Hukum Membunuh Orang Yang Hendak Memperkosa Kita (kasus TKW Ruyati)


PERTANYAAN:

———————–

assalamu alaikum…pak saya mau nanya klo membunuh untuk membela diri seperti TKI/TKW yg di Arab sana, itu dimaklumi nggak ama Allah…sedangkan majikannya juga senang menyiksa sampai diperkosa….sekian…nama saya Rah*** pak..

JAWAB:

————-

Wa’alaikm salam warahmatullah wabarakatuh…

Pada dasarnya Allah swt sangat murka terhadap manusia yang mengambil hak Allah (baca: mencabut nyawa) dengan cara apapun kecuali dengan cara yang dibenarkan (haq).

Allah  berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisaa’: 93)

“Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS Al-Maaidah: 32)

Rasulullah saw bersabda:

Dari Abdullah bin Umar bin Khatthab ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Bagi Allah lenyapnya dunia jauh lebih ringan daripada membunuh seorang muslim.” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)[1]

A. JENIS-JENIS PEMBUNUHAN

Pembunuhan terbagi tiga: [1] pembunuhan dengan sengaja, [2] pembunuhan yang mirip dengan sengaja, dan [3] pembunuhan karena keliru.[2]

Yang dimaksud pembunuhan dengan sengaja (al-‘amd) ialah seorang mukallaf secara sengaja (dan terencana) membunuh orang yang terlindungi darahnya (tak bersalah), dengan dasar dugaan kuat bahwa dia harus dibunuh olehnya.

Adapun yang dimakasud pembunuhan yang mirip dengan sengaja (syibh al-’amd) ialah seorang mukallaf tidak merencanakan pembunuhan, namun ternyata korban meninggal dunia.

Sedangkan yang dimaksud pembunuh karena keliru (khata’) ialah seorang mukallaf melakukan perbuatan yang mubah baginya, seperti memanah binatang buruan atau semisalnya, ternyata anak panahnya nyasar mengenai orang hingga meninggal dunia.

B. KONSEKUENSI LOGIS TERHADAP JENIS PEMBUNUHAN DI ATAS

Untuk jenis pembunuhan yang ke [2] dan ke [3], maka pelakunya dikenakan hukuman harus membayar kafarah dan harus membayar diat bagi keluarga si pembunuh. Allah swt berfirman;

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (iidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah (mengikhlaskan pembunuh dengan tidak membayar diyat), jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya[337], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan Taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisaa’: 92)

Adapun untuk pembunuhan yang ke [1] disengaja dan terencana, maka pihak wali dari terbunuh diberi dua alternatif, yaitu menuntut hukum qishash, atau memaafkan dengan mendapat imbalan diat. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS Al-Baqarah: 178).

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, Beliau bersabda:

….. وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيْلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظِرِيْنَ: [1] إِمَّا أَنْ يُؤَدِّيْ وَ[2] إِمَّا أَنْ يُقَادُ …..

“….. Barang siapa yang dibunuh dan ia mempunyai keluarga, maka (pihak keluarganya) sebaik-baiknya penentu; [1] boleh menuntut diat, [2] boleh menuntut qhisash…..” (HR. Bukhariy, Tirmidziy, Ibnu Majah dan Abu Daud). [3]

Diat wajib ini sebagai ganti dari qishash. Oleh sebab itu, pihak keluarga terbunuh boleh berdamai dengan si pembunuh dengan jalan menuntut  selain diat, walaupun nilainya lebih besar daripada diat. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi saw:

مَنْ قَتَلَ عَمْدًا، دُفِعَ إِلَى أَوْلِيَاءِ الْقَتِيلِ: [1] فَإِنْ شَاءُوا قَتَلُوا، [2] وَإِنْ شَاءُوا أَخَذُوا الدِّيَةَ؛ وَذَلِكَ ثَلاَثُونَ حِقَّةً وَثَلاَثُونَ جَذَعَةً وَأَرْبَعُونَ خَلِفَةً، وَذَلِكَ عَقْلُ الْعَمْدِ، وَمَا صُولِحُوا عَلَيْهِ، فَهُوَ لَهُمْ، وَذَلِكَ تَشْدِيدُ الْعَقْلِ

“Barangsiapa yang membunuh (orang tak bersalah) secara sengaja (dan terencana), maka urusannya kepada pihak keluarga si terbunuh. Jika mereka mau, menuntut hukum balas membunuh; dan jika mau, mereka menuntut diat, yaitu (membayar) tiga puluh hiqqah (onta betina berusia tiga tahun yang masuk tahun keempat) dan tiga puluh jadza’ah (onta yang masuk tahun kelima) serta empat puluh khalifah (onta yang sedang bunting) dan, apa saja yang mereka tuntut kepada si pembunuh sebagai imbalan perdamaian, maka ia (imbalan itu) untuk mereka, dan yang demikian itu untuk penekanan pada diat.” (HR. Baihaqiy dan Ibnu Majah).[4]

Namun memaafkan secara cuma-cuma, tanpa menuntut apa-apa kepada si pembunuh adalah sikap yang amat sangat utama lagi mulia. Firman-Nya:

“Dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al-Baqarah: 237)

Nabi saw bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah harta yang berkurang sebab sedekah, dan tidaklah seorang hamba yang sering memaafkan melainkan Allah akan memberikannya kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan menambahkan derajatnya.” (HR. Muslim, Turmudziy, Malik, Darimy, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Thabraniy, Baihaqiy, dll).[5]

 

C. KLASIFIKAKASI PEMBUNUHAN OLEH TKI/TKW YANG DIPERKOSA

            Dilihat dari poin A pada jenis-jenis pembunuhan maka sangat jelas bahwa TKI/TKW yang membunuh karena alasan diperkosa adalah termasuk golongan ke dua, yakni: Pembunuhan Mirip Sengaja (Syibh al-‘Amd). Maka hukum yang semestinya diberikan kepada TKI/TKW tersebut adalah harus membayar kafarah dengan membebaskan budak dan harus membayar diat bagi keluarga si pembunuh. Berhubung budak sudah tidak ada maka hanya Diyat saja.

Allah swt berfirman;

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (iidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah (mengikhlaskan pembunuh dengan tidak membayar diyat), jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya[337], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan Taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisaa’: 92)

Dengan catatan apabila si TKI/TKW tidak bisa mencegah pemerkosaan terhadap dirinya dengan cara lain, namun apabila masih ada cara lain tapi dia lebih memilih membunuh karena alasan benci/dendam yang terakumlasi dan seterusnya maka pembunuhan olehnya termasuk gologan yang pertama, yakni pembunuhan disengaja.

 

Namun kasus ini meninggalkan catatan penting bagi pemerintah Arab Saudi:

  1. Alasan Negara Arab Saudi untuk memberikan hukuman pancung kepada TKI/TKW kita (sdr. Ruyati dll) adalah berlandaskan hukum Islam, akan tetapi sisi yang lain ada hukum Islam lain yang dilupakan, yakni: WANITA DILARANG KELUAR DARI RUMAH TANPA MAHRAM. Sedangkan Arab Saudi mau dan tanpa malu menampung TKI/TKW Indonesia dan lainnya dengan alasan kebutuhan. Disinilah letak ambivalensi (kalau tidak mau dibilang: kemunafikan!) kebijakan yang ditorehkan oleh pemerintahan Arab Saudi.
  2. Pemerkosa TKI/TKW tidak diproses dengan adil, bahkan terkesan membela warga negaranya
  3. TKI/TKW dan tidak didampingi oleh penasehat hukum yang layak, sehingga tersurat dan tersirat ketidak adilan di dalamnya.
  4. TKI/TKW tidak mendapatkan proses perlindungan yang maksimal dari Negara Saudi Arabia, bahkan terkesan tidak perduli.
  5. Orientasi kebanyakan orang Arab Saudi yang masih menganggap Tenaga Kerja Rumah Tangga merupakan pekerjaan yang tidak layak dan mirip dengan pekerjaan seorang Budak, sehingga berefek samping pada perlakukan mereka terhadap pembantu yang dianalogikan dengan budak.
  6. Kurang bekerjasama dengan Kedubes RI dalam kasus-kasus seperti ini, dan bahkan terkesan lebih superior dan menganggap remeh RI.

Dan kasus ini juga meninggalkan catatan penting bagi Negara Republik Indonesia:

  1. Lebih memaksimalkan kemampuan berbahasa TKI/TKI/TKW sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
  2. Lebih memaksimalkan keterampilan dan hak/kewajiban yang berkaitan dengan pekerjaannya.
  3. Lebih memaksimalkan pengetahuan TKI/TKI/TKW tentang hukum yang berlaku di negara tempat bekerja.
  4. Lebih memaksimalkan pelayanan dan pengawasan Kedubes RI terhadap TKI/TKI/TKW di luar negeri dengan memfasilitasi semua yang dibutuhkan TKI/TKI/TKW.
  5. Membuat dan/atau memperbaharui Memorandum Of Understanding (MoU) terhadap negara-negara penerima jasa TKI/TKI/TKW.
  6. Lebih memaksimalkan menyeret Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang bermasalah ke meja hijau.
  7. Hanya mengirum TKI/TKI/TKW ke negara-negara yang mempunyai perlindungan terhadap tenaga kerja yang baik, seperti Hongkong, Korea Selatan, Jepang, dan seterusnya.
  8. Tidak mengirim Tenaga Kerja di sektor Non Formal ke luar negeri.
  9. Membuka pasar tenaga kerja yang layak di Indonesia.

Wallahu A’lam


[1] [a] Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa al-Turmudziy al-Salamiy, Sunan al-Turmudziy, Beirut: Dar Ehya’ el-Turath, t.t., vol. V, h. 275.

[b] Muhammd bin Yazid Abu ‘Abd Allah al-Qazwainiy, Sunan Ibnu Majah, Beirut: Dar el-Fikr, t.t., vol. VIII, h. 48.

[c] Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Musa Abu Bakr al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubra, Mecca al-Mukarrah: Maktabah Dar el-Baz, vol. VII, h. 1448.

[2] Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin ‘Utsaimin, Syarh al-Mumti’ Zaad al-Mustaqni’, Kingdom of Sa’ud el-‘Arabiyyah (KSA): Dar Ibn el-Jauziy, cet. I, vol. IV, h. 5.

[3] [a] Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abd Allah al-Bukhariy al-Ja’fiy, Shahih al-Bukhariy, Beirut: Dar Ebn el-Kathir, 1407 H/1987 M, cet. III, vol. VI, h. 2522.

[b] Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa al-Turmudziy al-Salamiy, Sunan al-Turmudziy, Beirut: Dar Ehya’ el-Turath, t.t., vol. V, h. 291.

[c] Muhammd bin Yazid Abu ‘Abd Allah al-Qazwainiy, Sunan Ibnu Majah, Beirut: Dar el-Fikr, t.t., vol. VIII, h. 55.

[d] Sulaiman bin al-Asy’ats Abu Daud al-Sijistaniy al-Azdiy, Sunan Abiy Daud, Beirut: Dar el-Fikr, t.t., vol. XII, h. 91.

[4] [a] Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Musa al-Khusrawjirdiy Abu Bakr al-Baihaqiy, Sunan al-Kubra (Sunan al-Baihaqiy), Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1424 H/2003 M, cet. III, vol. VIII, h. 106 dan 126.

[b] Ibnu Majah Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Yazid al-Qazwainiy, Sunan Ibn Majah, Beirut: Dar Ehya’ el-Kutub el-‘Ilmiyyah, t.t., vol. II, h. 877.

[5] [a] Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusairiy al-Nisaburiy, al-Musnad al-Shahih al-Muhkhtashar Bi Naql al-‘Adl min al-‘Adl Ila Rasul Allah Shalla Allah ‘Alaih wa Sallam (Shahih Muslim), Beirut: Dar Ehya el-Turath, t.t., vol. IV. h. 2001.

[b] Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa al-Turmudziy al-Salamiy, Sunan al-Turmudziy, Egypt: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa al-Babiy al-Halbiy, 1395 H/1975 M, vol. V, h. 291.

[c] Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amir al-Ashbahiy al-Madaniy, Muwattha’ al-Imam Malik, Beirut: Mu’assasah el-Risalah, 1412 H, vol. II, h. 179.

[d] Abu Muhammad ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman al-Tamimiy al-Samarqand, Musnad al-Darimy, Kingdom of Sa’ud el-‘Arabiyyah (KSA): Dar el-Mughniy Li el-Nasyr wa el-Tauziy’, 1412 H/2000 M, cet. I, vol. II, h. 1042.

[e] Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu’adz al-Tamimiy Abu al-Hatim al-Darimy al-Bustiy, Shahih Ibn Hibban Bi Tartiyb Ibn Bulban, Beirut: Mu’assasah el-Risalah, 1414 H/1993 M, cet. II, vol. VIII, h. 40.

[f]  Abu Ya’la Ahmad bin ‘Aliy bin al-Mutsna bin Yahya bin ‘Iysa bin Hilal al-Tamimiy, Musnad Abiy Ya’la, Damaskus: Dar el-Ma’mun li al-Turath, 1404 H/1084 M, cet. I, vol. XI, h. 344.

[g] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Syamiy Abu al-Qasim al-Thabraniy, al-Mu’jam al-Awsath (Mu’jam al-Thabraniy), Cairo: Dar el-Haramain, t.t., vol. V, h. 205.

[h] Ahmad bin al-Husain al-Baihaqiy, Sunan al-Kubra (Sunan al-Baihaqiy), Op.Cit., vol. IV, h. 314.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 10 Desember 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: