Rasulullah pembantai perempuan? plis deh, baca dong sejarah…


Pertanyaan:

http://www.youtube.com/watch?v=aoT8jruvj3s&feature=share

Asmaa Bin Marwan itu siapa?
Benarkah dia dibunuh spt itu, oleh Rasul dan pengikutnya?

Jawab:

BAB I

PENDAHULUAN


Kaum kafir dan munafik tidak henti-hentinya berupaya meredupkan cahaya Allah dan Islam, serta merusak wibawa dan akhlak Rasulullah dan para sahabat di mata umat manusia. Hal ini tidak aneh, sebab sudah menjadi sunnatullah dimana ada Utara pasti ada Selatan, ada kanan pasti ada kiri, ada cahaya pasti ada kegelapan, ada jalan yang lurus pasti ada pula jalan yang sesat dan ada kaum muslimin taat pasti ada ditemukan kaum muslimin munafik yang bekerjasama dengan kaum kafir untuk merusak agama Allah dan menghancurkan pengikut-Nya.

Kaum munafikin lebih berbahaya dibandingkan dengan kaum kafir. Ibarat duri, memang kecil tapi menusuk dalam dan meyakitkan, dan tidak bisa dihilangkan sakit itu kecuali dengan mencabutnya sampai kedalam-dalamnya.

BAB II

PEMBAHASAN

 

Kisah kaum munafik banyak di temukan pada zaman Rasulullah saw, diantara mereka ada yang munafik pasif dan ada munafik aktif (baca: zindiq) yang terang-terangan memusuhi Allah dan Rasul-Nya padahal dia mengaku Muslim. Semua nama-nama mereka itu dicatat dalam sejarah dengan tinta darah, karena sebab merekalah banyak peperangan terjadi dan tumpahlah darah mengucur ke bumi. Mereka adalah: ‘Ashma binti Marwan, Rafi’ bin ‘Abd Allah, Ummu Qirfah, dan puluhan nama lainnya. Mereka adalah para pengkhianat agama dan negara, disebut pekhianat agama karena mereka mengkhianati agamanya Islam dengan merusaknya, dan disebut pengkhianat negara karena mereka melanggar Piagam Madinah yang menyatakan tidak akan memprovokasi agama manapun satu sama lain.

Betapa bahayanya kaum munafik sampai-sampai Allah swt pun menyatakan dengan tegas dalam surah al-Qur’an al-Baqarah 8-10:

“(8) Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (9) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (10)  Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”

Dan dalam QS. Al-Munafiqun: 1-8

“(1) Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (2) Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (3) Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (4) Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (5) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (6) Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (7) Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. (8) Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”

 

ASHMA’ BINTI MARWAN

Wanita ini termasuk dedengkot wanita munafik di Madinah pada zaman Rasulullah saw yang berdarah Yahudi. Dia merupakan anak dari Marwan yang menjadi istri dari Yazid bin Hishn, suami dan istri ini adalah kaum munafik aktif (zindiq) dalam memerangi Islam dari dalam. Salah satu sepak terjangnya dalam dunia kemunafikan adalah provokasinya terhadap penduduk Madinah untuk memusuhi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya atas hukuman mati terhadap Abu ‘Afak yang juga salah satu dedengkot munafiqin Madinah. Sangking gencarnya provokasi yang dilakukan maka Rasulullah memerintahkan sahabatnya Salim bin ‘Umair untuk membunuhnya.[1]

Loh kok kejam? Ingat, ini adalah hukum internasional pada saat itu. Dalam hukum dunia manapun apabila ada pengkhianat atau perusak agama (Zindiq) dan/atau negara maka hukuman yang layak dan diterima semua kalangan baginya adalah hukuman mati.

Begitupula dalam Islam, mayoritas ulama ahlussunnah sepakat bahwa kaum munafik yang zindiq lebih parah dari murtaddin dan kaum kuffar, zindiq (munafiq aktif) taubatnya tidak diterima disisi Allah dan wajib mendapatkan hukuman mati karena hitamnya hati mereka dan karena rusaknya ekses yang mereka perbuat.[2]

 

PROVOKASI ATAS NAMA KEBEBASAN BERPENDAPAT

Kebebasan berpendapat di dalam Islam bukan berarti  kebebasan yang kebablasan, akan tetapi kebebasan dalam frame aqidah dan syari’ah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun apabila melewati batas itu maka dianggap sudah kebablasan.

Para aktivis HAM dan kaum “murahan” propagandis Yahudi, Salibis dan Munafikin dari golongan umat Islam itu sendiri sangat mudah mengumbar atas nama kebebasan berpendapat dan Hak Asasi Manusia (HAM). Padahal sebebas-bebasnya ideologi HAM di Amerika dan Eropa sekalipun tetap ada frame yang membatasinya. Misalnya di Amerika, dedengkot HAM katanya, lantas mengapa pendirian Masjid untuk menjadi tempat ibadah yang merupakan hak asasi manusia itu dipersulit? Bukankah berarti ada batasan (frame)? Dan di Eropa, mengapa orang memakai meyakini Cadar sebagai suatu ibadah yang merupakan hak asasi manusia itu dilarang bahkan didenda? Katanya menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM)? Itu berarti tetap HAM di Amerika dan Eropa ada batasnya (Frame). Begitu pula di dalam Islam, selagi pendapat itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah maka kebebasan berpendapat dan berekspresi sangat dihormati.

 

BAB III

PENUTUP

            Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan berekspresi yang merupakan salah satu senjata kaum kuffar dan munafikin (zindiq) dari umat Islam adalah salah satu amunisi dari sekian banyak amunisi untuk menyerang Islam dan umatnya sehingga menjadi goyah dan murtad atau minimal mengikuti jejak mereka menjadi kaum munafik. Tapi Islam selalu tinggi dan tidak akan terkalahkan, Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci (QS. Shaff: 8). Wallahu A’lam.

 

 

END NOTE:


[1]   (a) Dr. Shalah ‘Abd al-Fattah al-Khalidiy, al-Qur’an wa Naqd Mutha’in al-Ruhbban, Damaskus: Dar el-Qalam, 1428 H/2007 M, cet. I, vol. I, h. 681.

(b) Abu Ma’aliy Mahmud Syukriy bin ‘Abd Allah bin Muhammad bin Abi al-Tsana’ al-Alusiy, Ghayah al-Amaniy Fi al-Radd ‘Ala al-Nabhaniy, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1422 H/2001 M, cet. I, vol. II, h. 130.

(c) Muhammad Anwar Syah bin Mu’zham Syah al-Kasymiriy al-Hindiy, Ikfaar al-Mulhidiyn Diy Dharuriyat al-Diyn, Pakistan: Majlis al-‘Ilmiy, 1424 H/2004 M, cet. III, vol. I, h. 129.

(d) Abu ‘Abd Allah bin Salamah bin Ja’far bin ‘Aliy bin Hukmun al-Qadha’iy al-Mishriy, Musnad al-Syihab, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1407 H/1986 M, cet. II, vol. II, h. 48.

(e) ‘Abd al-Malik bin Hisyam bin Ayyub al-Humaiyriy al-Mu’afiriy Abu Muhammad Jamal al-Din, al-Siyrah al-Nabawiyyah, Egypt: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushtafa al-Babiy Aleppo wa Awladih, 1375 H/1955 M, cet. II, vol. II, h. 636-638.

[2] ‘Abd al-Rahman bin Muhammad ‘Audh al-Juzairiy, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1424 H/2003 M, cet. II, vol. V, h. 376-386.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 23 Januari 2012, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Dari tulisannya, apa ini dari tugas kuliahnya mas ya?

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: