Antara hak Istri pada Suami dan Taliban


Pertanyaan:

———————

Assalamu’alaikum.. Ustadz Sibuk nggak?
Bisa tolong jelaskan ke aku apa saja kewajiban2 suami pada istri dlm pernikahan plus ayat2 / hadits 2 yg menjadi dalil2nya?

Ku butuh u membantah pernyataan seorang muslimah aneh yg menyatakan bhw Islam tdk adil pd wanita yg bukti nyatanya adl ke frustasian wanita2 Taliban.
Maaf ngerepotin

————————————————————————————————————

Jawab:

—————–

A. HAK ISTRI ATAS SUAMI

1. Hak diberikan nafkah yang adil, tidak kurang ataupun royal.

Nafkah yang kurang akan membuat istri sengsara dan berkemungkinan akan membuatnya berpaling dari suami. Nafkah yang royal pun akan membuat istri berpaling kepada indahnya bunga dunia dan akan melupakan akhirat sehingga akan bergelimpangan dengan maksiat dan hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْقُشَيْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟، قَالَ:أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Dari Hakim bin Mu’awiyah al-Qusyairiy, dari Ayahnya, berkata dia: Saya bertanya: Wahai Rasulullah, apakah hak Istri kami atas kami? Rasulullah saw menjawab: “(1)Wajib memberinya makan jika kamu makan, (2)wajib memberinya pakaian jika kamu berpakaian, (3)Haram memukul wajah, (4)Haram menjelek-jelekkan, dan (5)[jika kamu marah padanya] haram menjauhinya kecuali di rumah saja. (HR. Abu Daud dan Baihaqiy)[1]

 

2. Hak untuk dipergauli dengan cukup (adil) dan baik.

Allah swt berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (النساء: 19)

       “Dan pergauilah mereka (istri-istri ) dengan baik. (QS.An-Nisa: 19)

Mempergauli istri baik untuk nafkah batin atau untuk mendidik mereka haruslah dengan cara yang baik, suami dilarang berbuat kasar terhadap istri dalam mendidik mereka dan tidak boleh pula terlalu lembek sehingga wibawa seorang suami menjadi hilang.

Rasulullah saw bersabda:

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesunggguhnya (perumpamaan mereka seperti) diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah atasnya, jika terlalu kuat meluruskannya maka dia akan patah,  jika terlalu lembek maka dia akan tetap dalam kebengkokannya, maka pergauilah wanita dengan baik.” (HR. Bukhari, Turmudzi dan Abu Ya’la).[2]

2. Hak diperlakukan penuh kelembutan dalam persamaan

 

Kelembutan dalam persamaan ini sesuai dengan tabiat hati wanita, karena sesunguhnya Rasulullah berakhlak sempurna kepada istri-istrinya sehingga akhlak beliau sangat berbekas di benak istri-istinya.

‘Aisyah berkata:

سَابَقَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبَقْتُهُ، فَلَمَّا حَمِلْتُ اللَّحْمَ سَابَقَنِيْ فَسَبَقَنِيْ، وَقَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ

“Pada suatu saat Rasulullah saw dan aku main kejar-kejaran, dan aku memenangkannya, namun tatkala aku hendak mengambil satu daging beliau mendahuluiku seraya berkata (sambil bercanda): “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan waktu itu waktu main kejar-kejaran.” (Diriwayatkan oleh: al-Nasa’iy, Ahmad dan Ibnu Syaibah)[3]

Sesungguhnya dengan candaan Rasulullah seperti ini dapat dilihat betapa lembut dan romantisnya beliau dalam memperlakukan istri-istrinya. Dan masih banyak contoh hadits lainnya.

3. Hak untuk dicemburui

 

Wajib bagi suami untuk mencemburui istrinya, cemburu di sini bukan cemburu membabi buta, akan tetapi cemburu apabila istrinya melakukan maksiat kepada Allah dan suami.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وَالمُؤْمِنُ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah itu pencemburu, dan seorang yang beriman itu pencemburu. Cemburunya Allah adalah apabila seorang mukmin mendatangi apa-apa yang telah diharamkan.” (HR. Turmudziy, Abu Ya’la dan Ibnu Hibban)[4]

B. HAK SUAMI ATAS ISTRI

1. Hak ditaati istri selain perkara maksiat

 

Ketaatan ini baik dalam bentuk lahir maupun batin, lahir berarti dukungan moral terhadap suami, dan batin berarti melayani suami dalam kebutuhannya. Ketaatan ini wajib hukumnya selama bukan dalam perkara dosa kepada Allah dan manusia.

Rasulullah saw bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِراً أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Andaikata saya boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud pada orang lain, maka niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud pada suaminya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, Nasai’y, Tahbraniy, Hakim, Baihaqiy, dan Ibnu Hibban, dll).[5]

Namun apabila sudah masuk ranah maksiat maka diharamkan bagi istri untuk mentaati perintah suami.

Rasulullah saw bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, sesungguhnya ketaatan itu adalah pada hal yang baik-baik saja.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, An-Nasa’I,  Ibnu Majah, Ahmad, Nasa’iy, Ibnu Hibban,  Baihaqi dan Thabrani, dll)[6]

2. Hak untuk menjaga harta suaminya

 

Rasulullah saw bersabda:

لَا يَجُوزُ لِامْرَأَةٍ عَطِيَّةٌ، إِلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا

“Tidak diizinkankan bagi seorang istri memberi sesuatu dari harta suaminya kecuali atas izinnya” (HR. Abu Daud, Nasa’iy, Ahmad dan Baihaqiy)[7]

Kecuali apabila tidak diberikan kepada orang lain maka makanan/sesuatu itu akan rusak/busuk/binasa maka diperkenankan dengan alasan darurat.

3. Tidak keluar dari rumah kecuali darurat dan/atau atas izin suaminya

 

Rasulullah saw bersabda:

أَيَّمَا امْرَأَةٍ خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا بِغَيْرِ إِذْنِ زَوْجِهَا كَانَتْ فِيْ سُخْطِ اللهِ تَعَالَى حَتَّى تَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهَا أَوْ يَرْضَى عَنْهَا زَوْجُهَا

“Istri manapun yang keluar dari rumah tanpa izin suaminya maka dia mendapat kutukan Allah swt sampai dia pulang kembali ke rumahnya atau sampai suaminya ridha kembali” (HR. Ahmad, Nasa’iy, Ahmad dan Baihaqiy)[8]

C. KONKLUSI

Pada intinya hak istri atas suami ada dua:

1. Hak lahir

  • Hak mahar yang disepakati
  • Hak nafkah semampu suami dan adil (bagi yang dipoligami)

2. Hak batin

  • Hak digauli/jima’
  • Hak diberikan keadilan jima’ antar istri (bagi yang dipoligami)
  • Hak diberikan pendidikan/nasehat Islami
  • Hak berinteraksi dengan baik
  • Hak ketiadaan kezaliman

Adapun hak suami atas istri adalah:

  • Hak untuk ditaati dan dipenuhi kebutuhannya lahir batin selagi bukan maksiat
  • Hak untuk dijaga hartanya
  • Hak untuk menjaga dirinya sendiri dan tidak keluar rumah kecuali untuk urusan darurat dan/atau atas izin suami

D. KASUS TALIBAN

Adapun para wanita/istri-istri Taliban atau di Afghanistan merasa frustasi dengan sikap kasar dan ketat berlebihan dari suami mereka itu adalah adat, bukan agama. Saya rasa yang membuat analogi ini justru frustasi ingin menghancurkan Islam dari berbagai cara, diambillah contoh di afghanistan yang jelas-jelas dikuasai oleh muslim garis keras. Sedangkan Rasulullah dan para sahabat tidak mencontohkan demikian, bahkan sebaliknya sebagaimana yang telah saya jabarkan di atas.

Wallahu A’lam

END NOTE:


[1] (a) Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin ‘Amr al-Azdiy al-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah, t.t., vol. II, h. 244.

(b) Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Musa al-Khusraujirdiy al-Khurasaniy, al-Sunan al-Shaghir li al-Baihaqiy, Karachi: Jami’ah al-Dirasat al-Islamiyyah, 1410 H/1989 M, cet. I, vol. III, h. 93.

[2] (a) Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abd Allah al-Bukhariy al-Ja’fiy, al-Jami’ al-Musannad al-Shahih al-Mukhtashar Min Umuwr Rasulillah saw Wa Sunanih Wa Ayyaamih (Shahih al-Bukhariy), Damaskus: Dar Thuq al-Najah, 1422 H, cet. II, vol. VII, h. 26.

(b) Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin al-Dhahhak al-Turmudziy, Sunan al-Turmudziy, Egypt: Syirkah Maktabah Wa Mathba’ah al-Babiy al-Halabiy, 1395 H/1975 M, cet. II, vol. III, h. 459.

(c) Abu Ya’la Ahmad bin ‘Aliy bin al-Mutsniy bin Yahya bin ‘Isa bin Hilal al-Tamiymiy al-Mousuliy, Musnad Abi Ya’la, Damaskus: Dar al-Ma’mun Li al-Turath, 1404 H/1984 M, cet. I, vol. XI, h. 85.

[3] (a) Abu ‘Abd al-Rahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Aliy al-Khurasaniy, al-Sunan al-Kubra (Sunan Nasa’iy), Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1421 H/2001 M, cet. I, vol. VIII, h. 117.

(b) Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaibaniy, Musnad al-Imam Ahmad  bin Hanbal, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1421 H/2001 M, cet. I, vol. 41, h. 447.

(c) Abu Bakr bin Abi Syaibah ‘Abd Allah bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Utsman bin Khawasity al-‘Abasiy, al-Kitab al-Mushannaf fi al-Ahadiyts wa al-Aatsaar, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1409 H, cet. I, vol. VI, h. 531.

[4]  (a) Al-Turmudziy, Sunan al-Turmudziy, Loc.Cit., vol. III, h. 457.

(b) Abu Ya’la, Musnad Abi Ya’la, Loc.Cit., vol. X, h. 395.

(c) Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu’adz al-Tamimiy Abu al-Hatim al-Darimy al-Bustiy, Shahih Ibn Hibban Bi Tartiyb Ibn Bulban, Beirut: Mu’assasah el-Risalah, 1414 H/1993 M, cet. II, vol. I, h. 528.

[5]  (a) Al-Turmudziy, Sunan al-Turmudziy, Loc.Cit., vol. III, h. 463.

(b) Ibnu Majah Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Yazid al-Qazwainiy, Sunan Ibn Majah, Beirut: Dar Ehya’ el-Kutub el-‘Ilmiyyah, t.t., vol. II, h. 955.

(c) Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Loc.Cit., vol. XX, h. 65.

(d) Abu ‘Abd al-Rahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Aliy al-Khurasaniy al-Nasa’iy, al-Mujtabaa Min al-Sunan = al-Sunan al-Shughraa Li al-Nasa’iy, Aleppo: Maktab al-Mathbu’aat al-Islamiyyah, 1406 H/1986 M, cet. II, vol. VIII, h. 253.

(e) Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Syamiy Abu al-Qasim al-Thabraniy, al-Mu’jam al-Awsath (Mu’jam al-Thabraniy), Cairo: Dar el-Haramain, t.t., vol. IX, h. 81.

(f) Abu ‘Abd Allah al-Hakim Muhammad bin ‘Abd Allah bin Muhammad bin Hamdaweh bin Nu’aim al-Naisaburiy, al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain (Li al-Hakim), Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyya, 1411 H/1990 M, cet. I, vol. II, h. 206.

(g) Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Musa al-Khusraujirdiy al-Khurasaniy al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubraa, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1424 H/2003 M, cet. III, vol. VII, h. 134.

(h) Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban, Loc.Cit., vol. IX, h. 470.

[6]  (a) Muhammad bin Isma’il, Shahih al-Bukhariy, Loc.Cit., vol. IX, h. 88.

(b) Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusairiy al-Nisaburiy, al-Musnad al-Shahih al-Muhkhtashar Bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl Ila Rasul Allah Shalla Allah ‘Alaih wa Sallam (Shahih Muslim), Beirut: Dar Ehya el-Turath, t.t., vol. III. h. 1469.

(c) Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abi Dawud, Loc.Cit., vol. III, h. 1469.

(d) Al-Turmudziy, Sunan al-Turmudziy, Loc.Cit., cet. II, vol.      IV, h. 209.

(e) Abu ‘Abd al-Rahman Ahmad al-Nasa’iy, al-Sunan al-Shughraa Li al-Nasa’iy, Loc.Cit., vol. VII, h. 159.

(f) Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, Loc.Cit., vol. II, h. 955.

(g) Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad  bin Hanbal, Loc.Cit., vol. II, h. 128.

(h) Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban, Loc.Cit., vol. X, h. 429.

(i)  Ahmad bin al-Husain al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubraa, Loc.Cit., vol. III, h. 117.

(j)  Sulaiman bin Ahmad al-Thabraniy, Mu’jam al-Thabraniy, Loc.Cit vol. II, h. 92.

[7] (a) Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abi Dawud, Loc.Cit., vol. III, h. 293.

(b) Abu ‘Abd al-Rahman Ahmad al-Nasa’iy, al-Sunan al-Shughraa Li al-Nasa’iy, Loc.Cit., vol. V, h. 565.

(c) Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad  bin Hanbal, Loc.Cit., vol. XI, h. 271.

(d) Ahmad bin al-Husain al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubraa, Loc.Cit., vol. II, h. 301.

[8]  Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad  bin Hanbal, Loc.Cit., vol. XII, h. 311.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 13 Desember 2011, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: