Ketika Ibnu Taimiyah menganjurkan tahlil dan wirid


بسم الله الرحمن الرحيم

majmu'ah al-fatawa

TAHLIL, WIRIDAN, ZIKIR JAMAAH  ADALAH BID’AH, BATHIL, SESAT, KAFIR..!! @$%#^%#!

Kalimat di atas apabila disebutkan oleh orang muslim terhadap muslim yang lain bisa jadi kebatilan, kesesatan, kekafiran tadi berbalik padanya. Karena sangat banyak riwayat shahih hadits nabi Muhammad saw yang menyatakan demikian, silakan lihat ulasan saya mengenai hadits nabi mengenai takfir di sini.

Malam ini saya berdoa kepada Allah semoga tulisan ringkas saya berikut dapat menyadarkan sebagian kalangan muslim yang dengan mudah membid’ahkan, mensesatkan, membatilkan bahkan mengkafirkan orang yang berzikir berjamaah seperti tahlilan, wiridan dan seterusnya.

Ulama panutan mereka yang paling sering mereka kutip pendapatnya adalah Syaikh Ibnu Taimiyah Rahimahullah, namun kebanyakan mereka tidak menyadari (baca: menutup diri) bahwa ternyata ulama junjungan mereka Syaikh Ibnu Taimiyah justru menganjurkan zikir semisal tahlil, wiridan dan seterusnya.

Baiklah agar tidak berpanjang lebar berikut saya akan tuliskan langsung kitab karangan Syaikh Ibnu Taimiyah dan langsung menterjemahkannya ke dalam terjemahan bebas. Mohon maaf apabila ada kesalahan penterjemahan, kritik dan saran adalah cambuk untuk penulis untuk menjadi lebih baik.

———————————————————————————————————————————————————–

الكتاب: مجموعة الفتاوى

المؤلف: تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني (المتوفى: 728هـ)

المحقق: عبد الرحمن بن محمد بن قاسم

الناشر: مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف، المدينة النبوية، المملكة العربية السعودية

عام النشر: 1416هـ/1995م

 

Nama Kitab : Majmu’ah al-Fatawa.

Pengarang    : Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abd al-Halim bin Taimiyyah al-Haraniy (Ibnu Taimiyyah).

Muhaqqiq    : ‘Abd al-Rahman bin Muhammad bin Qasim.

Pencetak       : Percetakan Raja Fahd untuk percetakan Mushaf yang mulia, Madinah al-Nabawiyyah, Kerajaan Arab Saudi.

Tahun            : 1416 H/1995 M.

———————————————————————————————————————————————————– 

NASKAH ASLINYA:

Vol. 22, h. 520

وسئل:

عن رجل ينكر على أهل الذكر يقول لهم: هذا الذكر بدعة وجهركم في الذكر بدعة وهم يفتتحون بالقرآن ويختتمون ثم يدعون للمسلمين الأحياء والأموات ويجمعون التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير والحوقلة ويصلون على النبي صلى الله عليه وسلم والمنكر يعمل السماع مرات بالتصفيق ويبطل الذكر في وقت عمل السماع

فأجاب:

الاجتماع لذكر الله واستماع كتابه والدعاء عمل صالح وهو من أفضل القربات والعبادات في الأوقات ففي الصحيح (الترمذي الحديث: 3524)  عن

 

Vol. 22, h. 521

النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: {إن لله ملائكة سياحين في الأرض فإذا مروا بقوم يذكرون الله تنادوا هلموا إلى حاجتكم} وذكر الحديث وفيه {وجدناهم يسبحونك ويحمدونك} لكن ينبغي أن يكون هذا أحيانا في بعض الأوقات والأمكنة فلا يجعل سنة راتبة يحافظ عليها إلا ما سن رسول الله صلى الله عليه وسلم المداومة عليه في الجماعات؟ من الصلوات الخمس في الجماعات ومن الجمعات والأعياد ونحو ذلك. وأما محافظة الإنسان على أوراد له من الصلاة أو القراءة أو الذكر أو الدعاء طرفي النهار وزلفا من الليل وغير ذلك: فهذا سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم والصالحين من عباد الله قديما وحديثا فما سن عمله على وجه الاجتماع كالمكتوبات: فعل كذلك وما سن المداومة عليه على وجه الانفراد من الأوراد عمل كذلك كما كان الصحابة – رضي الله عنهم – يجتمعون أحيانا: يأمرون أحدهم يقرأ والباقون يستمعون. وكان عمر بن الخطاب يقول: يا أبا موسى ذكرنا ربنا فيقرأ وهم يستمعون وكان من الصحابة من يقول: اجلسوا بنا نؤمن ساعة. وصلى النبي صلى الله عليه وسلم بأصحابه التطوع في جماعة مرات وخرج على الصحابة من أهل الصفة وفيهم قارئ يقرأ فجلس معهم يستمع.

Vol. 22, h. 522

وما يحصل عند السماع والذكر المشروع من وجل القلب ودمع العين واقشعرار الجسوم فهذا أفضل الأحوال التي نطق بها الكتاب والسنة. وأما الاضطراب الشديد والغشي والموت والصيحات فهذا إن كان صاحبه مغلوبا عليه لم يلم عليه كما قد كان يكون في التابعين ومن بعدهم فإن منشأه قوة الوارد على القلب مع ضعف القلب والقوة والتمكن أفضل كما هو حال النبي صلى الله عليه وسلم والصحابة وأما السكون قسوة وجفاء فهذا مذموم لا خير فيه. وأما ما ذكر من السماع: فالمشروع الذي تصلح به القلوب ويكون وسيلتها إلى ربها بصلة ما بينه وبينها: هو سماع كتاب الله الذي هو سماع خيار هذه الأمة لا سيما وقد قال صلى الله عليه وسلم {ليس منا من لم يتغن بالقرآن} وقال: {زينوا القرآن بأصواتكم} وهو السماع الممدوح في الكتاب والسنة. لكن لما نسي بعض الأمة حظا من هذا السماع الذي ذكروا به ألقى بينهم العداوة والبغضاء فأحدث قوم سماع القصائد والتصفيق والغناء مضاهاة لما ذمه الله من المكاء والتصدية والمشابهة لما ابتدعه النصارى وقابلهم قوم قست قلوبهم عن ذكر الله وما نزل من الحق وقست قلوبهم فهي كالحجارة أو أشد قسوة: مضاهاة لما عابه الله على اليهود. والدين الوسط هو ما عليه خيار هذه الأمة قديما وحديثا والله أعلم.

————————————————————————————————————————————————————

TERJEMAH BEBASNYA:

 

Vol. 22, h. 520

Syaikh Ibnu Taimiyyah ditanya:

Berkaitan tentang seseorang yang mengingkari ahli zikir, dia memvonis kepada mereka: “Zikir ini bid’ah dan suara kalian yang dikeraskan pada zikir ini pun bid’ah,” padahal mereka membuka zikir tadi dengan membaca al-Qur’an dan menyelesaikan zikir tadi disertai doa kepada kaum muslimin yang masih hidup maupun sudah wafat, dan padahal mereka berkumpul untuk bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, berhauqalah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw, dia mengingkari pula pahala mendengarkan dzikir berulang-ulang dengan (meledek) menepuk tangannya, dan dia juga membathilkan pahala zikir pada waktu mendengarkannya.

Maka Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab:

Berkumpul untuk mengingat Allah, mendengarkan ayat al-Qur’an, dan berdoa adalah merupakan amal saleh dan dia merupakan seutama-utamanya mendekatkan diri dan beribadah pada Allah pada waktu-waktu tertentu.

Dan dalam kitab al-Shahih (HR.Turmudzi Hadits nomor 3524) disebutkan dari

Vol. 22, h. 521

Nabi Muhammad saw bahwasanya beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai Malaikat yang berkeliling di bumi, ketika dia bertemu dengan satu kaum yang berzikir kepada Allah maka sang malaikat saling memanggil malaikat yang lain seraya berkata: “Kemarilah, (kaum ini mendapatkan) sesuai yang mereka hajatkan.”

Dan dalam hadits lain disbutkan:

“(Wahai Allah) kami mendapatkan mereka bertasbih dan bertahmid kepadamu.”

Tapi seyogyanya zikir ini dilakukan kadang-kadang saja dalam sebagian waktu dan tempat tertentu. Dan jangan dijadikan sunnah terus menerus (tanpa waktu) diamalkan dan dijaga kecuali zikir yang disunnahkan oleh Rasulullah saw yang memang mudawamah di tempat-tempat jamaah shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat ‘Ied dan seterusnya.

Adapun kaum yang menjaga wiridnya pada waktu shalat, membaca al-Qur’an, berzikir, ataupun doa pada waktu siang dan malam dan seterusnya maka ini adalah Sunnah Rasulullah saw dan orang-orang saleh dari hamba-hamba Allah yang terdahulu maupun yang sekarang.

Wirid-wirid yang dihukumi sunnah mengerjakannya pada saat berjamaah (seperti shalat wajib 5 waktu) maka dihitung sebagai sunnah pula mendawamkannya pada saat sendiri.

Di(hukumi) beramal seperti itu adalah sebagaimana contoh para sahabat ra yang kadang-kadang berkumpul dan salah satu dari mereka meminta untuk membaca dan yang lainnya mendengarkan.

Umar ra berkata: “Wahai Abu Musa, Ingatkanlah kami kepada Tuhan kami!” Dan merekapun sungguh-sungguh mendengarkan. Dan sebagian dari sahabat ada yang berkata: “Duduklah dengan kami, kita menambah iman meski sesaat.”

Nabi Muhammad saw pernah shalat Sunnah bersama sahabat berjamaah berulang-ulang, dan beliau mendatangi para sahabat dari golongan Ahli Shuffah (cikal bakal shufi), diantara mereka ada seorang Qari’ al-Qur’an, maka Rasulullah saw duduk bersama mereka dan mendengarkan bacaan Qari’ tersebut.

Vol. 22, h. 522

Pahala yang didapat dari Zikir dengan mendengarkan dan dari zikir yang tertancap dalam hati karena takut kepada-Nya, dan membuat air mata mengalir dan bergetarnya tubuh maka inilah seutama-utamanya keadaan zikir yang telah disebutkan oleh al-Qur’an dan Sunnah.

Adapun zikir mengakibatkan guncangan kuat, pingsan, kematian dan/atau teriakan-teriakan maka hukumnya apabila yang berzikir itu kondisinya lemah tidaklah memudharatkannya, sebagaimana yang terkadang pernah terjadi pada golongan tabi’in dan setelahnya. Karena sesungguhnya tempatnya zikir adalah pada kekuatan orang yang berzikir pada hatinya meski lemah ataupun kuat.

Meski demikian Zikir yang stabil adalah seutama-utamanya zikir sebagaimana zikirnya Nabi Muhammad saw dan para Sahabat.

Adapun zikir yang sunyi adalah keras dan kasar (kebodohannya), zikir ini adalah dicela dan tidak ada kebaikan di dalamnya.

Adapun sesuatu yang didapatkan dari sebab mendengarkan zikir maka yang disyariatkan adalah yang dapat membuat hati menjadi tenang, dan wasilah kedekatan dirinya dengan Rabnya adalah dilihat dari hubungan antara dirinya dan zikirnya, yaitu mendengarkan ayat al-Qur’an yang menjadi pilihan umat ini, apalagi ada Rasulullah saw bersabda:

“Bukanlah dari golongan kami yang membaca al-Qur’annya tidak dimerdukan”

Dan bersabda juga: “Hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian.” Dan ini adalah zikir dengan cara mendengarkan yang dihargai dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.

Tapi mengapa sebagian umat Islam lupa bagian pahala dari mendengarkan zikir yang mereka berzikir dengannya, malah mereka bermusuhan dan bermurka ria? Ada kaum yang malah lebih senang mendengarkan kasidah-kasidah, tepukan-tepukan tangan, nyanyian-nyanyian yang sama dicela oleh Allah dari kemiripan yang dibuat oleh oleh kaum Nasrani? dan bahkan ada orang yang hatinya keras dari zikir kepada Allah dan ayat-ayat-Nya yang haq itu menerima gaya mereka, maka keraslah hati mereka seperti batu bahkan lebih keras, paralel dengan celaan Allah kepada Yahudi.

Sikap pertengahan adalah agama yang ada pada umat pilihan ini, yang terdahulu maupun yang sekarang.

Wallahu A’lam.

————————————————————————————————————————————————————

CATATAN:

Silakan disalin dan diperbanyak dengan syarat mencantumkan sumbernya. Jadilah muslim dan blogger yang beretika!

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 19 April 2013, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. achmad ali sofan

    Subkhanalloh..semoga bermaafaat dan di mengerti bagi mereka yang anti. Aamin…

  2. Terkadang saya heran sama wahaboy yang lebay dalam hobi mereka membid’ahkan amalan.

    Dan saya jg heran dengan kuburiyyun yang lebay berdoa di kuburan…

    PERTENGAHAN SAJA LAH..

  3. Assalamu’alaikum Warahmatullah…

    Syukur Alhamdulillah,… trimakasih atas kejelasan ringkas ini, Semoga Allah membalas kebaikkan hati penulis dengan pahala, sangat berarti bagi pengetahuan saya,… semoga Allah mengampunkan saya yang telah menyalahkan ibnu taimiyyah dalam bberapa hadits-hadits yang di usung oleh pihak-pihak yang berusaha menghapuskan kebenaran, sekiranya kesalahan2 wirid, dzikir dan tahlilan di lapangan memang ada, namun kesalahan itu perlu diluruskan bukan malah mencari-cari cela utk menghapus kebenaran yang memang Rasulullah Sallallahu’alaihi wa salam sendiri pun tdak menyalahkan segolongan kaum dimasa itu yang melaksan bacaan-bacaan setelah Sholat dan berdzikir berjamaa’ah.

    Semoga Allah meluruskan jalan Islam kita semua, sehingga kita tidak ada keraguan dalam bertindak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang santun terhadap sesama muslim…. amiin

    wassalam

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: