RASULULLAH PHEDOFILIA? FITNAH KEJAM..!


asalamulaikum pa ustad aku mau bertanya.pada usia berapa aisyah menikah nabi saw? Dalam hadits Dia dikatakan sunting pada umur 7 tahun,apa itu benar? Tapi ada yang beranggap belasan tahun, lantas dimana yang benar?

——————————————————————————————————————————————–

Jawab:

BAB I

PENDAHULUAN

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah dan shalawat beserta salam hanya untuk baginda kita nabi besar Muhammad saw. Sebagaimana yang telah dimafhumi seluruh umat Islam, kemulian Islam dan nabi Muhammad saw menjadi salah satu hal yang membuat umat non Islam terpesona, benci dan perpaduan antara terpesona dan benci.

Bagi yang terpesona maka ada dua kemungkinan, dia akan masuk Islam karena kebenarannya atau dia akan termasuk non Islam yang tidak memerangi Islam atau bahkan malah membela keberadaan Islam sebagaimana Abu Thalib paman Nabi Muhammad saw.

Adapun yang benci ada dua kemungkinan, dengan kebenciannya dia akan mencari kelemahan Islam sehingga pada titik tertentu dia tidak akan menemukan satu celah pun kelemahan Islam dan tersadar bahwa ini adalah Agama yang benar sehingga dia berbalik menjadi pemeluk Islam. Dan kemungkinan yang kedua, dia tetap dalam kebenciannya meskipun dia tahu itu adalah agama yang benar dan menjadi termasuk para pembenci, penghasut bahkan orang-orang yang memerangi Islam.

 

BAB II

PEMBAHASAN

Salah satu senjata orang-orang orientlis kafir dan para munafikin dari kalangan muslim adalah hadits-hadits pernikahan nabi Muhammad saw dengan ‘Aisyah yang masih di bawah umur.

Ada silang pendapat mengenai umur ‘Aisyah ketika dinikahi Rasulullah saw, hal ini dikarenakan banyaknya hadits yang semuanya bertumpu kepada satu orang bernama Hisyam bin ‘Urwah, ada hadits yang mengatakan umur ‘Aisyah 6 tahun ketika dinikahi dan digauli ketika berumur 9 tahun dan ada hadits (masih diriwayatkan Hisyam bin ‘Urwah) bahwa beliau dinikahi nabi saw pada umur 7 tahun dan pengumuman pernikahannya pada umur 9 tahun.

Sebelumnya sangat banyak lafal hadits tentang pernikahan ‘Aisyah ini, namun untuk menghemat waktu dan tempat penulis hanya mengutip dari al-Bukhariy dan Muslim sebagai sesahih-sahihnya kitab dan periwayatan setelah kitabullah al-Qur’an al-Karim. Berikut haditsnya:

 

A. Versi pertama

1. Rasulullah saw menikahi ‘Aisyah ra ketika berusia 6 tahun dan tinggal satu rumah ketika berusia 9 tahun, ini berdasarkan Hadits dari Muslim yang diriwayatkan seorang Sahabat bernama Hisyam bin ‘Urwah:

 

وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، ح وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، وَاللَّفْظُ لَهُ، حَدَّثَنَا عَبْدَةُ هُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: « تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ »

“[1] Menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, mengkabarkan kepada kami Abu Mu’awanah, dari Hisyam bin ‘Urwah; [2] Menceritakan kepada kami Ibnu Numair -sedangkan lafal darinya-, telah menceritakan kepada kami Abdah, yakni Ibnu Sulaiman, dari Hisyam dari Bapaknya (‘Urwah), dari ‘Aisyah beliau berkata: “Nabi saw menikahiku ketika aku berumur 6 tahun dan berumah tangga denganku ketika aku berumur 9 tahun.” (HR. Muslim nomor 1422)[1]

 

2. Rasulullah saw menikahi ‘Aisyah ra ketika berusia 6 tahun dan tinggal satu rumah ketika berusia 9 tahun, ini berdasarkan Hadits dari al-Bukhariy yang diriwayatkan seorang Sahabat bernama Hisyam bin ‘Urwah:

حَدَّثَنِي فَرْوَةُ بْنُ أَبِي المَغْرَاءِ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الحَارِثِ بْنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعَرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فَأَتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وَإِنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، وَمَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بِي فَأَتَيْتُهَا، لاَ أَدْرِي مَا تُرِيدُ بِي فَأَخَذَتْ بِيَدِي حَتَّى أَوْقَفَتْنِي عَلَى بَابِ الدَّارِ، وَإِنِّي لَأُنْهِجُ حَتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أَخَذَتْ شَيْئًا مِنْ مَاءٍ فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَرَأْسِي، ثُمَّ أَدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي البَيْتِ، فَقُلْنَ عَلَى الخَيْرِ وَالبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِنَّ، فَأَصْلَحْنَ مِنْ شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

“Telah menceritakan kepadaku Farwah bin Abiy al-Maghra’, menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Mushir, dari Hisyam dari Bapaknya (‘Urwah), dari ‘Aisyah ra beliau berkata: “Nabi menikahiku ketika aku berumur 6 tahun, kemudian kami pergi ke Madinah dan kami tinggal di Bani Harits bin Khazraj. Kemudian aku terserang penyakit demam panas yang membuat rambutku banyak yang rontok. Kemudian ibuku, Ummu Ruman, datang ketika aku sedang bermain-main dengan beberapa orang temanku. Dia memanggilku, dan aku memenuhi panggilannya, sementara aku belum tahu apa maksudnya memanggilku. Dia menggandeng tanganku hingga sampai ke pintu sebuah rumah. Aku merasa bingung dan hatiku berdebar-debar. Setelah perasaanku agak tenang, ibuku mengambil sedikit air, lalu menyeka muka dan kepalaku dengan air tersebut, kemudian ibuku membawaku masuk ke dalam rumah itu. Ternyata di dalam rumah itu sudah menunggu beberapa orang wanita Anshar. Mereka menyambutku seraya berkata: ‘Selamat, semoga kamu mendapat berkah dan keberuntungan besar.’ Lalu ibuku menyerahkanku kepada mereka. Mereka lantas merapikan dan mendandani diriku. Tidak ada yang membuatku kaget selain kedatangan Rasulullah saw. Ibuku langsung menyerahkanku kepada beliau, sedangkan aku ketika itu baru berusia sembilan tahun.” (HR. Al-Bukhariy nomor 3894)[2]

 

B. Versi KEDUA

1. Rasulullah saw menikahi ‘Aisyah ra ketika berusia 7 tahun dan tinggal satu rumah ketika berusia 9 tahun, ini berdasarkan Hadits dari Muslim yang diriwayatkan seorang Sahabat yang bernama Hisyam bin ‘Urwah:

وحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ، وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ، وَلُعَبُهَا مَعَهَا، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ»

“Menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid, mengkabarkan kepada kami ‘Abd al-Razaq, mengkabarkan kepada kami Ma’mar, dari al-Zuhriy, dari ‘Urwah (bapaknya Hisyam), dari ‘Aisyah beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi saw menikahinya (‘Aisyah) pada umur 7 tahun. Penikahan beliau dengan Nabi diumumkan ketika beliau berumur sembilan tahun, ketika beliau masih menggendong mainannya. Nabi meninggalkan beliau (wafat), ketika beliau berusia delapan belas tahun.” (HR. Muslim nomor 1422)[3]

 

BAB III

BEDAH FORENSIK HADITS

Untuk menjadi dasar suatu hukum yang kuat maka Hadits harus berstatus Sahih. Sebagaimana yang telah kita mafhumi dalam ilmu pokok hadits (Ushul al-Hadits/Mushthalah al-Hadits) bahwasanya hadits dapat dipandang sahih jika memenuhi dua standar: (1) Sahih Matan (teks), dan (2) Shahih Sanad (perawi).

Secara Matan (teks), pernikahan Rasulullah saw dengan ‘Aisyah ra pada umur 6 tahun dalam hadits ini sangat bermasalah, karena bertentangan dengan sejarah dan logika bahasa. Dan secara sanad pun ternyata perawi bermasalah dengan kridebilitasnya.

 

A. PERTENTANGAN SEJARAH

1. Menurut Imam al-Thabariy

حدث علي بن محمد عمن حدثه ومن ذكرت من شيوخه قال : تزوج أبو بكر في الجاهلية قتيلة (ووافقه على ذلك الواقدي والكلبي قالوا : وهي قتيلة ابنة عبدالعزى بن عبد بن أسعد بن جابر بن مالك بن حسل بن عامر بن لؤي)، فولدت له عبد الله وأسماء . وتزوج أيضا في الجاهلية أم رومان بنت عامر بن عميرة بن ذهل بن دهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة (وقال بعضهم : هي أم رومان بنت عامر بن عويمر بن عبد شمس بن عتاب بن أذينة بن سبيع بن دهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة)، فولدت له عبدالرحمن وعائشة . فكل هؤلاء الأربعة من أولاده ولدوا من زوجتيه اللتين سميناهما في الجاهلية

‘Aliy bin Muhammad meriwayatkan dari para gurunya, beliau berkata: “Abu Bakr menikah dengan Qutailah (pernikahan dengannya ini dibenarkan oleh al-Waqidiy dan al-Kalbiy, mereka berkata: dia itu Qutailah anaknya ‘Abd al-‘Uzza bin ‘Abd bin As’ad bin Jabir bin Malik bin Hasl bin ‘Amir bin Lu’ay) maka dari rahimnya lahirlah ‘Abd Allah dan Asma’. Abu Bakr juga menikahi juga Ummu Ruman binti ‘Amir bin ‘Amirah bin Dzahl bin Dahman bin al-Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah (sebagian ahli sejarah berkata: Ummu Ruman itu anaknya ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abd al-Syams bin ‘Itab bin Udzainah bin Sabi’ bin Dahman bin al-Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah), dari rahimnya lahir ‘Abd al-Rahman dan ‘Aisyah. Maka seluruh anak Abu Bakr yang empat tersebut telah lahir dari kedua istrinya yang dinikahi pada masa Jahiliyah.[4]

 

Menurut al-Thabari, ‘Aisyah lahir pada zaman jahiliah. Sebagaimana yang telah kita ketahui, zaman jahiliah musnah pada tahun 610 M karena pada waktu itu turun wahyu pertama (umur Nabi 40 tahun), dan jika hadits di atas benar berarti umur Rasulullah ketika menikah dengan ‘Aisyah ra pada tahun 616 M yaitu 46 tahun.

Ini adalah mustahil, berarti pernikahan ini terjadi pada tahun ke 6 kenabian. Mengapa mustahil? Karena pada saat itu Rasulullah masih menikah dengan Khadijah ra! Ya, karena pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah (menurut mayoritas ahli sejarah Islam) selama 25 s/d 26 tahun, yakni pada saat umur Rasulullah saw 25 tahun sampai dengan 50 / 51 tahun. Perbandingannya sama dengan Khadijah berumur 40 sampai beliau wafat berusia 65 tahun (yakni pada tanggal 10 s/d 15 Ramadhan tahun ke 10 kenabian). Betapa mustahilnya!

Ini berarti jika kita mereka-reka usia ‘Aisyah sesuai dengan pendapat al-Thabariy tahun 609 M (masa jahiliah/satu tahun sebelum kenabian) ditambah dengan wafatnya Khadijah pada bulan Ramadhan tahun 10 kenabian maka umur ‘Aisyah ini saja sudah 11 tahun. Apatah lagi di dalam sejarah dijelaskan, bahwa Rasulullah saw menikah lagi dua tahun kemudian dengan Saudah (65/72 tahun) untuk membimbing anaknya Fathimah yang masih kecil, dan dua bulan kemudian menikah lagi dengan ‘Aisyah. Ini berarti Umur ‘Aisyah ketika dilamar umur 13 tahun dua bulan.

Dari sini saja secara sejarah Hadits ini sudah terlihat dha’ifnya. Dalam sejarah yang kita tahu, Rasulullah saw menikahi ‘Aisyah jauh setelah Khadijah wafat!

Belum lagi menurut riwayat Ibn Hajar Al-Asqalani, “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 atau 74 H.” Berdasarkan pendapat sebagian besar ahli sejarah, Asma saudara tertua Aisyah, berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun di tahun 73 H, maka Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622 M). Dengan demikian, bila Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah, maka Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi suka atau tidak suka, pendapat ketiga ini menunjukkan kalau Aisyah ketika hijrah dan berumah tangga di usia 17 atau 18 tahun.[5]

 

B. PERTENTANGAN BAHASA

Secara bahasa, Bikr (بِكْرٌ ) adalah gadis remaja menuju dewasa (aqil baligh) sedangkan secara bahasa untuk gadis muda (wong cilik) dalam bahasa arab adalah Jariyah (جَارِيَةٌ).i[6] Kalu kita katakan gadis remaja sudah pasti siapapun di manapun dan kapanpun tidak mungkin ada yang akan mengatakan berumur 6 atau 7 tahun.

Kebahasaan ini mirip dengan syarat pernikahan dalam fiqh (produk hukum Islam) yang mensyaratkan bagi mempelai laki-laki atau perempuan wajib aqil baligh.[7]

 

C. PERTENTANGAN KRIDEBILITAS PERAWI

Salah satu pertimbangan kesahihan suatu hadits adalah kredibilitas perawinya. Sekarang sejenak kita lihat sejarahnya. Tidak ada sahabat-sahabat nabi lainnya menceritakan umur Aisyah ra saat menikah. Hanya ada Hisyam bin Urwah! Ada apa dengan Hisyam bin Urwah?

Tentang Hisyam bin Urwah, dua ulama besar pernah menjadi muridnya, yaitu Imam Malik dan Imam Hanafi. Hadits ini tidak tercatat dalam kitab Muwattha’ yang di tulis oleh muridnya Hisyam bin Urwah, yaitu Imam Malik. Hadist ini tidak tercatat di kitab-kitab yang ditulis Abu Hanifah. Ya tidak tercatat! Bagaimana mungkin!

Ibnu Hajar mengatakan, “Penduduk Madinah menolak riwayat Hisyam bin Urwah yang diceritakan orang-orang Iraq.”

Dalam kesempatan lain Ibnu Hajar mengatakan tentang Hisyam bin Urwah sebagai seorang Mudallis (suka menjelek-jelekkan gurunya). Ya’qub bin Abi Syaibah berkata: “ Hisyam adalah orang yang tsiqoh (terpercaya) , tidak ada riwayatnya yang dicurigai, kecuali setelah ia tinggal di Irak.”[8]

Cukup mengejutkan setelah kita mengetahui bahwa para perawi hadits umur Aisyah ra. semuanya penduduk Iraq.

Dari penduduk Basrah, Iraq: Hammad bin Salamah Al-Basri Jafar bin Sulaiman Al-Basri Hammad bin Said Basriy Wahab bin Khalid Basriy Itulah orang-orang yang meriwayatkan hadist umur Aisyah ra dari Hisyam bin Urwah.

Dari orang-orang Kufah, Iraq: Sufyan bin Said Al-Thawriy Al-Kufiy Sufyan bin ‘Ainia Al-Kufiy Ali bin Masâher Al-Kufi Abu Muawiyah Al-Farid Al-Kufiy Waki’ bin Bakar Al-Kufiy Yunus bin Bakar Al-Kufiy Abu Salmah Al-Kufiy Hammad bin Zaid Al-Kufiy Abdah bin Sulaiman Al-Kufiy.

Hisyam hijrah ke Iraq ketika berumur 71 tahun. Adalah aneh jika selama hidupnya Hisyam bin Urwah tidak pernah menceritakan hadits ini kepada murid-muridnya seperti Imam Malik dan Imam Hanafi dan sahabat-sahabatnya di Madinah selama 71 tahun tinggal di Madinah.

Justru ia menceritakan hadist ini ketika hari tua menjelang ajalnya kepada orang-orang Iraq. Lebih aneh lagi ketika kita mengetahui bahwa tidak ada penduduk Madinah atau Mekkah yang ikut meriwayatkan hadist tersebut.

Bukankah Madinah adalah tempat dimana Aisyah ra dan Rasulullah saw pernah tinggal, serta tempat dimana penduduk Madinah menyaksikan waktu dimana Aisyah ra mulai berumah tangga dengan Rasulullah saw. Lalu mengapa orang-orang Iraq yang memiliki hadits ini?

 

BAB IV

PENUTUP DAN KONKLUSI

Kita tidak perlu meragukan nasihat dan ilmu yang dimiliki Hisyam bin Urwah saat ia tinggal di Madinah. Namun kita perlu memperhatikan pendapat ulama-ulama salaf yang menolak semua hadist yang di riwayatkan Hisyam bin Urwah saat ia tinggal di Iraq.

Ketidaktelitian riwayat Hisyam ini memang tidak mengalami masalah di zaman dahulu, namun berakibat buruk saat ini. Di abad ini, tanpa disadari oleh ulama-ulama hadits di zaman dahulu, masalah umur Aisyah ra telah menjadi fitnah yang keji terhadap pribadi Rasulullah saw yang mencederai keperibadian Rasulullah saw berabad kemudian. Dan kita berkewajiban untuk meluruskannya sekuat tenaga kita, dengan bantuan Allah. Insya Allah.

Di atas penulis sudah mengungkapkan argumentasi berdasarkan data otentik dari literatur Islam Hadits dan dari kitab para Ulama yang mu’tabar tentang kelemahan hadits pernikahan dini ‘Aisyah ra dengan nabi Muhammad saw di atas.

Dan di bawah penulis mencoba mengungkapkan hadits tersebut yang tidak dapat dibuktikan keotentikannya dan diragukan kredibilitas perawinya, namun dengan logika:

1. Bertentangan Dengan Fitrah dan akal sehat manusia

2. Tidak pernah ditemukan contoh serupa di tanah Arab

3. Kisah ini diceritakan oleh Hisyam dalam usia ‘Uzur

4. Kisah ini hanya dicertakan di Irak

5. Ketika perang ‘Aisyah ra mengelap luka dan hingus Usamah Bin Zaid ra yang dikatakan sebaya (waktu itu umurnya sekitar 18 tahun)

6. ‘Aisyah ra turut serta di dalam Perangan Badar dan Uhud, padahal waktu itu anak-anak tidak boleh ikut perang

7. ‘Aisyah ra lebih muda 10 tahun dari kakaknya Asma, dan semasa peristiwa hijrah Asma ra berumur 27 atau 28 Tahun

8. Ahli Sejarah al-Thabariy mengatakan ‘Aisyah ra lahir di Zaman Jahilliyah (Sebelum Kerasulan)

9. ‘Aisyah ra adalah termasuk orang-orang yang paling awal memeluk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun)

10. ‘Aisyah ra disebut sebagai Gadis dan bukan Kanak-kanak ketika hendak dinikahkan dengan Rasulullah

11. Rasullulah tidak tinggal bersama ‘Aisyah ra karana masalah Mahar, bukan kerana umur Aishah yang terlalu muda

12. Hadist dan Fiqh mensyaratkan Gadis yang hendak menikah wajib Cukup Umur (aqil baligh)

13. Kedahsyatan luar biasa ‘Aisyah ra menghafal Syair pada Zaman Jahiliyah membuktikan beliau ‘Aisyah ra lahir di Zaman Jahiliyah

14. Kedahsyatan luar biasa ‘Aisyah ra dalam Sastra, Ilmu Salasilah dan Sejarah di Zaman Jahiliyah

15. ‘Aisyah ra sebagai Ibu Angkatnya Bashar ra yang berumur tujuh tahun setelah Perang Uhud, mungkinkah jika umurnya masih 6 tahun??

16. Mungkinkah Rasulullah saw dan para sahabat yang hidup dalam masyarakat madani bisa menikahi anak di usia dini?

17. Semua logika manusia menolak hadits ini apatah lagi jika dikonfrontasi dengan sejarah.

Wallahu A’lam.

————————————————————————————————————————————————–

 

 

 

END NOTE:

[1] Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairiy al-Naisaburiy, al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘An al-‘Adl Ila Rasul Allah saw (Shahih Muslim), Beirut: Dar Ehya el-Turath el-‘Arabiy, t.t., vol. II, h. 1039.

[2] Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abd Allah al-Bukhariy al-Ja’fiy, al-Jami’ al-Musnid al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasul Allah saw wa Sunanih wa Ayyamih (Shahih al-Bukhariy),  Egypt: Dar Thuq el-Najah, 1422 H, cet. IX, vol. V, h. 55.

[3] Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Ibid.

[4] Muhammad bin Jarir al-Thabariy, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1407 H, cet. I, vol. II, h. 351.

[5] Syams al-Diyn Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman bin Qoymaz al-Dzahabiy, Siyar A’lam al-Nubala’, Beirut: Mu’assasah el-Risalah, 1405 H/1985 M, cet. III, vol. II, h. 289.

[6] Louis Ma’luf al-Suyu’iy dan Ferdinand Totel al-Suyu’iy, al-Munjid fi al-Lughah wa al-Alam, Beirut: Dar al-Masyriq, 1994 M, cet. XXXIV, h. 46.

[7] ‘Utsman bin ‘Aliy bin Muhjin al-Bari’iy, Tabyiyn al-Haqa’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq wa Hasyiah al-Syilbiy, Cairo: Maktabah al-Kubra al-Amiriyah, t.t., cet. 1313, vol. II, h. 95.

[8] Abu Fadhl Ahmad bin ‘Aliy bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-‘Asqalaniy, al-Ishabah fiy Tamyiyz al-Shahabah, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1415 H, cet. I, vol. VIII, h. 232.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 8 Januari 2012, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: