Perayaan Tahun Baru dalam Islam (Antara realitas dan kemudharatan)


Malam tahun baru dengan diiringi kembang api, petasan dan lainnya tentu menurut sebagian orang sangat indah. Tapi pendapat saya  petasan jelas terlarang karena memang sudah ada peraturannya, jadi dengan alasan apapun tetap tidak boleh.


Dan dilihat dari sisi Penjual terompet dan petasan hanya 0.01 % yang merasa dirugikan. Dibandingkan madharat yang dirasakan hampir 80 % orang di bumi:

01) Bayi-bayi yang terbangun lantaran terganggu dengan suara petasan di malam hari
02) aji mumpung muda-mudi bermaksiat di malam tahun baru
03) kriminalitas merajalela
04) global warming dengan lebih banyak membuang emisi di malam hari
05) buang-buang waktu
06) begadang sampai pagi dan pasti subuh gak shalat
07) mengikuti budaya non muslim.
08) foya2 dan membeli petasan dan kembang api yang jelas mubadzir, yang apabila UANG dari petasan, kembang api, terompet, bensin yang terpakai, diberikan kepada yatim piatu dan sangat faqir miskin yang jumlahnya 12,49 % atau 29,13.000.000 (http://www.bps.go.id/?news=940) dari penduduk indonesia niscaya mereka akan terisi perutnya…

Dengan asumsi ANDAIKATA 1 orang membeli 5 petasan (@ Rp.5000 x 5 ) 25.000 + Terompet = 15.000 + bensin motor Rp.10.000 + Makan Minum sendiri 15.000 = 65.000 x 3 % penduduk indonesia saja yang berjumlah 259.940.857 pada tahun 2012 (http://nasional.kompas.com/read/2011/09/19/10594911/Jumlah.Penduduk.Indonesia.259.Juta) maka Rp. 65.000 x 7.798.225 = Rp. 506.884.625.000 Itu berarti apabila kita pada malam tahun baru tidak foya-foya beli petasan dan tidak dirayakan serta uangnya diberi penduduk yang sangat miskin sejumlah 12,49 % atau 29,13.000.000 maka mereka bisa mendapatkan uang Rp.174/kepala. Anggaplah 150 Rupiah yang bagi orang sangat miskin itu adalah berharga untuk menambah membeli garam.

Di atas hanya perhitungan minimal, belum lagi kalau asumsinya ditambah misalnya satu orang naik mobil yang butuh bensin minimal Rp.100.000, atau beli petasannya banyak 50.000, atau makanannya mewah satu orang bisa 100.000, atau menginap di hotel satu malam 500.000, ditambah buat pulsa Rp.50.000, buat oleh-oleh orang rumah Rp.50.000 = Rp. 850.000,- maka asumsinya akan bertambah dan otomatis satu orang bisa diberi Rp.2276,- anggaplah Rp.2000,- lumayan cukup buat beli sarapan nasi uduk + kerupuk + tempe kering sederhana untuk orang miskin di seluruh indonesia. Itu artinya pada pagi hari besoknya seluruh orang fakir miskin di Indonesia bisa sarapan sederhana. Alhamdulillah.

Dilihat dari madharat yang ada maka hujan pada malam tahun baru meksipun merugikan segelintir orang tapi menguntungkan banyak orang. 

Wallahu A’lam…

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 31 Desember 2012, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: