Kengeyelan (memaksakan diri tanpa ilmu + ngeselin) Orang Yang Merasa Dirinya Bisa Menafsirkan Al-Qur’an


Pada satu kesempatan yang lain, teman saya menanyakan perihal kengeyelan orang yang merasa pintar agama dan bisa menafsirkan al-Qur’an seenak perutnya tapi sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu belaka.

Untuk itu saya mencoba menjawab semampunya pertanyaan orang-orang ngeyel tersebut dan saya simbolkan dengan “Anda Mengatakan”, sedangkan jawaban saya maka saya simbolkan dengan “jawab”

Semoga tulisan kecil ini dapat meluruskan kaum Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme (SEPILIS) yang beranggapan bahwa al-Qur’an dapat ditafsirkan seenak perutnya…. Amin.

————————————————————————————————-

Anda mengatakan:

————————

Tahu di ayat mana ada keterangan prosedur mentafsirkan ayat Al Quran yg benar?

Jawab:

———-

Berikut akan saya ilustrasikan dan analogikan langsung kepada ayat al-Qur’an dan al-Hadits perihal tentang prosedur bagi orang yang ingin menafsirkan al-Qur’an, minimal dia wajib mempunyai 9 syarat di bawah ini.

Mungkin kita ribet dengan syarat-syarat di bawah ini, tapi inilah yang membuat al-Qur’an “aman” dalam teks dan konteks yang sesuai dengan pertama kali ayat turun. Dan perlu diingat bahwa memahami al-Qur’an beda dengan memahami bible atau kitab umat lainnya, mereka hanya membutuhkan hermeneutika sedangkan umat Islam membutuhkan tafsir. Apakah bedanya?

Hermeneutika diasosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan Dewata yang masih samar-samar ke dalam bahasa yang dipahami  manusia. Peran Hermes tersebut dianggap sinonim dengan peran Rasulullah saw yang menyampaikan pesan Allah swt. Karena itu, hermeneutika dianggap sinonim dengan tafsir.

Bagaimanapun, logika ini terlalu simplistic. Bagaikan manusia berkaki dua dan kanguru pun berkaki dua. Maka manusia sinonim dengan kanguru! Padahal bukan saja fisiologi dan psikologi manusia yang berbeda dengan kanguru, bahkan fisiologi kaki manusia jelas berbeda dengan fisiologi kaki kanguru. Jadi, sebenarnya terdapat banyak perbedaan antara tafsir dengan hermeneutika. Bahkan terdapat ketidakmungkinan jika mengaplikasikan hermeneutika ke dalam tafsir  al-Qur’an.

Dari sisi epistemologis, hermeneutika bersumber dari akal semata-mata. Jadi, hermeneutika memuat  zann (dugaan), syakk (keraguan), mira (asumsi), sedangkan dalam tafsir, sumber epistimologi adalah wahyu al-Qur’an dan hadits yang berderajat sahih (perfect), minimal hasan (good).

 

Inilah dia 9 syarat wajib dan/atau prosedur bagi mufassir beserta dalilnya dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang penulis rangkum:

 

1.    Aqidah yang benar 

Aqidah yang benar di sini artinya mufassir benar-benar mengikuti aqidah yang dibawa Rasulullah bukan aqidah orang-orang kafir. Allah Berfirman:

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS.Al-Furqan: 52)

 

2.    Bersih dari hawa nafsu 

Mufassir betul-betul harus terbebas dari hawa nafsu dan bisikan setan dalam mentafsirkan al-Qur’an, Karena nafsu akan sangat berpengaruh terhadap seseorang mufassir, Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Nur: 21)

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS.Al-Isra’: 53)

 

3.    Lebih mendahulukan tafsir Qur’an dengan Qur’an dalam mentafsirkan 

Ayat al-Qur’an terkadang ditafsirkan oleh ayat al-Qur’an lainnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah sang manusia yang diamanati al-Qur’an. Allah berfirman:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” (QS.Al-An’am: 59)

 

4.    Mencari penafsiran dari sunnah

Sebagaimana yang kita ketahui, ayat-ayat al-Qur’an diturunkan secara umum dan tidak spesifik dan terperinci total, kespesifikan dan keterperinciannya dijelaskan oleh Rasululah saw, mengapa? Karena Rasulullah saw adalah orang yang diamanahi dan orang yang paling paham terhadap al-Qur’an, dan semua yang dikatakannya bukanlah hawa nafsu melainkan wahyu dari Allah swt pula. Allah berfirman:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya (Muhammad). Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya Muhammad),” (QS.An-Najm: 3-4)

Dan Allah swt mengancam orang yang tidak mengindahkan perkataan Rasulullah saw:

Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.(QS.An Nisa’: 115)

 

5.    Bila tidak di dapatkan dari sunnah maka dengan pendapat para sahabat.

Mengapa para sahabat? Karena mereka berinteraksi dekat dengan Rasulullah, mencatat wahyu dan menjadi saksi sebab musabab ayat turun, oleh sebab itu wajar jika pendapat mereka wajib didahulukan setelah pendapat Rasulullah saw. Allah berfirman:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”  (QS.at-Taubah: 100) 

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” [HR. Imam Hakim,[1] Imam Tirmidzi,[2] Imam Baihaqi,[3] Imam Ibnu Majah,[4] Imam Ahmad bin Hanbal,[5] Imam Thabrani,[6] dan Imam Darimi[7]].

 

6.    Menggunakan pendapat tabi’in bila tidak mendapatkan dari tiga sumber diatas. 

Tabi’in adalah generasi setelah sahabat, jarak mereka yang dekat dengan masa Rasulullah saw dan mudahnya mereka mencari informasi Keislaman kepada para sahabat menjadikan mereka prioritas setelah Rasulullah saw dan para sahabat. Allah berfirman:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”  (QS.at-Taubah: 100) 

Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)”. [HR. Imam Bukhari,[8] Imam Hakim,[9] Imam Baihaqiy,[10] Imam Nasa’iy,[11] Imam Ahmad,[12] Imam Thabrani,[13])

 

7.    Pengetahuan bahasa arab dan cabangnya.

Bahasa Arab adalah kemutlakan bagi mufassir untuk menguasainya, hal ini karena al-Qur’an menggunakan bahasa Arab Fasih, diturunkan kepada Nabi yang berlisan Arab dan kepada lingkungan yang berdialog Arab pada mulanya. Maka suatu kemutlakan bagi ‘Ajam (non Arab) untuk menguasai bahasa al-Qur’an. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS.Yusuf: 2)

Dan kalau dibreak-down, bahasa Arab mengandung beberapa cabang ilmu seperti Nahwu, Sharf, adab (sastra), ilmu bayan, ilmu ma’ani, ilmu balaghah, ilmul-‘arudh, ilmu mantiq, dan lainnya, semua ini wajib dikuasai oleh seorang mufassir.

 

8.    Pengetahuan tentang pokok-pokok ilmu yang berkaitan dengan Qur’an dan Keislaman

Adalah kewajiban bagi mufassir untuk memahami cabang-cabang ilmu al-Qur’an, seperti pengetahuan terhadap: Asbabun nuzul, Tajwid & Qira’at, Muhkam & Mutasyabih, ‘Am & Khash, Muthlaq & Muqayyad, I’Jaz, atau yang semuanya itu kita sering kita sebut dengan ‘Ulum al-Qur’an.[14]

 

Hubungan ‘Ulumul Qur’an dengan tafsir juga dapat dilihat dari beberapa hal yaitu:

a. Fungsi ‘Ulumul Qur’an sebagai alat untuk menafsirkan, yaitu:

  1. Ulumul Qur’an akan menentukan bagi seseorang yang membuat syarah atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara tepat dapat dipertanggung jawabkan. Maka bagi mafassir ‘Ulumul Qur’an secara mutlak merupakan alat yang harus lebih dahulu dikuasai sebelum menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.
  2. Dengan menguasai ‘Ulumul Qur’an seseorang baru bisa membuka dan menyelami apa yang terkandung dalam Al-Qur’an
  3. ‘Ulumul Qur’an sebagai kunci pembuka dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai dengan maksud apa yang terkandung di dalamnya dan mempunyai kedudukan sebagai ilmu pokok dalam menafsirkan Al-Qur’an.

b. Fungsi ‘Ulumul Qur’an sebagai Standar atau Ukuran Tafsir

Apabila dilihat dari segi ilmu, ‘Ulumul Qur’an sebagai standar atau ukuran tafsir Al-Qur’an artinya semakin tinggi dan mendalam ‘Ulumul Qur’an dikuasai oleh seseorang mufassir maka tafsir yang diberikan akan semakin mendekati kebenaran, maka dengan ‘Ulumul Qur’an akan dapat dibedakan tafsir yang shahih dan tafsir yang tidak shahih.

Tidak pernah ada sejarahnya seorang mufassir yang kitab tafsirnya diakui oleh dunia Islam, kecuali mereka adalah pakar dalam semua cabang ilmu al-Qur’an tersebut.

 

9.    Pemahaman yang cermat. 

Syarat terakhir seorang mufassir adalah dia harus merupakan orang yang paling paham dan mengerti tentang seluk belum agama Islam, yaitu hukum dan syariat Islam (Fiqh). Sehingga dia tidak tersesat ketika menafsirkan tiap ayat Al-Quran. Untuk memahami Fiqh ilmu yang harus dimiliki adalah, Bahasa Arab, Ushul Fiqh, al-Qur’an dan Ulum al-Qur’an, Hadits-hadits & Ushul Hadits, dan Tarikh Tasyri’.

Mungkin kita akan bertanya, “mengapa harus dibatasi?” pembatasan kredibilitas mufassir tersebut bertujuan membatasi penyimpangan yang mungkin berlaku di dalam menafsirkan al-Qur’an. Sehingga tidak sembarangan orang boleh menafsirkan al-Qur’an. Selain  itu, tafsiran juga telah dibatasi oleh berbagai perkara, supaya penyimpangan penafsiran tidak dengan mudah berlaku.

Hal-hal seperti ini tidak ada didalam hermeneutika, yang membuka penafsiran seluas mungkin bagi siapa saja untuk menginterpretasikan teks. Makanya tidak heran hanya al-Qur’an satu-satunya kitab yang masih selamat penafsirannya sama seperti pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw. Beda dengan kitab umat yang lain yang sangat mudah di-hermeneutika-kan sehingga menjadi tereduksi dari makna aslinya. Na’udzu billa min dzalik.

 

 

———————————————————————————————————————————————-

Anda mengatakan:

———————-

Dan diayat mana diterangkan bhw Nabi Muhammad adalah yg paling berhak memberi penafsiran ttg Al Quran?

Dia bilang mana ayat yg memberi petunjuk cara mentafsirkan Al Quran yg benar.

Jawab:

——–

Satu hal yang harus kita ketahui bahwa al-Qur’an itu sifatnya global, tidak spesifik. Seperti perintah shalat dalam al-Qur’an maka kita tidak menemukan syarat shalat, rukun shalat, bilangan shalat, tata cara shalat, dst. Semuanya ini dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang mulia. Begitu pula dengan zakat, puasa, haji, nikah, cara menafsirkan al-Qur’an, cara mudah menghafal al-Qur’an, cara membukukan al-Qur’an, cara menyebarkan Islam, dst, semua hanya dijelaskan secara global.

Lantas jika ada orang yang serapah -melulu- menanyakan dalil al-Qur’an dan melupakan hadits, ijma’ sahabat dan ‘ulama maka sebaiknya dia tidak usah shalat, puasa, zakat, nikah, haji dst. Karena semua rukun syarat dan tata tertibnya tidak ada dalam al-Qur’an, semuanya dirincikan oleh Rasulullah saw, dan disempurnakan oleh para sahabat dan ulama saleh.

 

Mengapa demikian?

 

1. Semakin terperinci suatu kitab suci semakin jelas dia bukan dari Tuhan.

Sebab setiap manusia di belahan dunia sangat berbeda dalam berislam, ini dipengaruhi oleh karakter budaya, dst. Jika dirincikan maka bisa jadi belahan dunia yang lain kurang atau bahkan tidak sanggup melaksanakannya. Seperti perintah shalat malam (tahajud), Allah berfirman:

“Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS.Al-Isra’: 79)

Yang ada dalam ayat al-Qur’an di atas hanya perintah wajib menjalankan shalat tahajud secara global kepada seluruh manusia dan tidak disebutkan waktu khusus (hanya malam) dan tidak pula disebutkan tata caranya, maka hadits nabi yang menafsirkan bahwa shalat tahajjud itu adalah sunnah dan wajib hanya kepada Rasulullah saw dan beliau lah yang menjelaskan waktu dan tata caranya.

 

Dalam suatu hadits disebutkan:

مَسَّي رَسُوْلُ اللهِ الْعِشَاءَ حَتَّى صَلَّى الْمُصَلِّي وَاسْتَيْقَظَ وَنَامَ النَّائِمُوْنَ وَتَهَجَّدَ الْمُتَهَجِّدُوْنَ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ أَمَرْتُهُمْ أَنْ يُصَلُّوْا هَذَا الْوَقْتَ  أَوْ هَذِهِ الصَّلاَةَ أَوْ نَحْوَ ذَا

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam mengakhirkan shalat Isya hingga sebagian sahabat ada yang sedang shalat, bangun dari tidur dan ada yang mengerjakan shalat tahajud. Rasulullah kemudian bersabda: “Sekiranya tidak kawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk melaksanakan shalat pada waktu ini, shalat ini, atau yang sepertinya.” [HR. Ahmad][15]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Sesungguhnya Nabi saw shalat malam sampai kakinya bengkak.” Aisyah bertanya: “Mengapa engkau melakukan hal itu wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Rasulullah menjawab: “Tidak bolehkah jika aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Dari makna ‘Am hadits di atas sangat jelas bahwa Rasulullah mewajibkan dirinya untuk shalat tahajjud dan mensunnahkan kepada umatnya atas bimbingan Allah.

Ini hanya seperseribu contoh bahwa Rasulullahlah yang paling berhak untuk menafsirkan al-Qur’an disebabkan kepadanya lah al-Qur’an itu turun, dan setelah turun malaikat jibril selalu memberikan kesempatan kepada beliau untuk menanyakan maksud kandungan ayat yang baru saja diturunkan. Maka maha suci Allah yang telah menjadikan Muhammad saw sebaik-baiknya penafsir al-Qur’an.

 

2. Kitab suci al-Qur’an yang global saja tebalnya sudah sedemikian rupa, dan umatnya sangat malas untuk membaca dan mengamalkan apalagi kalau dirinci secara keseluruhan, maka nantinya bisa puluhan jilid dan jadinya bukan kitab suci tapi ensiklopedi …..!

——————————————————————————————————————————————-

Anda mengatakan:

———————-

Asal orgnya berilmu maka org itu berhak mentafsirkan Al Quran dgn cara apapun.

Jawab:

———-

Betul, berilmu dalam artian sesuai dengan kriteria di atas. Dengan cara apapun? Buat siomay aja ada caranya, apalagi menafsirkan al-Qur’an…… memang al-Qur’an punya mbahmu……

Boleh saja anda menafsirkan tapi masalahnya apakah hasil tafsiran anda akan diakui atau tidak oleh komunitas islam?

Jadi ingat ucapan Ibnu ‘Abbas:

Tafsir itu ada 4 macam:

  1. Tafsir yang dapat dipahami orang Arab karena bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab
  2. Tafsir  yang dipaksakan oleh orang bodoh
  3. Tafsir yang hanya dipahami ulama
  4. Tafsir yang hanya Allah yang mengetahuinya, dan jika ada orang yang mengklaim bahwa ia mengetahuinya maka sesungguhnya dia itu pendusta.[16]

Kalau anda mengatakan semua orang berilmu boleh menafsirkan dengan cara apapun sepertinya tafsir anda masuk ke golongan yang nomor 2, he he he…..

Wallahu a’lam bi shawab

——————————————————————————————————————————————-

 

 

FOOT NOTE

———————

[1] Muhammad bin ‘Abd Allah Abu ‘Abd Allah al-Hakim al-Naisabury, al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihayn, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1411 H/1990 M, cet. I, vol. I, h. 174.

[2] Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa Al-Tirmidziy al-Salamiy, Sunan al-Turmudziy, Beirut: Dar Ehya’ el-Turath el-‘Arabiy, t.t., vol. V, h. 44.

[3] Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa Abu Bakr el-Baihaqiy, Sunan al-Baihaqiy al-Kubra, Makkah al-Mukarramah: Maktabah Dar el-Baz, 1414 H/1994 M, cet. -, vol. X, h. 114.

[4] Muhammad bin Yazid Abu ‘Abd Allah al-Quzainiy, Sunan Ibnu Majah, Beirut: Dar el-Fikr, t.t., vol. I, h. 15.

[5] Ahmad bin Hanbal Abu ‘Abd Allah al-Syaibaniy, Musnad Ahmad, Egypt: Mu’assasah Cordova, t.t., vol. IV, h. 126.

[6] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Abu al-Qasim al-Thabraniy, al-Mu’jam al-Kabir, Mosul: Maktabah ‘Ulum wa al-Hikam, 1404 h/1983 m, cet. II, vol. XVIII, h. 247.

[7] ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman Abu Muhammad al-Darimiy, Sunan al-Darimiy, Beirut: Dar el-Kitab el-‘Arabiy, 1407 H, cet. I, vol. I, h. 57.

[8] Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abd Allah al-Bukhariy al-Ja’fiy, Shahih al-Bukhariy, Beirut: Dar Ibn el-Kathir, 1407 H/1987 M, cet. III, vol. II, h. 938.

[9] Muhammad bin ‘Abd Allah Abu ‘Abd Allah al-Hakim al-Naisaburiy, al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihaiyn, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyya, 1411 H/1990 M, cet. I, vol. IV, h. 95.

[10] Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa Abu Bakr el-Baihaqiy, Sunan al-Baihaqiy al-KubraLoc.Cit., h. 74.

[11] Ahmad bin Syu’aib Abu ‘Abd al-Rahman al-Nasa’iy, Sunan al-Nasa’iy, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyya, 1411 H/1991 M, cet. I, vol. III, h. 494.

[12] Ahmad bin Hanbal Abu ‘Abd Allah al-Syaibaniy, Musnad AhmadLoc.Cit., h. 427.

[13] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Abu al-Qasim al-Thabraniy, al-Mu’jam al-KabirLoc.Cit., vol. X, h. 165.

[14] Manna’ al-Qatthan, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, Beirut: Ar-Risalah, 1420 H, Cet. II, H. 9-16.

[15] Ahmad bin Hanbal Abu ‘Abd Allah al-Syaibaniy, Musnad Ahmad, Loc.Cit., vol. II, h. 28.

[16] Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir al-Naisaburiy, Kitab Tafsir al-Qur’an, Madinah al-Munawwarah: Dar el-Ma’athir, 1423 H/2002 M, cet. I, vol. I, h. 8.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 25 Agustus 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Yah namanya juga SEPILIS……..

    Lebih bahaya SEPILIS dari Setan, kalu setan dibaca ayat kursi kabur, kalu SEPILIS dilempar sama kursi-kursinye juga kagak kabur…..

    ha ha ha

  2. dewasa ini kafir kristen sangat gencar cari kesalahan dlm Al-Quran tapi argumen mrk selalu kandas,pada akhirnya mrk hanya berkoar-koar sambil memuaskan diri di komunitas blog mrk. mrk hanya mengikuti hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan belaka yg dihembus oleh para penyesat-penyesat iblis

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: