HUKUM JIMAT DALAM ISLAM


Jimat

Jimat atau merupakan penolak bala adalah budaya yang sudah ada dari zaman sebelum Rasulullah saw lahir sampai dengan sekarang. Hukum jimat inipun para ulama berbeda pendapat. Satu sisi Jimat itu apabila dari ayat al-Qur’an untuk diambil berkahnya maka bisa jadi apabila niatnya tidak mempersekutukan Allah maka diperbolehkan. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum orang yang memakai jimat pada umumnya akan lupa diri dan merasa lebih tuhan dari tuhan itu sendiri. Dan lupa hakikat sebenarnya bahwa Tuhan itulah yang menyebkan dia jauh dari bala bukan ayat al-Qur’an yang dijadikan jimat tersebut. Maka apabila demikian menjadi musyriklah orang tadi.

 

Namun dari hadits-hadits (yang sependek ilmu pengetahuan saya) bahwa Jimat itu lebih mendekati kepada kemusyrikan, silakan cermati hadits yang diriwatkan oleh Ahmad bin Hanbal berikut ini:

 

17422 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي مَنْصُورٍ، عَنْ دُخَيْنٍ الْحَجْرِيِّ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ، فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا؟ قَالَ: “إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً” فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا، فَبَايَعَهُ، وَقَالَ: ” مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abd al-Shamad, telah menceritakan kepada kami ‘Abd al-‘Aziz bin Muslim, telah menceritakan kepada kamiYazid bin Abi Manshur, dari Dzukhainin al-Hajriy, dari ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhaniy; Bahwasanya Rasulullah saw menerima tamu beberapa orang, lantas Rasulullah saw menerima yang 9 orang tapi menolak satu orang. Lantas mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau menerima 9 orang dari kami dan meninggalkan yang satu?” Rasulullah saw menjawab: “Sesungguhnya dia masih memakai jimat.” Lantas Rasulullah saw memasukkan tangannya dan memutuskan jimat tersebut dan menerima tamu yang satu orang itu, dan bersabda: “Barangsiapa yang mengalungkan jimat maka sungguh telah musyrik!”

 

Silakan baca:

Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syibaniy, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1421 H/2001 M, cet. I, vol. 28, h. 637.

 

Atau hadits yang diriwayatkan oleh berbagai perawi; Ibnu Hubban, Thabraniy dan Baihaqiy, :

6086 ـ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: حدثنا بن وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، أَنَّ خَالِدَ بْنَ عُبَيْدٍ الْمَعَافِرِيَّ، حَدَّثَهُ عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ عَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ الله له”

Mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Husain bin Qutaibah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya, dan berkata Harmalah: Telah menceritakan kepada kami anaknya Wahb, dan dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Haywah bin Syuraiyh, Haywah mengatakan: bahwasanya Khalid bin ‘Ubaid al-Ma’arifiy menceritakannya dari Misyrah bin Ha’an, bahwasanya dia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengalungkan jimat maka tidaklah (keimanan) Allah sempurna baginya, barangsiapa yang mengalungkan penolak bala maka Allah tidak akan menolak bala nya.”

 

Silakan baca:

  1. Muhammad bin Hubban bin Ahmad bin Hubban Mu’adz bin Ma’bad al-Tamiymiy, al-Ihsan Fiy Taqriyb Ibn Hubban, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1408 H/1988 M, cet. I, vol. 450, h. 6086.
  2. Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthiyr al-Lakhmiy al-Syaamiy al-Tahbraaniy, al-Mu’jam al-Kabiyr, Riyadh: Dar el-Shamiy’iy, 1415 H/1994 M, cet. I, vol. 17, h. 297.
  3. Ahmad bin al-Husain ‘Aliy bin Musaal-Khusrawjirdiy al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubra, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah., vol. IX, h. 588.

 

Mungkin bagi yang beriman kuat bisa jadi jimat merupakan hal yang mubah. Tapi bagi yang masyarakat awam yang masih belum bisa membedakan  pertolongan/jauh dari bala itu berasal dari jimat atau dari Allah maka bisa jadi menjerumuskan kepada kemusyikan.

Wallahu A’lam.

 

 

Keterangan:

  1. Semua hadits di atas mempunyai derajat shahih.
  2. Silakan dicopy dan diperbanyak dengan syarat cantumkan sumbernya, jadilah pembaca dan blogger yang beretika!

Tentang Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 7 Mei 2013, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Saya SETUJU SEKALI……

  2. “Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)

    lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

    A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310)

    Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

    1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW

    2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.

    3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).

  3. Saya punya jimat, tapi gk tau fungsinya, jadi ya saya bawa aja kemana mana tanpa niat buruk, karena saya muslim . jimat saya berupa batu akik.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 158 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: