Benarkah al-Albaniy berpendapat bahwa orgasme, onani/masturbasi, ciuman dan memeluk istri itu tidak membatalkan puasa?


Suatu saat saya membaca tautan:

yang isinya saling menghujat antara satu muslim dengan lainnya perihal tulisan al-Albaniy tentang Onani dalam keadaan puasa yang kata sang pembuat status Al-Albaniy berpendapat hal itu tidak membatalkan puasa, maka saya tergerak menengahi dan menulis langsung detil kitabnya agar mereka menilai sendiri, apa benar al-Albaniy mengatakan orgasme, onani/masturbasi, ciuman dan memeluk istri tidak membatalkan puasa.

Maaf, sebelumnya:

1. Saya bukan Wahabi, Syi’ah dan tetek bengek pengikut aliran sesat lainnya dan na’udzu billah menjadi pengikut mereka.

2. Kebetulan saya punya kitabnya si al-Albaniy dan saya buka langsung, baiknya saya tulis aja di sini agar terjadi diskusi yang adil antara kedua belah pihak dan mudah-mudahan dengan tulisan ini terlihat sejatinya mana yang keliru, apakah tulisannya si albani atau status pada tautan di atas.

3. Mohon kepada rekan2 ahlussunnah lainnya menunjukkan sikap yang baik dalam menyikapi berita yang datang jangan langsung menelan mentah2 sebelum tabayun/check dan recheck, apalagi dengan menghina mereka, lantas apa bedanya kita dengan mereka kalau kita membalas hinaan/pentakfiran mereka dengan hinaan/pentakfiran pula?

4. Di bawah ini langsung saya kutip dari kitab aslinya per/halaman untuk mempermudah mengkajinya:

Inilah dia buku dan pengarangnya:

“Abu ‘Abd al-Rahman Muhammad Nashir al-Diyn bin al-Hajj Nuh bin Najatiy bin Adam, Tamam al-Minnah fiy Ta’liyq ‘Ala Fiqh al-Sunnah, Riyadh: Dar el-Royah, t.t., cet. v, p. 418 – 420.”

======================================================================= Halaman 418

ومن ما يبطل الصيام

Sebagian hal yang membatalkan puasa

قوله: “الاستمناء إخراج المني سواء أكان سببه تقبيل الرجل لزوجته أو ضمها إليه أو كان باليد فهذا يبطل الصوم ويوجب القضاء”

Ada pendapat yang mengatakan bahwa: “bersenang-senang” dengan mengeluarkan air mani apakah sebab keluarnya karena suami mencium istri atau karena memeluknya, atau dikarenakan sebab tangan (onani) maka bisa membatalkan puasa dan wajib menqadhanya.

قلت: لا دليل على الإبطال بذلك وإلحاقه بالجماع غير ظاهر ولذلك قال الصنعاني

Saya (Albaniy) berpendapat: Tidak ada dalilnya bahwa perkara di atas (bersenang-senang” dengan mengeluarkan air mani apakah sebab keluarnya karena suami mencium istri atau karena memeluknya, atau dikarenakan sebab tangan (onani)) bisa membatalkan puasa, sedangkan kepastiannya berjima’ tidak jelas, oleh sebab itu al-Shan’aniy berpendapat:

“الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد”

Hukum yang paling jelas bahwasanya perkara tersebut tidak membuat seseorang berkewajiban untuk mengqadha maupun kifarat, kecuali atas orang yang melakukan aktifitas Jima’, sedangkan menghubungkan perkara di atas (bersenang-senang” dengan mengeluarkan air mani apakah sebab keluarnya karena suami mencium istri atau karena memeluknya, atau dikarenakan sebab tangan (onani)) dengan jima’ adalah perkara yang jauh (dari kebenaran, pent.).

وإليه مال الشوكاني وهو مذهب ابن حزم فانظر “المحلى” 6 / 175 – 177 و205.

Pendapat ini lebih diamini oleh al-Syaukaniy, ini adalah mazhabnya Ibn Hazm, Lihat: Kitab al-Mahalliy vol. VI, h. 175-177 dan h. 205.

ومما يرشدك إلى أن قياس الاستمناء على الجماع قياس مع الفارق أن بعض الذين قالوا به في الإفطار لم يقولوا به في الكفارة قالوا:

Sebagian pendapat yang menunjukkan bahwa “bersenang-senang” bisa dianalogikan dengan Jima’ adalah analogi yang keliru. Dan sebagian pendapat mengatakan bahwa dengan perkara di atas tersebut hanya membatalkan tapi tidak ada kifarat adalah dengan argumentasi berikut:

“لأن الجماع أغلظ والأصل عدم الكفارة”.

Bahwasanya jima’ adalah perkara yang lebih berat (membatalkan puasa, pent.) dan asal hukumnya adalah ketiadaan kifarat.

انظر “المهذب” مع “شرحه” للنووي 6 / 368.

Silakan lihat kitab Muhadzdzab beserta kitab Syarah Muhadzdzabnya yang dikarang oleh Imam al-Nawawiy, vol. 6, h. 368.

فكذلك نقول نحن: الأصل عدم الأفطار والجماع أغلظ من الاستمناء

Oleh sebab itu kami (al-Albaniy) berpendapat, bahwa Asal Hukum (Onani, pent.) adalah hanya membatalkan puasa, sedangkan Jima’ adalah lebih besar hukumnya untuk membatalkan puasa dari sekedar “bersenang-senang” (baik sengaja : onani, memeluk istri, dst ataupun tidak sengaja : mimpi dst, pent.)

—————————————————————————————————-

Halaman 419

فلا يقاس عليه. فتأمل

Maka “bersenang-senang” (baik sengaja : onani, memeluk istri, dst ataupun tidak sengaja : mimpi dst, pent.) tidak bisa dianalogikan dengan jima’, coba renungkan…

“وقال الرافعي 6 / 396:”المني إن خرج بالاستمناء أفطر لأن الإيلاج من غير إنزال مبطل فالإنزال بنوع شهوة أولى أن يكون مفطرا”

Al-Rafi’iy berpendapat (vol.6, h. 396): bahwa air mani apabila keluar sebab “bersenang-senang” maka puasanya batal. Karena sesungguhnya penetrasi tanpa keluarnya air mani itu membatalkan puasa apatah lagi keluarnya air mani dengan syahwat tentu hukumnya lebih utama untuk membatalkan puasa.

قلت: لو كان هذا صحيحا لكان إيجاب الكفارة في الاستمناء أولى من إيجابها على الإيلاج بدون إنزال وهم لا يقولون أيضا بذلك. فتأمل تناقض القياسيين!

Saya (al-Albaniy) berpendapat: andaikata pendapat ini benar maka niscaya kewajiban kifarat bagi orang yang “bersenang-senang” lebih utama (untuk membatalkan puasa, pent.) dari kewajibannya untuk kifarat karena sebab penetrasi tanpa keluar air mani, sedangkan mereka tidak mengatakan hal itu. Maka perhatikanlah berkurangnya (cacatnya) dua analogi di atas.

أضف إلى ذلك مخالفتهم لبعض الآثار الثابتة عن السلف في أن المباشرة بغير جماع لا تفطر ولو أنزل وقد ذكرت بعضها في “سلسلة الأحاديث الصحيحة” تحت الأحاديث 219 – 221 ومنها قول عائشة رضي الله عنها لمن سألها: ما يحل للرجل من امرأته صائما؟ قالت:

SAYA (AL-ALBANIY) MENAMBAHKAN PENDAPAT TERSEBUT, BAHWA MEREKA MENYALAHI SEBAGIAN ATSAR SALAF YANG KUAT BAHWA BERSENTUHAN TANPA ADANYA JIMA’ ADALAH TIDAK MEMBATALKAN PUASA MESKIPUN MENGELUARKAN (air mani, pent).

Dan telah saya (al-Albaniy) sebutkan dalam kitab karangan saya : Silsilah al-Ahadits al-Shahihah nomor 219-221. Yaitu tentang jawaban ‘Aisyah ra kepada orang yang bertanya kepadanya: “Apakah bagian yang halal untuk seorang suami dari istrinya ketika dia dalam keadaan berpuasa?” Maka ‘Asiyah menjawab:

“كل شيء إلا الجماع”.

“Segala sesuatunya kecuali jima’”

أخرجه عبد الرزاق في “مصنفه” 4 / 190 / 8439 بسند صحيح كما قال الحافظ في “الفتح” واحتج به ابن حزم. وراجع سائرها هناك.

Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq dalam kitab “Mushannaf” nya, vol. 4, h. 190 atau nomor hadits 8439 dengan sanad yang shahih, sebagaimana yang dikatakan al-Hafizh dalam kitabnya “al-Fath” dan dijadikan hujjah oleh Ibn Hazm, silakan lihat semuanya di sana!

.وترجم ابن خزيمة رحمه الله لبعض الأحاديث المشار إليها بقوله في “صحيحه” 2 / 243

Dan Ibn Khuzaimah -semoga Allah merahmatinya- mentafsirkan hadits-hadits yang telah disebutkan tadi dalam kitab “shahih” nya, vol. 2, h. 243 dengan mengatakan:

“باب الرخصة في المباشرة التي هي دون الجماع للصائم والدليل على أن اسم الواحد قد يقع على فعلين: أحدهما مباح والآخر محظور إذ اسم المباشرة قد أوقعه الله في نص كتابه على الجماع ودل الكتاب على أن الجماع في الصوم محظور قال المصطفى صلى الله عليه وسلم: “إن الجماع يفطر الصائم” والنبي المصطفى صلى الله عليه وسلم قد دل بفعله على أن المباشرة التي هي دون الجماع مباحة في الصوم غير

Bab rukhsah (keringanan) perihal bersentuhan yang tidak berjima’ bagi seorang yang puasa:

Dan dalil bahwa satu kata (yaitu bersentuhan, pent.) bisa menjadi dua hukumnya: bisa mubah dan bisa dilarang (haram), karena istilah mubasyarah (bersentuhan) adalah kata yang Allah pakai di dalam al-Qur’an untuk istilah berjima’ dan dalam al-Qur’an jelas bahwa jima’ dalam keadaan puasa adalah dilarang. Rasulullah mushtafa saw bersabda: “Sesungguhnya Jima’ membatalkan puasa” dan beliau telah memberikan contoh bahwa bersentuhan yang tidak berjima’ adalah mubah dan tidak – –

—————————————————————————————————-

Halaman 420

مكروهة”.

makruh

وإن مما ينبغي التنبيه عليه هنا أمرين

Dan yang harus dijadikan perhatian pada perkara ini ada dua:

الأول: أن كون الإنزال بغير جماع لا يفطر شيء ومباشرة الصائم شيء آخر ذلك أننا لا ننصح الصائم وبخاصة إذا كان قوي الشهوة أن يباشر وهو صائم خشية أن يقع في المحظور الجماع وهذا سدا للذريعة المستفادة من عديد من أدلة الشريعة منها قوله صلى الله عليه وسلم: “ومن حام حول الحمى أوشك أن يقع فيه” وكأن السيدة عائشة رضي الله عنها أشارت إلى ذلك بقولها حين روت مباشرة النبي صلى الله عليه وسلم وهو صائم: “وأيكم يملك إربه؟ “.

Pertama, keluarnya air mani tanpa sebab jima’ adalah tidak membatalkan puasa, dan persentuhan kulit orang yang berpuasa dengan istrinya adalah sesuatu yang berbeda (tidak membatalkan puasa, pent.). Hal itu karena kami (al-Albaniy) tidak menganjurkan orang yang berpuasa UNTUK SALING BERSENTUHAN SEDANGKAN DIA DALAM KEADAAN PUASA, khususnya bagi orang yang punya syahwat kuat, kuatir akan melakukan perbuatan yang terlarang, yaitu jima. Ini adalah sadd al-Dzari’ah (preventif) yang berasal dari dalil-dalil syari’ah yang banyak, antara lain sabda Rasulullah saw:

“Barangsiapa yang mengembalakan peliharaannya di sekitar tanah yang terlarang maka nyarislah dia akan memasukinya.” Dan seperti isyarat ‘Aisyah ra tentang hadits ini ketika meriwayatkan hadits Mubasyarah (bersentuhan) nabi dengan dirinya (‘Aisyah ra) sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa dengan berkata: “Orang yang mana di antara kalian yang bisa menjaga hasratnya (ketika bersentuhan dengan istrinya selain nabi Muhammad saw,pent.)?”

والأمر الآخر: أن المؤلف لما ذكر الاستمناء باليد فلا يجوز لأحد أن ينسب إليه أنه مباح عنده لأنه إنما ذكره لبيان أنه مبطل للصوم عنده. YANG KEDUA, bahwasanya penulis (al-Albaniy) ketika menyebutkan “bersenang-senang” dengan tangan (yakni: onani,pent.) maka tidak boleh bagi siapapun menisbatkan seolah-olah penulis (al-Albaniy) memperkenankan onani, karena sesunggunya hal itu disebutkan HANYA UNTUK MENJELASKAN bahwa perkara itu bisa membatalkan puasa.

وأما حكم الاستمناء نفسه فلبيانه مجال آخر وهو قد فصل القول فيه في “كتاب النكاح” وحكى أقوال العلماء واختلافهم فيه وإن كان القارئ لا يخرج مما ذكره هناك برأي واضح للمؤلف كما هو الغالب من عادته فيما اختلف فيه.

Adapun hukum “bersenang-senang” maka penjelasannya ada pada tempatnya tersendiri, ini sudah diperinci dalam kitab “Kitab al-Nikah” dan di dalamnya dibeberkan tentang perbedaan para ulama dalam menyikapinya, meskipun penulis (al-Albaniy) bisa embuat pembaca tidak menjadi keluar konteks dengan penjelasan yang detail sebagaimana umumnya tulisan penulis apabila terdapat perbedaan dalam suatu hukum (tapi penulis tidak akan menjelaskan detail di sini, pent.).

وأما نحن فنرى أن الحق مع الذين حرموه مستدلين بقوله تعالى: وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ , إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ , فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Adapun kami (al-Albani) berpendapat bahwa, yang betul hukum “bersenang-senang” itu adalah haram, dengan beristidlal bahwa Allah swt berfirman: “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mu’minun: 5-7)

ولا نقول بجوازه لمن خاف الوقوع في الزنا إلا إذا استعمل الطب النبوي وهو قوله صلى الله عليه وسلم للشباب في الحديث المعروف الآمر لهم بالزواج

Dan tidaklah kami (al-Albaniy) memperbolehkannya (bersenang-senang: onani dst, pent.) bagi orang yang kuatir terjerumus pada perzinaan, sebaliknya dia harus mengamalkan resep nabi, yaitu sabda Rasulullah saw bagi para pemuda dalam suatu hadits yang sudah cukup dikenal, yaitu memerintahkan pemuda untuk menikah:

“فمن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء”.

“Barangsiapa yang tidak sanggup untuk menikah maka hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu baginya adalah tameng.”

ولذلك فإننا ننكر أشد الإنكار على الذين يفتون الشباب بجوازه خشية الزنا دون أن يأمروهم بهذا الطب النبوي الكريم.

Oleh sebab itu kita betul-betul tidak sepakat dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa pemuda yang kuatir terjerumus zina boleh “bersenang-senang” (onani dst, pent.), sebaliknya dia harus menyuruhnya untuk mengamalkan resep nabi yang mulia ini (yaitu puasa, pent.).

قوله: “قال الشوكاني: وقد وقع في الروايات ما يدل على الترتيب والتخيير يعني في كفارة الإفطار بالجماع والذين رووا الترتيب أكثر ومعهم الزيادة”.

Ada yang berkata: al-Syawkaniy berpendapat: bahwa sungguh ada pada banyak riwayat yang menunjukkan wajibnya tartib dan kifarat bagi orang yang batal puasanya sebab jima,’ dan rawi yang menceritakan tentang tartib ini lebih banyak dan mereka ada tambahannya.

قلت: قد ذكر ابن القيم لرواية الترتيب مرجحات ستة إحداها ما ذكره الشوكاني ومن وقف عليها لا يشك في أرجحيتها فراجعها في “تهذيب السنن” 3 / 269 – 272.

Saya (al-Albaniy) berpendapat: Ibnu al-Qayyim telah menyebutkan bahwa riwayat tartib itu ada 6 keunggulan, salah satunya adalah yang telah dijelaskan al-Syawkaniy, dan orang yang setuju dengan pendapat itu maka tidak ragu-ragu lagi bahwa saya (al-Albaniy) telah merajihkannya, silakan lihat kitab “Tahdzhiyb al-Sunan” vol. III, h. 269-272.

======================================================================

NB:

1. Terjemahan di atas adalah terjemahan bebas.

2. Silakan simpulkan sendiri.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 5 Agustus 2012, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. assalamu’alaikum..
    ngomong2 mana tautannnya kok ga ada? yg ktnya isinya saling menghujat?

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: