ilmiah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan emosi, stres dan “kawan-kawannya” disangkut-pautkan dengan gejala jiwa atau bias dari jiwa sebagaimana klaim psikolog dan atau ahli jiwa selama ini.

    Menurut analisa penulis; teori yang ilmiah dan masuk akal ialah: bahwasanya emosi merupakan suatu responsi otak dari suatu stimulus, yang mana pada saat merespon otak mengeluarkan zat yang bernama Adrenalin yang mengaktifkan amigdala. Seperti orang penakut misalnya; pada saat si penakut itu ngeri, sebenarnya bukan kerena jiwanya lemah, melainkan orang tersebut telah mengetahui bahwasanya hal itu menakutkan baik melalui pengalaman, mitos atau doktrinisasi. Sehingga, otak akan menafsirkan stimulus itu adalah sesuatu yang menakutkan. Dan spontan setelah merespon, otak mengeluarkan zat senyawa kimia adrenalin yang berproduksi di otak, dan terus akan bertambah banyak dan akan turun dari otak menuju berbagai syaraf tubuh, sehingga berefek pada menegangnya otot, menggigil, bulu kuduk naik dan lain -lainnya (sebagaimana efek yang akan dirasakan sama oleh setiap orang yang ketakutan).

    Sebagai contoh lain adalah fobia. Fobia adalah contoh klasik bagaimana emosi dapat tertanam di otak dalam memori jangka panjang. Misalkan, ada seseorang yang bernama A yang berusia empat tahun dan ada seorang anak nakal yang bernama B yang menyodokan ular ke muka orang tersebut dan berteriak “Haa!” maka besar kemungkinan hal tersebut akan terekam permanen dalam otak si A. mengapa? Sebab, stimulus (bentuk ular dan image orang atas bahayanya) dan suara “Haa!” si B tersebut telah membuat genderang telinganya tergetar hebat akibat suara yang mendadak dan keras, sehingga suara tersebut sampai melalui syaraf-syaraf ke otak dan direspon oleh otak dengan terpicunya produksi zat senyawa kimia adrenalin yang berlebihan, sehingga si A tadi akan berteriak, jantung berdebar-debar atau berlari, jatuh pingsan dan bahkan terkadang sampai dengan kematian.

Semuanya ini, baik takut, marah, berani, senang, semangat hanya merupakan respon dari otak yang memproduksi zat senyawa kimia adrenalin yang termasuk daripada Glukokortikoid dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan jiwa/nyawa /ruh/arwah/soul/psikis atau apapun namanya.

Beda halnya dengan pendapat para ahli jiwa/psikolog atau apapun namanya. Mereka berpendapat; ‘Emosi adalah suatu keadaan yang kompleks yang berlangsung biasanya tidak lama, yang mempunyai komponen pada badan dan pada jiwa individu itu: pada jiwa timbul keadaan tegang (“exitement”) dengan perasaan yang hebat serta juga biasanya terdapat impuls (gerak hati, pen) untuk berbuat sesuatu yang tertentu; pada badan timbul gejala-gejala dari pihak susunan syaraf vegetatif, umpamanya pada pernafasan, sirkulasi, sekresi’.

Yang penulis bantah adalah pada kalimat yang digaris bawahi. Sebenarnya keadaan tegang adalah karena otot-otot dan urat syaraf yang menegang karena pengaruh zat senyawa kimia adrenalin tersebut, dan hal itu terjadi pada jasmani bukan pada jiwa/nyawa/ruh/arwah/soul/mental atau apapun juga namanya. Dan perasaan hebat karena keadaan emosi juga terjadi karena pengaruh zat senyawa kimia adrenalin tersebut yang banyak turun ke urat syaraf dan turun ke jantung, sehingga berimplikasi pada jantung yang berdebar-debar, was-was dan lain sebagainya. Jadi sekali lagi, semua perasaan emosi tersebut bukan berasal dari jiwa/nyawa/ruh/arwah /soul/mental melainkan dari zat senyawa kimia adrenalin semata yang termasuk daripada Glukokortikoid yang merangsang Amigdala. Sedangkan impuls untuk berbuat sesuatu yang menurut psikolog/ahli jiwa adalah berasal dari jiwa, padahal hal itu hanya refleksi dari Amigdala yang berpusat di otak tengah atau yang disebut sistem limbik, dan bukan dari jiwa/nyawa/ruh/arwah/soul/mental atau apapun juga namanya. Jadi merurut hemat penulis, inilah suatu bentuk “kedustaan” dari kaum psikolog/ahli jiwa, atau apakah mungkin mereka menafikan sains sebagai ilmu pasti dan lebih mementingkan ilmu jiwa yang abstrak? Atau apakah semata-mata mereka tidak mengetahui? Mungkin, hanya Allah dan mereka sajalah yang dapat menjawabnya.

C. SUATU TEORI DAN ANALISA KRITIKAL KONSTRUKTIF

Agar tidak rancu, ada baiknya jika penulis mengemukakan terlebih dahulu istilah-istilah yang berkaitan dengan pembahasan ini, seperti Jiwa dan Raga.

Penulis berpendapat, bahwasanya manusia itu terbagi menjadi dua bagian; Jiwa dan Raga. Jiwa diibaratkan “baterai” yang menjadi penggerak awal daripada raga manusia. Tanpa jiwa maka raga manusia tidaklah bedanya dengan radio tape tanpa baterai, meskipun tape tersebut masih bagus dari segi kualitas.

Pada awalnya psikologi merupakan disiplin ilmu yang membahas tentang kejiwaan. Namun karena jiwa tidak bisa terlihat maka otomatis para psikolog harus merubah orientasinya dari meneliti jiwa menjadi meneliti tentang gejala kejiwaan. Berarti, hal ini berkaitan tentang tingkah laku seseorang, mengapa si A melakukan suatu kejahatan ini dan itu, dan mengapa si B selalu lurus tingkah lakunya dan contoh-contoh lainnya. Inilah sebenarnya yang dibahas para psikolog.

Sebenarnya, ilmu yang menurut psikolog itu adalah gejala jiwa padahal itu merupakan gejala biologis semata. Ya. Sebab, tidak mungkin si A akan melakukan kejahatan jika dia memaksimalkan potensi otaknya. Kerja otak dalam merespon suatu stimulus sangatlah rumit akan tetapi sangat cepat, tergantung situasi dan kondisi.

Contoh: si A adalah orang yang sangat membutuhkan uang. Dan setelah dia mencari semaksimal mungkin ternyata dia tidak bisa mendapatkan uang sepeserpun. Maka apa yang A lakukan? (1) Kemungkinan besar kalau dia orang yang terdidik dan biasa berfikir luas serta positif maka dia akan berusaha ulang untuk mendapatkan uang, baik dengan kredit dan cara positif lainnya. (2) Kemungkinan lain adalah kalau dia orang yang terdidik tapi jauh dari kesadaran moral baik karena lingkungan atau lemahnya supremasi hukum, maka yang terjadi adalah penipuan, korupsi dan kejahatan “berdasi” lainnya. (3) Kemungkinan lain adalah, kalau si A itu adalah seorang yang tidak terdidik akan tetapi memiliki kesadaran moral yang tinggi karena lingkungan atau supremasi hukum yang baik, maka yang terjadi adalah dia akan bersabar dan bertanya kepada “yang ahlinya”. (4) Dan kemungkinan terakhir adalah jika si A adalah seorang yang picik pemikirannya karena tidak/kurang terdidik (secara maksimal), apalagi dengan didukung oleh lingkungan/supremasi hukum yang buruk, maka yang terjadi adalah terjadinya kejahatan “awam” seperti pencurian ayam, sandal, handphone, motor, mobil, alat alat-elektronik lainnya; pokoknya yang menghasilkan uang. Bahkan bisa jadi si A akan bersekutu dengan temannya untuk merampok bank/rumah orang kaya untuk kemudian dikuras segala isinya. Dan jika ada yang menghalanginya maka mereka tidak segan-segan untuk menyakitinya, dan bahkan bisa-bisa (jika wanita) akan diperkosa lalu di bunuh atau sebaliknya dibunuh dulu baru diperkosa. Inilah kejahatan “ala orang awam”.

Dari contoh di atas dapat ditemukan titik temu, yakni intelejensi si A dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dengan cara yang berbeda-beda. Dan jika berbicara tentang intelejensi seseorang maka hal ini berkaitan dengan otak yang secara khusus dibicarakan dalam ilmu Biologi dan saintifik lainnya. Karena intelejensi merupakan bias dari otak yang menghasilkan akal dan pikiran, seperti bagaimana si A memaksimalkan daya kerja otaknya dalam memecahkan suatu masalah.

Sampel-sampel diatas sangatlah jelas. Seperti contoh (1 dan 3) yang mana si A berhasil mengatasi masalahnya dengan mencari alternatif positif yang lain karena pemikirannya yang tenang serta beredukasi apalagi dengan didukung situasi yang kondusif dan supremasi hukum yang baik, sehingga dengan keadaan-keadaan seperti itu otomatis akan mencegah turunnya adrenalin ke seluruh syarafnya. Sedangkan contoh (2 dan 4) terlihat bagaimana si A tidak mampu membendung masalahnya dengan melakukan kejahatan “berdasi” dan atau ala orang “awam”, karena si A tidak tenang dalam merespon stimulus sehingga mempengaruhi cairan zat senyawa kimia adrenalin mengalir dengan derasnya ke seluruh syaraf si A tadi yang mengakibatkan dia emosi, yang jika emosi ini terus dibiarkan maka Hipotalamus otak akan mendeteksi itu sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga ia akan mengeluarkan senyawa kimia yang bernama corticotrophin atau yang lebih tenar dengan sebutan Adrenocorticotrophic Hormone (ACTH). Hormon inilah yang langsung mempengaruhi produksi hormon stres atau Glukokortikoid (termasuk Kortisol dan Adrenalin).

    Ketika hal ini terjadi, maka persepsi indra orang yang stres akan menajam, kekuatan fisik dan energi meningkat, waktu terasa lambat, dan ingatan orang tersebut siap siaga -semua respons otomatis ini diprogram sebagai usaha menyelamatkan diri/memecahkan suatu masalah-.

ketika Kortisol dilepaskan dalam jumlah kecil dalam kegiatan sehari-hari, tubuh kita menggunakannya sebagai kesiagaan, aksi, motivasi dan membantu ingatan jangka panjang.

Ketika Kortisol dilepaskan dalam jumlah banyak dan dalam jumlah waktu yang cukup panjang sebagai respon dari bahaya atau permasalahan yang ‘ruwet’, maka tubuh orang tersebut menggunakannya sebagai alat mempertahankan diri atau pemecahan masalah sesuai dengan interpretasi intelejensinya (kalau contoh (1) dan (3) interpretasi intelejensinya adalah dengan mencari alternatif positif dan dengan bersabar; sedangkan contoh (2) dan (4) interpretasi intelejensinya dengan jalan pintas dengan melakukan kejahatan “berdasi” maupun kejahatan orang “awam”); kemudian tubuh akan membuang zat itu ketika keadaan telah aman atau terpecahkan suatu masalah serta kondusif.

Namun demikian, kortisol mempunyai efek mengganggu ingatan dan meracuni Neuron. Akibatnya, tidak hanya ingatan yang melemah akan tetapi orang yang stres tadi akan mengalami penuaan dini, dan terkadang akan membuat si A yang stres -karena masalahnya tadi- akan berlaku yang negatif yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat demi memecahkan atau menyelesaikan masalahnya, sebagaimana contoh (2) dan (4).

Dan kortisol juga dapat melukai sel otak dalam jangka panjang. Demikian pendapat Dr. Robert Sapolsky dari Universitas Standford, yang mengkaji hasil penelitian tentang efek jangka panjang hormon stres pada otak. Penemuannya mengindikasikan perubahan fisik mulai terjadi di Hipokampus, yakni bagian otak yang terpenting bagi pembelajaran dan ingatan, sebagai respon terhadap tekanan yang berlebihan atau meningkatnya kadar kortisol akibat depresi berat, trauma atau malfungsi akibat fisiologis. Perubahan fisik ini, dapat dapat mengganggu kemampuan memicu “potensi jangka panjang” pada Hipokampus. Hasilnya adalah kegagalan ingatan (pikun, atau dapat ditafsirkan dengan “lupanya” si A tersebut terhadap cara-cara penyelesaian masalah yang lebih positif).

Jadi, apakah kita masih berpendapat bahwasanya contoh-contoh tersebut merupakan lahan dari psikolog? penulis kira tidak demikian!

Menurut penulis, para psikolog adalah orang-orang yang “humoris”. Kenapa bisa demikian? Sebab, penulis pernah menemukan istilah Psikologi Faal dalam litelatur psikologi, yang ternyata setelah penulis telaah literatur-literatur tersebut tidaklah ada bedanya dengan Biologi yang pernah penulis dapatkan di bangku sekolah dahulu. Hal ini merupakan “humor” para psikolog, karena mereka juga secara tidak langsung telah merebut lahan para saintis biologi, kimia, fisika (kedokteran dan lainnya) yang memang benar-benar disertifikasi untuk mendalami/observasi dan mengajarkan atau mempraktekkan ilmunya.

———-0O0———-

BAB III

KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas, pantas memang kalau kevalidan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu ditinjau kembali. Karena sebuah disiplin ilmu itu haruslah bisa dibuktikan di lapangan dengan tidak merebut “lahan” orang lain yang lebih berhak dan lebih profesional di dalamnya, sehingga jangan sampai sebuah disiplin ilmu menimbulkan banyak dilema yang memunculkan istilah-istilah yang rancu dan memusingkan rakyat awam.

Dan umat Islam di dunia dan Indonesia jangan sampai menjadi “humoris” yang bukan pada tempatnya. Seperti dengan menyalin/menjiplak disiplin ilmu yang jelas-jelas netral dengan diembel-embeli Islam di belakangnya. Sehingga esensi dari ilmu pengetahuan (yang objektif) menjadi buram (subjektif) karena berlawanan antara konsep awal. Yakni, ilmu pengetahuan adalah diawali dengan keragu-raguan (skeptical) dan agama adalah diawali dengan keyakinan (faithful).

Sebab, jika semua disiplin ilmu pengetahuan diembel-embeli dengan (agama) Islam, misalnya fisika Islam, maka nanti akan timbul istilah pasangan yang irasional, seperti teknologi perjinan (disiplin penelitian kecepatan gerak atom jin) atau bagaimana meneliti kecepatan cahaya di akhirat dengan di dunia, atau bagaimana perbandingan panas api neraka dengan matahari, dan lain sebagainya.

Atau kalau contoh lain ialah “pernikahan” psikologi (itupun kalau definisi psikologi diakui dan disepakati) dengan islam misalnya, maka tidak mustahil akan timbul teori yang juga bakal irasional, yakni seperti bagaimana mengkomparasikan psikis orang muslim dengan orang kafir dalam penyembahan terhadap Tuhan YME?!

Aneh, sebab setiap psikis itu sama, yang membedakan hanyalah pemikirannya yang dipengaruhi oleh berbagai situasi dan kondisi (intern/ekstern). dan masih banyak contoh lainnya yang jelas-jelas berada pada dua kutub yang berbeda yang bisa-bisa hanya menghabiskan waktu saja.

———-0O0———-

BAB IV

POSTKATA

Sesungguhnya, analisa kritikal konstruktif ini timbul karena terbatasnya waktu pada diskusi yang diadakan pada waktu itu, sehingga penulis belum sempat mengkritisi akan tetapi waktu telah habis. Dan tema diatas timbul sebagai refleksi atas ketidaksetujuan penulis atas adanya islamisasi ilmu pengetahuan, juga karena tidak kesetujuan penulis atas disiplin ilmu psikologi yang mempunyai banyak istilah yang rancu, seperti emosi, jiwa, yang dikait-kaitkan dengan psikologi; apalagi dengan ketemunya istilah psikologi faal yang merebut lahan biologi dan ilmu saintifik lainnya, maka lengkaplah sudah “kedustaan” psikolog terhadap rakyat awam. Maka semoga disiplin ilmu ini dapat ditinjau ulang serta dipertanyakan kembali dengan kritis.

    Dengan berharap rahmat dan ridha Allah, penulis bertahmid dan bertakbir atas pertolongan Allah (melalui perantara akal dan pengalaman penulis yang picik) untuk menyelesaikan tugas makalah sebagai pengganti Laporan Buku pada mata kuliah Psikologi Agama pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (ITK), Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Kritik dan saran konstruktif dari pembaca sangat saya tunggu-tunggu. Allah A’lam Bi al-Shawab.

————000————

BAB V

BIBLIOGRAFI

al-Ashbahaniy, ‘Abd Allah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyan Abu Muhammad, Al-‘Uzhmah, Riyadh: Dar al-‘Ashimah, cet. I, 1408 H.

al-Bashari, Al-Rabi’ bin Hubeib bin ‘Umar al-Azdi, Musnad al-Rabi’, Baerut: Dar el-Hikmah, cet. I, 1415 H.

al-Haitsami, Ali bin Abi Bakr, Mujma’ al-Zawaid, Baerut: Dar el-Rayan Li al-Turats, cet. —, 1407 H.

al-Hamdzani, Abu Syuja’ Syiraweh bin Syahardar bin Syiraweh al-Dailami al-Hamdzani, Al-Firdaus Bi Ma’tsur al-Khithab, Baerut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1986 M.

al-Kufi, Hinad bin al-Sariy, Al-Zuhd Li Hinad, Kuwait: Dar el-Khulafa’ Li al-Kitab el-Islami, cet. I, 1406 H.

al-Lalaka’iy, Hibah Allah bin al-Hasan bin Manshur Abu al-Qasim, I’tiqad ahl al-Sunnah, Riyadh: Dar Theeibah, cet. —, 1402 H.

as-Suyuw’iy Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Qamus Krapyak ‘al-‘Ashri; ‘Arobiy-Indonesiy, Yogyakarta: Yayasan ‘Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak,cet. III, 1998 M/1445 H.

al-Syafi’i, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Baerut: Dar al-Ma’rifah, cet. —, 1379 H.

Clinical Team, Pathophysiology; Clinical Concept of Disease Processes, New York: A Mosby Imprit of Mosby-Year Book Inc, cet. IV, 1992.

Chaplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi, (Pent: Dr. Kartini Kartono, Judul asli: Dictionary of Psychology), Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet. V, 1996.

Eric Jansen Karen Markowitz, M.A dan Eric Jansen, M.A, Otak Sejuta Gigabyte; Buku Pintar Membangun Ingatan Super,
Bandung: Kaifa, cet. I, 2002.

Ibrahim bin Muhammad bin al-Huseni, Al-Bayan Wa al-Ta’rif, Baerut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, cet. —, 1401 H.

Jacob SW, Francone CA dan Lassow WJ, Structur and Function in Man, Philadelphia: WB Saunders Corporation, cet. IV, 1978.

JE, Crouch, Funcional Human Anatomy, Philadelphia: Lea and Febiger Corporation, cet. II, 1972.

MacGregor, Sandy, Piece of Mind; Menggunakan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar untuk mencapai Tujuan, (Pent: Yudi Sudjana), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, cet. III, 2001.

Maramis, W.F., Catatan Ilmu Kedoketeran Jiwa, Surabaya: Airlangga University Press, cet. VII, 1998.

Muhammad bin Abi Bakr Ayyub al-Zar’I bin ‘Abd Allah, Hasyiah Ibn al-Qayyim, Baerut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. II, 1415 H/1995 M.

Munawwir, Ahmad Warson, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, cet. XIV, 1997.

Noback CR dan Damarest RJ, The Human Nervous System, New York: McGraw-Hill Inc, cet. III, 1981.

Pdt. Louis Ma’luf al-Suyu’i; dan Pdt. Ferdinand Totel al-Suyu’i, al-Munjid fi al-Lughah Wa al-A’lam, Beirut: Dar el-machreq/Dar al-Masyriq, cet. XXXIV, 1994 M.

Tim Penyusun Kamus dan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka (Depdikbud), cet II, 1989.

———-0O0———-

الحمد لله رب العالمين

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 24 Mei 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: