Taqiyyah (Menyembunyikan kebenaran/Berdusta) dalam Islam


Pertanyaan:

—————

Assalamu Alaikum….Pak maaf bila mengganggu…saya ada mendengar kisah Rasulullah oleh kakak saya bahwa ada keluarga yg disiksa karena mualaf, ayah dan ibunya dibunuh salh satunya ditarik oleh dua ekor kuda sehingga tubuhnya terbelah, lalu si anak di beritahu Rasulullah bahwa boleh mengikuti org kafir tapi di mulut saja dan di hatimu tetap teguh meneyembah Allah…saya mo nanya apa cerita ini ada haditsnya ???karena saya googling tidak ketemu2…cman ingin nanya referensi haditsnya sehingga lebih enak disampaikan dan tidak menjadi rancu…sekian terima kasih

Jawab:

———

Walkm salam

Kisah mu’allaf disiksa dengan ditarik oleh kuda dan terbelah menjadi dua saya belum menemukan, namun ada kasus yang mirip seperti ini pada zaman Rasulullah saw.

Dituliskan dalam sejarah Islam bahwa pada awal Islam disebarkan di Makkah timbullah kebencian mendalam di hati orang-orang musyrik Makkah terhadap kaum muslimin. Hal ini karena Islam sebagai agama kebenaran tidak bisa dilenyapkan dari Makkah, sehingga kaum musyrik Makkah frustasi dan bisa di lihat dari cara mereka merusak dan menghancukan Islam dalam berbagai cara, halus maupun kasar.

Cara yang halus adalah mulai dengan raut wajah yang sinis terhadap Muhammad saw dan kaum muslimin sampai dengan politik adu domba melalui tangan orang-orang munafik. Sedangkan cara-cara kasar sangatlah banyak, mulai dari celaan, ancaman, penyiksaan sampai pembunuhan, baik pembunuhan individu sampai masal.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan,[1] salah satu kisah penyiksaan yang dialami kaum muslimin adalah pada kasus ‘Imar bin Yasir, pada saat itu sebelum ‘Imar bin Yasir umat Islam dan orangtuanya telah terlebih dahulu dibunuh dengan cara yang sangat sadis, bapaknya dengan cara dicekik sampai mati dan ibunya dengan cara ditusuk (maaf) kemaluannya dengan tombak.

Melihat orangtuanya di bunuh dengan cara sadis seperti itu maka ‘Imar bin Yasir sangat takut dan akhirnya terpaksa memenuhi permintaan orang kafir tersebut untuk murtad akan tetapi hanya di bibir saja, maka dibebaskanlah dia, akan tetapi dia menangis bercucuran airmata dengan penuh penyesalan telah mengucapkan kata-kata kekafiran.

Hal ini dilaporkan kepada Rasulullah saw oleh para sahabat, dan beliau bertanya: “Apakah hatimu membenarkan perkataanmu.” ‘Imar menjawab: “Tidak, bahkan hatiku tetap tenang dalam keimanan.” Rasul menjawab: “Jika mereka kembali lagi kepadamu maka lakukanlah kembali.”

Sebab kejadian itu turunlah ayat al-Qur’an:

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran (kafir tanpa dipaksa), maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (QS.An-Nahl: 106)

Karena ayat inilah Taqiyah (berbohong karena dalam keadaan terancam jiwa dan harta) diperkenankan, karena hal itu masuk dalam bab Darurat.

Rasulullah bersabda:

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَمَّ تَجَاوَزَ اللهُ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ (رواه البيهقي)

“Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Allah memaafkan umatku perbuatan keliru tanpa sengaja, lupa dan segala sesuatu (dosa/kesalahan) yang dipaksa atasnya. (HR. Baihaqi)[2]

Namun banyak pula para ulama yang menentang taqiyah ini dengan alasan bahwa kaidah itu sudah tidak bisa dipakai lagi sekarang karena Islam sudah kuat tidak seperti dahulu.[3]

Menurut penulis, jika suatu saat keadaan umat Islam kembali seperti zaman jahiliah (lemah) atau supremasi hukum tidak ditegakkan di tengah masyarakat muslim sehingga hukum hanya berpihak kepada orang kuat/kaya, atau supremasi hukum bagus tapi pada saat itu kita tidak ada daya untuk melawan suatu kezaliman maka taqiyah untuk alasan keselamatan nyawa dan harta diperkenankan meskipun dimakruhkan.

Akan tetapi, apabila melakukan taqiyah malah akan menyebabkan semakin meraja lelanya kebatilan, menimbulkan kesesatan bagi masyarakat, dan semakin menguatkan kezaliman dan kriminalitas di dalamnya, maka taqiyah menjadi haram dan tidak diperbolehkan.

Wallahu A’lam.

————————————————————————————————-

Foot Note:

[1] a. Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqiy Abu al-Fada, Tafsiyr Ibn Katsiyr, Beirut: Dar el-Fikr, 1401 H, vol. I, h. 3.

b. Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid al-Thabari Abu Ja’far, Jaami’ al-Bayaan ‘An Ta’wil Ay  al-Qur’an (Tafsiyr Thabariy), Beirut: Dar el-Fikr: 1405 H, vol. IV, h. 181.

[2] Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa Abu Bakr al-Baihaqiy, Sunan al-Baihaqiy al-Kubraa, Makkah al-Mukarramah: Maktabah Dar el-Baz, 1414 H/1994, vol. X, h. 60.

[3] Al-Husain bin Mas’ud al-Fara’ al-Baghawi Abu Muhammad, Ma’alim at-Tanziyl (Tafsiyr Baghawiy), Beirut: Dar el-Ma’rifah, 1407 H/1987 M, cet. II, vol. I, h. 292.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 10 September 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. bagaimana dengan taqiyahnya agama syiah?

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: