Orang tua Rasulullah saw kafir dan masuk neraka? Fitnah yang keji!


Muhammad PBUH

Anda menyukai ini.

Apriansyah Bintang Menurut sy tdk demikian. Beliau berdua wafat sblm Rasulullah diangkat menjadi Rasul. Jikalau masih hidup niscaya akan beriman, karena Orangtua Rasulullah menganut agams Hanif, yaitu agama Islam yg dibawa Ibrahim as.

Kemarin jam 9:13 melalui seluler · Suka

Roqi Muqorrobin Lantas bagaimana hadits yang menyatakan kedua orangtua rasul masuk neraka?

Kemarin jam 11:59 melalui seluler · Suka

Apriansyah Bintang Silakan dituliskan haditsnya biar sy cek kesahihannya…

12 jam yang lalu · Suka

Roqi Muqorrobin Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.”

Dalam riwayat lain yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya firman Allah,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113) dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat: Al-Hakim dalam Mustadrak: 2/336 beliau mengatakan, “Shahih sesuai syarat keduanya –Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah: 1/189)

Dan terdapat tambahan keterangan dalam al-Mu’jam al-Kabir milik al-Thabrani rahimahullaah, bahwa Jibril ‘alaihis salam berkata kepada beliau,

فَتَبَرَّأَ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ

“Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya.” (Lihat juga Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)

Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), meninggal di luar Islam dan berada di neraka.

Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), meninggal di luar Islam dan berada di neraka.

Sedangkan riwayat yang menunjukkan bahwa ayah beliau (Abdullah) meninggal sebagai musyrik dan berada di neraka adalah hadits yang diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bersabda:

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.”

Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302)

sekitar sejam yang lalu · Suka

Bottom of Form

 

BAB I

PENDAHULUAN

Segala puji syukur hanya bagi Allah dan Shalawat beserta Salam semoga dicurahkan kepada Baginda Rasulullah saw para keluarga dan Sahabat seluruhnya serta para pengikutnya yang setia hingga hari akhir. Amin

Di atas adalah sekelebat tanya jawab saya dengan kawan facebooker yang mempertanyakan tentang kekafiran orangtua Rasulullah saw dan ihwal mereka masuk neraka.

Maka oleh sebab itu dengan segala keterbatasan penulis mencoba mengurai benang kusut yang sengaja dibuat oleh antek-antek Kafirin yang menyudutkan orangtua Rasulullah saw dengan tujuan akhir adalah menistakan keluarga beliau.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. TAKHRIJ HADITS

Berikut penulis akan mencoba mengurai hadits-hadits yang dikutip oleh penanya satu persatu:

1. Hadits Riwayat Imam Bukhari:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ المُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

“Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya telah mengabarkan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab dari bapaknya bahwasanya dia mengabarkan kepadanya: “Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah saw mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah saw berkata, kepada Abu Tholib: “Wahai pamanku katakanlah laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah.” Maka berkata, Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?” Rasulullah saw terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Tholib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah. Maka berkatalah Rasulullah saw: “Adapun aku akan tetap memintakan ampun buatmu selama aku tidak dilarang.” Maka turunlah firman Allah swt tentang peristiwa ini: (“Tidak patut bagi Nabi …”) dalam (QS AT-Taubah ayat 113).[1]

 

2. Hadits riwayat Imam Muslim:

وحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ} وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِي أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} وحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ وحَدَّثَنَا حَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ كِلَاهُمَا عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّ حَدِيثَ صَالِحٍ انْتَهَى عِنْدَ قَوْلِهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ وَلَمْ يَذْكُرْ الْآيَتَيْنِ وَقَالَ فِي حَدِيثِهِ وَيَعُودَانِ فِي تِلْكَ الْمَقَالَةِ وَفِي حَدِيثِ مَعْمَرٍ مَكَانَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ فَلَمْ يَزَالَا بِهِ

“Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya at-Tujibi telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Said bin al-Musayyab dari bapaknya dia berkata, “Rasulullah saw menziarahi Abu Thalib di saat-saat dirinya tengah menghadapi sakaratul maut. Beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin al-Mughirah turut berada di sana. Rasulullah saw bersabda: “Paman! Ucaplah Dua Kalimah Syahadat, aku akan menjadi saksi kamu di hadapan Allah.” Lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah mencelah, ‘Wahai Abu Thalib sanggupkah kamu meninggalkan agama Abdul Muththalib?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berputus asa malah tetap mengajarnya mengucap Dua Kalimah Syahadat serta berkali-kali mengulanginya. Sehingga Abu Thalib menjawab sebagai ucapan terakhir kepada mereka, bahwa dia tetap bersama dengan agama Abdul Muththalib, dan enggan mengucapkan Kalimah Syahadat. Rasulullah saw pun bersabda: “Demi Allah, aku akan mohonkan ampunan dari Allah untukmu,” sehingga Allah menurunkan ayat: ‘(Tidak dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman meminta ampun bagi orang-orang yang syirik sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri setelah nyata bagi mereka bahwa orang-orang syirik itu adalah ahli Neraka)’ (Qs. AtTaubah: 113). Lalu Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan peristiwa Abu Thalib: ‘(Sesungguhnya kamu wahai Muhammad tidak berkuasa memberi hidayat petunjuk kepada siapa yang kamu kasihi supaya dia menerima Islam tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia jualah yang lebih mengetahui siapakah orang-orang yang (bersedia) untuk mendapat petunjuk memeluk Islam).’ (Qs. Al Qashash: 56). Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Abd bin Humaid keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Hasan al-Hulwani dan Abd bin Humaid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ya’qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa’ad- dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih keduanya dari az-Zuhri dengan sanad ini semisalnya. Hanya saja hadits Shalih selesai pada perkataannya, lalu Allah menurunkan firman-Nya tentangnya, dan dia tidak menyebutkan dua ayat tersebut. Dan dia menyebutkan di dalam haditsnya, dan keduanya kembali mengucapkan perkataan tersebut, pada hadits Ma’mar adalah sebagai pengganti kalimat ini. Dan mereka berdua tetap berpedoman padanya.” (HR. Muslim).[2]

Setelah penulis cari dengan teliti ternyata Asbab al-Nuzul Hadits Bukhari, Muslim dan lainnya di atas bukan lah karena wafatnya ibu Rasulullah saw, AKAN TETAPI BERKAITAN TENTANG WAFATNYA PAMAN RASULULLAH ABU THALIB. Jadi Rasulullah saw menangis dan mendoakan ibunya adalah KEDUSTAAN BESAR, karena Nabi Muhammad saw sudah YATIM PIATU sebelum menjadi Rasul.

Dan dalam kitab Mustadrak milik Imam al-Hakim[3] yang dikutip penanya di atas tidaklah juga menyebut demikian. Jelas ini adalah perkara-perkara dusta yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

 

3. Hadits yang penanya kutip:

فَتَبَرَّأَ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ

“Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya.” (Lihat juga Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)

Hadits di atas adalah Hadits Riwayat Imam Thabraniy yang merupakan hadits yang sangat panjang, baiklah penulis akan menuliskannya sebagian saja:

فَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يَأْذَنَ لِي فِي شَفَاعَتِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَأَبَى اللَّهُ أَنْ يَأْذَنَ لِي، فَرَحِمْتُهَا وَهِيَ أُمِّي، فَبَكَيْتُ، ثُمَّ جَاءَنِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: {وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ} فَتَبَرَّأْ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ، فرحمْتُها وَهِيَ أُمِّي…..

“Aku berdoa kepada Allah agar aku dapat memberikan Syafa’at kelak pada hari Kiamat, dan Allah pun menolak untuk memberiku izin. Karena sayang kepadanya yaitu ibuku maka akupun menangis. Kemudian datanglah Jibril dan berkata: “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya.” Maka berlepas dirilah Engkau dari Ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari Bapaknya” (kata Jibril). “Tapi aku menyayanginya yaitu ibuku.” (HR. Thabraniy).[4]

Ibnu Katsir menyebutkan dengan sangat jelas bahwa Hadits di atas (فَتَبَرَّأَ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ) adalah Hadits Gharib (tidak dikenal/asing) yang haditsnya diriwayatkan menyendiri dan cenderung hadits Munkar yang diriwayatkan oleh al-Khathiyb al-Baghdaadiy yang sanadnya Majhul (tidak diketahui). Bahkan al-Hafizh Ibnu Dihyah mengatakan bahwa hadits ini Maudhu’ (Palsu) yang menyalahi al-Qur’an dan Ijma’.[5]

 

4. Hadits yang penanya kutip:

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.”

Adalah Hadits Riwayat Imam Muslim maka Matan aslinya adalah berikut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: «فِي النَّارِ»، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: “«إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ»”الخ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Dia di dalam neraka.” Ketika laki-laki tersebut berlalu pergi, maka beliau memanggilnya seraya berkata: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.” (HR. Muslim).[6]

Menurut Imam Qurthubiy, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal, al-Bazzar dan Ibnu Hubban serta banyak ulama yang lain disebutkan bahwa Sanad Hadits ini (yaitu Hammad bin Salamah) adalah Dha’if (Lemah) karena bukan termasuk perawi yang hafal hadits dengan baik, sering lupa dan banyak memarfu’kan satu hadits, dan sering meriwayatkan hadits gharib dan ahad.[7]

 

BAB III

ORANGTUA RASULULLAH ADALAH

PENGANUT AGAMA HANIF/MILLAH IBRAHIM

DAN AHLUL JANNAH

 

Apakah orangtua Rasulullah saw penganut agama hanif/millah Ibrahim dan 100 % masuk surganya Allah swt? Para ulama berbeda pendapat, namun menurut Ahlussunnah wal Jama’ah memang demikian. Mengapa? Perhatikan argumentasi-argumentasi berikut ini!

 

A. AHLUL FATRAH

            Siapakah Ahlul Fatrah ini? Yaitu orang-orang yang berada pada zaman antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw yang selama ratusan tahun tidak ada Rasul Allah yang mendatangi mereka.

            Menurut Muwaffiq Ahmad dalam disertasinya yang berjudul “Ahl al-Fatrah wa Man Fiy Hukmihim” dan dibuat menjadi sebuah buku dan di tashih oleh Dr. Abbas Mahbub – Muhammad Syukriy[8] disebutkan, bahwa definisi Ahlul Fatrah ini adalah waktu antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw. Dan waktu lamanya para ulama berbeda menjadi beberapa pendapat, yaitu:

  1. Waktu antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw sekitar 600 tahun. Pendapat ini diwakili oleh Muqotil.
  2. Waktu antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw sekitar 560 tahun. Pendapat ini diwakili oleh Qotadah.
  3. Waktu antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw sekitar 433-439 tahun. Pendapat ini diwakili oleh al-Dhahhaak.

 

A.1. KEADAAN AHLUL FATRAH

            Menurut jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari kitab-kitab yang disarikan penulis, Ahlul Fatrah terbagi menjadi 2 keadaan:

  1. Orang yang mendapatkan dakwah Rasul Allah, ini terbagi menjadi dua:
    • Bertauhid dan tidak musyrik, maka mereka orang-orang yang selamat. Mereka adalah Orangtua Rasulullah saw, Qas bin Saa’idah, Zaid bin ‘Amr bin Nufail, Umiyyah bin Abiy Shalat, Waroqoh bin Naufal dan seterusnya, mereka disebut penganut Millah Ibrahim/agama hanif.
    • Mengubah ajaran Allah dan musyrik, maka mereka ahli neraka. Mereka seperti ‘Amr bin Luhay yang pertama kali meritualkan menyembah patung, lalu ‘Abdullah bin Jid’aan, dan seterusnya.
  2. Orang yang tidak mendapatkan dakwah Rasul Allah sampai wafat, maka mereka diadili pada hari Kiamat atas ketauhidan/kemusyrikan dan amal kebaikan/kejahatannya dengan menguji mereka untuk masuk ke dalam api neraka. Maka barangsiapa diantara mereka memasuki neraka atas perintah Allah tiba-tiba saja api neraka tersebut menjadi sejuk dan nyaman, dan barangsiapa di antara mereka tidak memasuki api neraka tersebut maka mereka berarti telah bermaksiat kepada Allah swt dan Allah swt malah memasukkannya ke dalam neraka tersebut.

Pendapat nomor 2 ini adalah pendapat Jumhur ‘Ulama Ahlussunah wal Jama’ah yang diwakili oleh Abu al-Hasan al-Asy’ariy, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, Ibnu Hazm, Muhammad Amin al-Syanqithiy, Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, dan lainnya.[9]

 

A.2. Dalil adanya Ahlul Fatrah:

Dalil adanya Ahlul Fitrah ini ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits, Allah swt berfirman:

يَا أَهْلَ اْلكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيْرٍ وَلاَ نَذِيْرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيْرٌ وَنَذِيْرٌُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus [FATRAH] (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Ma’idah: 19)

Sedangkan dari Hadits-hadits Rasulullah saw tentang adanya Ahlul Fitrah ini adalah sebagai berikut:

1. Hadits Rasulullah saw dari Aswad bin Sariy’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Hubban dengan nomor hadits ke 7357 dan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan nomor hadits ke 16301:[10]

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا إِسْحَاق بن إِبْرَاهِيم عَن معَاذ بن هِشَام حَدثنِي أبي عَن الْأَحْنَف عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ وَرَجُلٌ أَحْمَقُ وَرَجُلٌ هَرِمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَأَمَّا الأَصَمُّ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَمَا أسمع شَيْئا وَأما الأحمق فَيَقُول يَا رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونَنِي بِالْبَعَرِ وَأَمَّا الْهَرِمُ فَيَقُول لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَمَا أَعْقِلُ وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الفترة فَيَقُول يَا رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ رَسُولا أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا كَانَتْ عَلَيْهِم بردا وَسلَامًا.” اه

“Mengabarkan kepada kami ‘Abd Allah bin Muhammad al-Azdiy, berkata kepada kami Ishaq bin Ibrahim, dari Mu’adz bin Hisyam, Ayah bercerita kepadaku bahwa dia mendapat hadits dari al-Ahnaf bin Sariy;‘ Rasulullah saw bersabda: “Ada empat golongan yang argumentasi mereka dibenarkan pada hari kiamat: [1] Tunarungu, [2] Orang gila, [3] Orang tua terkena penyakit pikun, dan [4] Orang yang wafat pada zaman Fatrah. Adapun yang tunarungu mereka berkata: ‘wahai Tuhan kami, sungguh telah datang Islam tapi saya tidak dapat mendengar apapun,’ adapun yang gila berkata: ‘wahai Tuhanku sungguh telah datang Islam tapi anak-anak penduduk itu telah mengusirku dengan melempar kotoran tinja ke arahku,’ adapun yang tua dan terkena penyakit pikun berkata: ‘wahai Tuhan kami, sungguh telah datang Islam sedangkan saya tidak berakal,’ adapaun yang wafat pada masa fatrah mereka berkata: ‘wahai Tuhan kami, tidaklah datang kepada kami seorang Rasul,’ maka ucapan mereka diuji pada saat hari kiamat itu dengan mengirimkan seorang Rasul Allah yang memerintahkan mereka masuk ke dalam api neraka. Maka demi Dzat yang nyawaku ada pada genggaman-Nya, apabila mereka taat kepada Rasul Allah dan masuk ke dalam api neraka maka api tersebut akan menjadi sejuk dan nyaman.”

STATUS HADITS di atas

Menurut Imam Ibnu Hubban Sanad hadits ini Shahih, perawinya terpercaya (Tsiqat) yang menjadi perawi-perawi pada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim kecuali jalur Shahabiyah maka diriwayatkan oleh Imam Nasa’iy dan selainnya.

2. Hadits dari Abu Hamzah (Anas bin Malik) yang diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dengan nomor hadits 1139 dan Riwayat al-Baihaqiy juga dari Anas bin Malik:[11]

حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَبِالْمَعْتُوهِ، وَبِمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي. كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: ابْرُزْ فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ ادْخُلُوا هَذِهِ. فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ أَيْنَ نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ”. قَالَ: «وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا». قَالَ: “فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً فَيَدْخُلُ هَؤُلاءِ الْجَنَّةَ وَهَؤُلاءِ النَّارَ.” اه

“Menceritakan kepada kami Khaitsamah Zuhair bin Harb, menceritakan kepada kami Jarir, dari Layts, dari ‘Abd al-Waarits, dari Anas bin Malik dia berkata: “Rasulullah saw telah bersabda: “Akan didatangkan (pada hari kiamat) dengan empat (argumentasi): “[1] Kelahiran, [2] keidiotan, [3] wafat pada zaman fatrah, dan [4] orang tua pikun. Mereka semua berargumentasi dan Tuhan mereka menggenggam (membawa) api neraka dan Allah befirman kepada api tersebut: “tampilkanlah!” Lalu Allah bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya Aku telah mengutus Rasul kepada para hambaku dari golongan mereka sendiri. Dan sekarang saya sebagai Rasul diri Saya sendiri kepada kalian, masuklah kalian ke dalam api neraka ini!” Maka orang yang telah ditetapkan kerugian atasnya berkata: “Wahai Tuhan kami, dimana kami harus memasuki neraka itu? padahal kami kami lari darinya?!” [Dan Rasulullah saw melanjutkan: “dan barangsiapa yang ditetapkan atasnya kebahagiaan maka dia akan berjalan dan menerobos api neraka tersebut dengan cepat,”] dan Rasulullah saw bersabda: “Allah swt berfirman: “Kalian terhadap Rasul-rasul-Ku lebih dahsyat pendustaan dan kemaksiatannya.” Maka masuklah mereka (yang taat kepada Allah) ke dalam Surga dan mereka (yang tidak taat) ke dalam neraka.”

STATUS HADITS di atas

Hadits dari berbagai jalur tapi bertemu di Sahabat Anas bin Malik ini Shahih.

3. Hadits dari Mu’adz bin Jabal yang diriwayatkan oleh al-Thabraniy dengan nomor hadits 158:[12]

حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ عَبْدُ الرَّحْمِنِ بْنُ عَمْرٍو الدِّمَشْقِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ الصُّورِيُّ، ح وَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَا: ثنا عَمْرُو بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ يُونُسَ بْنِ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْمَمْسُوحِ عَقْلًا وَبَالْهَالِكِ فِي الْفَتْرَةِ، وَبَالْهَالِكِ صَغِيرًا، فَيَقُولُ الْمَمْسُوحُ عَقْلًا: يَا رَبِّ، لَوْ آتَيْتَنِي عَقْلًا مَا كَانَ مَنْ آتَيْتَهُ عَقْلًا بِأَسْعَدَ بِعَقْلِهِ مِنِّي، وَيَقُولُ الْهَالِكُ صَغِيرًا: يَا رَبِّ لَوْ آتَيْتَنِي عَمْرًا مَا كَانَ مَنْ آتَيْتَهُ عُمْرًا بِأَسْعَدَ مِنْ عُمْرِهِ مِنِّي، وَيَقُولُ الْهَالِكُ فِي الْفَتْرَةِ: يَا رَبِّ لَوْ جَاءَنِي مِنْكَ رَسُولٌ مَا كَانَ بَشَرٌ أَتَاهُ مِنْكَ عَهْدٌ بِأَسْعَدَ بِعَهْدِكَ مِنِّي، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَعَالَى: فَإِنِّي آمُرُكُمْ بِأَمْرٍ أَفَتُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ وَعِزَّتِكَ يَا رَبُّ، فَيَقُولُ: اذْهَبُوا فَادْخُلُوا جَهَنَّمَ – وَلَوْ دَخَلُوهَا لَمَا تَضُرُّهُمْ شَيْئًا – فَيَخْرُجُ عَلَيْهِمْ فَرَائِضُ مِنَ النَّارِ يَظُنُّونَ أَنَّهَا قَدْ أَهْلَكَتْ مَا خَلَقَ اللهُ مِنْ شَيْءٍ، ثُمَّ يَأْمُرُهُمُ الثَّانِيَةَ فَيَرْجِعُونَ كَذَلِكَ، فَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: خَلَقْتُكُمْ بِعِلْمِي، وَإِلَى عِلْمِي تَصِيرُونَ، فَتَأْخُذُهُمُ النَّارُ.” اه

“Berbicara kepada kami Abu Zur’ah ‘Abd al-Rahman bin ‘Amr al-Dimasyqiy, berbicara kepada kami Muhammad bin al-Mubaarok al-Shuwiry, berbicara kepada kami Ahmad bin al-Mu’alla al-Dimasyqiy, berbicara kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar, mereka berdua berkata: berbicara kepada kami ‘Amr bin Waaqid dari Yunus bin Maysarah bin Halbas dari Abi Idris dari Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullah saw bersabda: “Hari kiamat akan didatangkan orang yang akalnya hilang, wafat di zaman fatrah dan wafat di waktu kecil. Maka orang yang hilang akalnya berkata: ‘Wahai Tuhan kami andaikata Engkau berikan padaku akal, tidaklah orang yang Engkau datangkan padanya akal lebih bahagia dengan akalnya daripadaku.’ Dan berkata orang yang wafat pada waktu kecil: ‘Wahai Tuhan kami andaikata engkau berikan umur, tidaklah orang yang Engkau berikan panjang umur lebih bahagia dariku.’ Dan berkata orang yang wafat pada zaman fatrah: ‘Wahai Tuhan andaikata Engkau datangkan kepadaku Rasul, maka tidaklah manusia yang datang padanya janji Rasul lebih bahagia daripada janji yang Engkau berikan padaku.’ Maka Allah swt berfirman: “Aku akan memberikan kalian perintah, apakah kalian akan taat?!” Lantas mereka menjawab: “Ya, demi keagungan-Mu wahai Tuhan!” Maka Allah memerintahkan: “Masuklah kalian semua ke dalam Neraka Jahannam!” (Rasul melanjutkan:) Andaikata mereka memasukinya maka niscaya Neraka Jahanam itu tidak akan membahayakan mereka. Maka datanglah api neraka dan mereka menyangka api neraka itu akan menghancurkan yang telah Allah ciptakan sesuatu (dari diri mereka). Lantas Allah memerintahkan untuk yang kedua kalinya, dan mereka tetap mengulangi pembangkangannya. Maka Allah swt berfirman: “Aku menciptakan kalian dengan ilmu-Ku, dan dengan ilmu-Ku pulalah Aku mengetahui kalian akan menjadi apa.” Dan akhirnya Neraka Jahannam mengambil mereka (sebagai penduduknya).”

STATUS HADITS di atas

Hadits Hasan Ahad.

B. KEWAJIBAN ALLAH MENDATANGKAN RASUL

            Setelah mencermati hadits-hadits di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ahlul Fatrah secara umum maka dapat dipastikan disebut sebagai agama hanif/millah Ibrahim apabila dia berada di zaman antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw. Begitu pula orang-orang yang tidak mendapatkan dakwah sama sekali Rasul sampai wafatnya dan tidak berbuat kejahatan maka dapat dipastikan sebagai Ahlul Fatrah, akan tetapi dalam riwayat-riwayat di atas dijelaskan bahwa kelak di hari kiamat Allah swt akan menguji ketaatan mereka dengan api neraka, jika taat pada Allah ketika diuji untuk masuk ke dalam neraka ketika hari kiamat tersebut maka bisa dipastikan dia akan taat terhadap seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya di dunia apabila Rasul Allah di utus.

            Oleh sebab itu adalah kewajiban bagi Allah swt untuk mendatangkan Rasul-Nya sebagai pemberi peringatan kepada manusia sebelum manusia itu pantas diberikan status muslim atau kafir, ahli surga atau ahli neraka, berbahagia atau sengsara, selamat atau celaka. Karena apabila Rasul Allah yang diutus kepada mereka tidak datang maka tidak layak bagi Tuhan yang Maha Adil untuk memberikan status Kafir dan Ahli Neraka tersebut kepada makhluknya yang bernama manusia.

           Dalam ayat al-Qur’an sangat banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang Allah berkewajiban dan tidak mungkin akan menzalimi manusia dengan mengazabnya di neraka sebelum diutusnya seorang Rasul. Allah swt befirman:

  1. Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus [FATRAH] (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Ma’idah: 19)
  2. Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. Al-A’raf: 15)
  3. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. An-Nisa’: 165)
  4. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (8) Mereka menjawab: “Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar” (9).(QS. Al-Mulk: 8-9)
  5. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir. (QS. Al-Mulk: 8-9)
  6. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,” kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Jin: 130)
  7. Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman. (QS. Al-Qashash: 59)

 

C. FIDAAKA ABI WA UMMI

            Bagi kita yang terbiasa membaca literatur Hadits tentu akan ditemukan ratusan perkataan “Jaminanmu adalah Bapak dan Ibuku” (Fidaaka Abi wa Ummi) yang dikeluarkan dari lisan Rasulullah saw yang mulia. Maka apakah artinya ini? Ini artinya Rasulullah saw menyayangi bapak dan ibunya dan mendudukkan mereka berdua dalam derajat yang tinggi.

            Satu contoh dari ratusan hadits Rasulullah saw tentang ucapan beliau “Fidaaka Abi wa Ummi!” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bernomor 4055:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ هَاشِمٍ السَّعْدِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ المُسَيِّبِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ، يَقُولُ: نَثَلَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِنَانَتَهُ يَوْمَ أُحُدٍ، فَقَالَ «ارْمِ فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي» اه

“Telah menceritakan kepada saya ‘Abd Allah bin Muhammad, telah menceritakan kepada saya Marwaan bin Mu’aawiyah, telah menceritakan kepada saya Haasyim bin Haasyim al-Sa’diy, dia berkata: Saya mendengar Sa’id al-Musayyib berkata: Saya mendengar Sa’ad bin Abi Waqqaash berkata: Rasulullah saw memberikan tabung panah kepadaku ketika perang Uhud terjadi, dan beliau bersabda: “Lepaskanlah anak panah itu, maka jaminanmu adalah Bapak dan Ibuku!”[13]

Dan setelah perang usai Sa’ad bin Abi Waqqash bergembira dan bercerita kepada para sahabat bahwa Rasulullah saw berkata akan memberikan jaminan surga dirinya dengan menyatukan dirinya dan Bapak dan Ibu Rasulullah di surga.

Pertanyaannya, jika Bapak dan Ibu Rasulullah adalah kafir dan masuk neraka mungkinkah Sa’ad bin Abi Waqqaash bergembira diberikan jaminan surga dengan disatukan bersama bapak dan ibu Rasulullah saw?

Mungkinkah memberikan jaminan sesuatu (misalnya A) untuk menjamin sesuatu yang lain (misalnya B) namun yang dijadikan jaminan (A) tidak lebih berharga dari yang djamin (B)? Mungkinkah hal ini?! TENTU TIDAK MUNGKIN!

Maka disini akal sehat membenarkan bahwa orangtua Rasulullah saw adalah ahli surga dan dijunjung tinggi oleh Rasulullah saw dan para sahabat, dan mereka berdua adalah penganut agama hanif.

 

D. SAYA ADALAH SEBAIK-BAIKNYA NASAB

            Dalam satu hadits Riwayat Abu Nu’aim[14] disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنِي عَمِّي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ رَبِيعَةَ، أَنَّ نَاسًا مِنَ الْأَنْصَارِ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّا نَسْمَعُ مِنْ قَوْمِكَ حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ مِنْهُمْ: إِنَّمَا مَثَلُ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ نَخْلَةٍ أَنْبَتَتْ فِي كِبَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ أَنَا» ؟ قَالُوا: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: «أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ» قَالَ: فَمَا سَمِعْنَاهُ انْتَمَى قَبْلَهَا قَطُّ، فَقَالَ: «أَلَا إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ خَلْقَهُ، ثُمَّ فَرَقَهُمْ فِرْقَتَيْنِ، فَجَعَلَنِي مِنْ خَيْرِ الْفِرْقَتَيْنِ، ثُمَّ جَعَلَهُمْ قَبَائِلَ، فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِهِمْ قَبِيلَةً، فَأَنَا خَيْرُكُمْ بَيْتًا وَخَيْرُكُمْ نَفْسًا» اه

“Berbicara kepada kami Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abiy Syaibah, berbicara kepada kami Pamanku Abu Bakr bin Abi Syaibah, berbicara kepada kami Muhammad bin Fidhail, dari Yazid bin Abiy Ziyaadah dari ‘Abd Allah bin al-Haarits, dari ‘Abd al-Muththali bin Rabiy’ah, bahwasanya para shahabat dari golongan Anshar berkata kepada Rasulullah saw: Sesungguhnya kami mendengar dari kaummu bahwa: “Bahwa perumpamaan umatnya Muhammad saw ibarat buah kurma yang tumbuh di dalam taman.” Rasulullah saw bertanya: “Wahai orang sekalian, Siapa aku?” Mereka menjawab: “Anda adalah Rasulullah.” Rasul menjawab: “Saya adalah Muhammad bin ‘Abd al-Muththalib,” Abd al-Mutthalib bin Rabiy’ah berkomentar: “Kami tidak pernah mendengar Rasulullah membanggakan tali nasab sebelumnya.” Maka Rasulullah bersabda: “Ingatlah bahwa Allah swt menciptakan ciptaan-Nya  lalu membaginya menjadi dua (Adam dan Hawa) maka Allah menjadikanku sebaik-baiknya dari kedua ciptaan itu, lalu dari kedua ciptaan itu (Adam dan Hawa) Allah menjadikan manusia bersuku-suku, dan Allah menjadikan aku sebaik-baiknya suku dan sebaik-baiknya nasab dan jiwa.”

            Pertanyaannya adalah, mungkinkah Rasulullah saw membanggakan nasabnya apabila orangtua beliau adalah orang kafir dan masuk neraka? Mungkinkah akal sehat kita membenarkan hal ini? TENTU TIDAK MUNGKIN!

            Maka dengan demikian patahlah argumentasi orang yang mengatakan bahwa orangtua nabi muhammad adalah kafir dan masuk neraka baik secara DALIL NAQLI maupun DALIL AQLI. Sungguh betapa kurang ajarnya lisan mereka yang mengatakan hal ini, semoga hidayah Allah swt mendatangi saya dan mereka. Wallahu A’lam.

 

BAB IV

KESIMPULAN

            Mungkin kita masih bertanya mengapa masih memaksakan orangtua Rasulullah saw itu masuk surga, toh bukan bagian dari rukun Iman dan Islam, dan apalagi sudah jelas ada hadits Rasulullah riwayat Muslim yang mengatakan bahwa “sesungguhnya Bapakmu dan Bapakku ada di dalam neraka.”

            Sebagai penganut muslim yang baik tidaklah sembrono dalam memahami satu teks hadits. Karena dalam ilmu hadits Teks satu hadits berkaitan dengan hadits yang lain, dan berkaitan dengan ayat yang lain, yang saling menafsirkan satu sama lain, dan saling naskh satu sama lain. Dan di dalam tulisan ini penulis tidak ingin berpanjang lebar ingin menjelaskan tentang ilmu hadits, tapi ingin fokus bagaimana meyakini orangtua Rasulullah saw sebagai penganut agama hanif/millah Ibrahim dan sebagai ahli surga adalah suatu kebenaran, yakni:

  1. Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim ternyata dha’if karena salah satu perawinya ada yang berama Hammad bin Salamah sebagaimana yang telah dijelaskan.
  2. Hadits ini juga didha’ifkan oleh ayat-ayat al-Qur’an yang telah penulis kutip di atas tentang wajibnya Allah mengutus Rasul. Mengapa demikian? Karena orangtua Rasulullah saw sudah wafat semenjak Rasulullah saw masih kecil dan tentunya sebelum diangkat menjadi Rasul. Maka alangkah tidak bijaknya Allah swt menghukum hamba-Nya dan memberikan status tidak beriman kepada orangtua Rasulullah saw padahal beliau berdua sudah wafat sebelum Nabi Muhammad saw menjadi Rasul, bahkan masih anak-anak?!
  3. Rasul membanggakan nasabnya, dan bahkan menjamin sahabatnya dengan Bapak Ibunya, sebuah jaminan yang besar dan mulia. Tidak mungkin sesuatu yang dibanggakan akan tetapi dia berhukum najis, ya kekufuran adalah bentuk kenajisan, sebagaimana dalam hadits beliau.
  4. Orang tua Rasulullah hidup di zaman futur yang orang-orangnya disebut dengan Ahlul Fatrah, yang apabila tidak kedatangan Rasul dan tidak berbuat jahat maka Surga adalah tempatnya.

Dan dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang diuraikan di atas sangatlah jelas bahwa argumentasi orang yang mengatakan orangtua Rasulullah adalah Kafir adalah lemah dan sudah terbantahkan. Tidak bermaksud menyudutkan, akan tetapi orang yang berpendapat demikian sesuai dengan kitab-kitab yang telah penulis baca adalah dari golongan Wahabi dan/atau Salafi.

Semua argumentasi mereka adalah kering dari kebenaran, karena memakai hadits yang Gharib, dan Dha’if meskipun diriwayatkan oleh Imam Muslim sekalipun. Karena Imam Muslim sendiri mengatakan bahwa hadits dalam kitabnya tidak luput dari kesalahan.

Wallahu A’lam.

REFERENSI :

[1]Muhammad bin ‘Isma’iyl bin ‘Abu ‘Abd Allah al-Bukhoriy al-Ja’fiy, al-Jami’ al-Musnad al-Shahiyh al-Mukhtashar Min Umuwr Rosuwl Allah saw Wa Ayyaamih (Shahiyh Bukhooriy), Damascus: Dar el-Thuwq el-Najah, 1422 H, cet. I, vol. II, h. 95/vol. V, h. 52/vol. VI, h. 69.

[2]Muslim bin al-Hajjaaj Abuw al-Hasan al-Qusyairiy al-Niysabuwriy, al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘An al-‘Adl Ilaa Rasuwl Allah saw (Shahih Muslim), Beirut: Dar Ehya el-Turath el-‘Arobiy, t.t., vol. I, h. 54.

[3]Abu ‘Abd Allah al-Haakim Muhammad bin ‘Abd Allah bin Muhammad bin Hamdawayh bin Nu’aym bin al-Hakam al-Dhabiy al-Thahmaaniy al-Naysabuwriy, al-Mustadrok ‘Ala al-Shahiyhayn, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1990 M/1411 H, cet. I, vol. II, h. 365-366.

[4] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyuwb bin Muthiyr al-Lakhmiy al-Syaamiy al-Thabraniy, al-Mu’jam al-Kabiyr, Riyadh: Dar el-Shamiy’iy, 1415 H/1994 M, cet. I, vol. XI, h. 374.

[5]Abuw al-Fadaa’ Isma’iyl bin ‘Umar bin Katsiyr al-Qurosiy al-Bashoriy al-Damisyqiy, Tafsiyr al-Qur’an al-‘Azhiym (Tafsir Ibnu Katsir), Cairo: Dar el-Thaybah Li al-Nasyr wa al-Taqziy’, 1999 M/1420 H, vol. IV, h. 223.

[6]Muslim bin al-Hajjaaj Abuw al-Hasan al-Qusyairiy al-Niysabuwriy, al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘An al-‘Adl Ilaa Rasuwl Allah saw (Shahih Muslim), Beirut: Dar Ehya el-Turath el-‘Arobiy, t.t., vol. I, h. 54.

[7] Lihat:

[a]Abuw al-Fadaa’ Isma’iyl bin ‘Umar bin Katsiyr al-Qurosiy al-Bashoriy al-Diamsyqiy, Tafsiyr al-Qur’an al-‘Azhiym (Tafsir Ibnu Katsir), Cairo: Dar el-Thaybah Li al-Nasyr wa al-Taqziy’, 1999 M/1420 H, vol. I, h. 401.

[b] Abu Dawud Sulaymaan bin al’Asy’ats al-Sijistaaniy, Sunan Abiy Daawuud, Beirut: Dar el-Risaalah el-‘Aalamiyye, cet. I, 1430 H/2009 M, vol. VII, h. 101.

[c] Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal al-Syibaaniiy, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Beirut: Mu’assasah el-Risaalah, 1421 H/2001, vol. IXX, h. 228.

[d]Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abd al-Khaliq al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, cet. I, 1988 H/2009 M, vol. XIII, h. 267.

[e]Muhammad bin Hubbaan bin Ahmad bin Hubbaan bin Mu’aadz bin Ma’bad, Shahiyh Ibn Hubbaan bi Tartiyb Ibn Bulban, Beirut: Mu’assasah el-Risaalah, cet. II, 1414 H/1993 M, vol. II, h. 340.

[f] dan seterusnya!

[8] Muwaffiq Syukriy, Ahl al-Fatrah wa Man Fiy Hukmihim, Beirut: Mu’assasah Dar el-Qur’an, cet. I, 1409 H/1988, vol. I, h. 57-67. Ulama ini termasuk yang mengatakan bahwa orangtua Rasulullah saw masuk neraka karena hadits Imam Muslim: “Sesungguhnya Bapakmu dan Bapakku ada di Neraka.”

[9] Ibid., h. 76.

[10] Lihat:

[a] Muhammad bin Hubbaan bin Ahmad bin Hubbaan bin Mu’aadz bin Ma’bad, Al-Ihsaan fiy Taqriyb Shahiyh Ibn Hubban, Beirut: Mu’assasah el-Risaalah, cet. I, 1408 H/1988 M, vol. XXVII, h. 356-357.

[b] Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal,Loc.Cit., vol. XXVI, h. 228.

[11] Lihat:

[a] Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abd al-Khooliq bin Khilaad bin ‘Ubaid Allah al-‘Atqiy al-Bazzaar, Musnad al-Bazzaar (al-Bahr al-Zikhaar), Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, cet. I, 1988-2009 M, vol. XIV, h. 104.

[b] Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Musa al-Khusrowjirdiy al-Khuroosaaniy al-Baihaqiy, al-I’tiqaad wa al-Hidaayah Ilaa Sabiyl al-Rasyaad ‘Ala Madzhab al-Salaf wa Ashhaab al-Hadiyts, Beirut: Dar el-Afaaq, 1401 H, vol. I, h. 169.

[12] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyuwb bin Muthiyr al-Lakhmiy al-Syaamiy al-Thabrooniy, al-Mu’jam al-Kabiyr, Riyadh: Daar el-Shamiy’iy, cet. I, 1415 H/1994 M, vol XX, h. 83.

[13]Al-Bukhoriy, Shahiyh Bukhooriy, Loc.Cit., vol. V, h. 97.

[14] Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abd Allah bin Ahmad bin Ishaaq bin Musa al-Ashbahaaniy, Juz’ Fiyh Min Ahaadiyts al-Imaam Abiy Nu’aim, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, cet. I, 1420 H/2000 M, vol. I, h. 38.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 22 Juni 2013, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 31 Komentar.

  1. Terimakasih atas pencerahannya. Tapi ada yang ingin sekali saya ketahui dari penjelasan di atas. Yakni tentang Wahabi dan Salafi. Dari berbagai bacaan dan laporan yang saya baca, selalu Wahabi maupun Salafi yang jadi kambing hitam jika ada kasus dalam politik, keamanan, dan ekonomi dalam suatu negara. Siapa mereka dan bagaimana eksistensi mereka. Saya masih belum memperoleh bacaan tentang mereka. Terima kasih.

  2. Agenda wahabi untuk memurnikan Islam saya dukung, tapi sisi yang lain kelebayan mereka dalam mengumpat, membid’ahkan, memusyrikkan amalan umat Islam itu yang kurang diterima di masyarakat.

    Diterimanya Islam di bumi nusantara ini adalah akibat bijaksananya walisongo dalam berdakwah, bukan mengumpat, memusyrikkan, dan mengkafirkan umat Islam.

    Untuk historikal, eksistensi dan sebagainya mengenai wahabi/salafi butuh waktu khusus bagi saya untuk menulisnya. Agar informasi lebih cepat silakan langsung baca buku2nya.

    Wallahu A’lam.

  3. terimakasih penjelasannya kakak🙂 alhamdulillah sangat bermafaat.

  4. mulia bermanhaj salaf

    anda itu tidak berlimu agama dengan benar,hanya mengikuti hawa nafsu dan logika, keinginan

  5. maaf mas apriansyah, dalam artikel di atas anda memang telah menjelaskan bahwa klaim orang tua rasulullah di neraka adalah tidak benar karena haditsnya lemah. Namun, apa yang menjadi dasar anda menentukan klu ortu masih hidup niscaya mereka akan beriman? padahal banyak di antara paman2 Rasulullah yang tidak beriman. Ataukah ada hadits2 yang menunjukkan bahwa ortu Rasulullah masuk surga?
    Selain itu, telah diketahui bersama bahwa sebelum Rasulullah diutus menjadi Rasul juga ada ahli kitab yang masih memegang kemurnian ajaran agamanya, seperti Waraqah bin Naufal dan abdullah ibnu salam. Namun ortu Rasulullah tidak mengikuti ajaran dari agama2 tersebut. Mungkin mas apriansyah mempunyai penjelasan bagi saya?
    Terima kasih

    • Silakan anda membaca kitab: Masalikul Hunafa’ Fi Walidayil Mushthafa’ karangan Imam Suyuthiy, ini PDF nya:

      Inti dari kitab itu adalah:

      Dari Nabi Isa sampai dengan Sebelum Nabi Muhammad di utus masa itu disebut masa Fatrah/Futur dimana ketiadaan Nabi dan Rasul Allah yang diutus. Dan orang-orang yang hidup pada zaman fatrah/futur (Ahlul Fatrah) tidak dikatakan sebagai orang kafir dan tidak masuk neraka dikarenakan belum adanya utusan yang datang ke mereka. Dalilnya adalah:

      …… Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. Al Isra: 15)

      lagipula hadits yang mengatakan orangtua Rasulullah saw masuk neraka semuanya Dha’if bahkan Maudhu’

      Wallahu A’lam.

  6. makasih mas bro referensinya, sy jd tahu klu imam suyuthiy berpendapat seperti itu. Namun masih ada beberapa hal yang mengganjal:
    1. tentang hadits bapakku dan bapakmu di neraka.
    dlam artikel di atas, dijelaskan bahwa Menurut Imam Qurthubiy Sanad Hadits ini (yaitu Muhammad bin Ka’ab) adalah Dha’if (Lemah). Siapa Muhammad bin Ka’ab ini mas? padahal perawi hadits di atas disebutkan: dari Abu Bakar bin Abu Syaibah-Affan
    Hammad bin Salamah-Tsabit dari Anas bahwa…..
    2. adakah referensi lain mas selain kitab tafsir ibnu katsir yang menjelaskan tentang surat Al-Isra:15. Karena setelah sy baca tafsir tsb, intinya untuk anak orang2 musyrik yang belum baligh (atau bisa disamakan dengan ahlu fatrah) ada perbedaan pendapat di kalangan ulama: a) di surga b) bersama ayahnya di neraka, c) diuji terlebih dahulu d) di al-a’raf terlebih dahulu.
    3. di kalangan ahlu fatrah juga tidak dimutlakan tidak masuk neraka, salah satu buktinya adalah ‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’iy. Orang ini hidup di masa fatrah, namun ia mengubah ajaran Nabi Ibraahiim bagi bangsa ‘Arab sehingga mereka menyembah berhala. Dan telah dijelaskan bahwa ‘Amru disiksa di neraka (Bukhariy No 3521). Bagaimana dengan yang mengikuti ajarannya mas?
    4. yang terakhir mas, adakah ulama2 lain selain imam suyuthiy yang lebih menguatkan dalil bahwa ibunda dan ayah Rasulullah di neraka?

    Jazakallahu Khoiron…

    • 1. tentang hadits bapakku dan bapakmu di neraka.
      dlam artikel di atas, dijelaskan bahwa Menurut Imam Qurthubiy Sanad Hadits ini (yaitu Muhammad bin Ka’ab) adalah Dha’if (Lemah). Siapa Muhammad bin Ka’ab ini mas? padahal perawi hadits di atas disebutkan: dari Abu Bakar bin Abu Syaibah-Affan

      jawab:

      Terimakasih, saya keliru dan saya ralat, bukan Muhammad bin Ka’b akan tetapi Hammad bin Salamah ini perawi Dha’if, refferensinya saya tulis di artikel di atas.

      ______________________________________________

      2. adakah referensi lain mas selain kitab tafsir ibnu katsir yang menjelaskan tentang surat Al-Isra:15. Karena setelah sy baca tafsir tsb, intinya untuk anak orang2 musyrik yang belum baligh (atau bisa disamakan dengan ahlu fatrah) ada perbedaan pendapat di kalangan ulama: a) di surga b) bersama ayahnya di neraka, c) diuji terlebih dahulu d) di al-a’raf terlebih dahulu.

      jawab:

      Sangat banyak tafsir yang menjelaskan tentang surah Al-Isra’: 15, silakan anda cari sendiri.

      Yang anda sebutkan di atas hanya sepotong penjelasan Ibnu Katsir, silakan baca lagi dengan cermat.

      Silakan dibaca yang benar dari 9 halaman tafsir Ibnu Katsir yang membahas tentang surah Al-Isra’: 15 ini:

      [Halaman 52]

      إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ قَوِيٌّ، وَلَمْ يُخَرِّجُوهُ.
      وَقَالَ مَعْمَر، عَنْ قَتَادَةَ: {أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ} قَالَ: عَمَلَهُ. {وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ} قَالَ: نُخْرِجُ ذَلِكَ الْعَمَلَ {كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا} قَالَ مَعْمَرٌ: وَتَلَا الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ {عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ} [ق: 17] يَا ابْنَ آدَمَ، بَسَطْتُ لَكَ صَحِيفَتَكَ (1) وَوَكَلَ بِكَ مَلَكَانِ كَرِيمَانِ، أَحَدُهُمَا عَنْ يَمِينِكَ وَالْآخَرُ عَنْ يَسَارِكَ فَأَمَّا الَّذِي عَنْ يَمِينِكَ فَيَحْفَظُ حَسَنَاتِكَ، وَأَمَّا الَّذِي عَنْ يَسَارِكَ فَيَحْفَظُ سَيِّئَاتِكَ، فَاعْمَلْ (2) مَا شِئْتَ، أَقْلِلْ أَوْ أَكْثِرْ، حَتَّى إِذَا مِتَّ طُوِيَتْ صَحِيفَتُكَ فَجُعِلَتْ فِي عُنُقِكَ مَعَكَ فِي قَبْرِكَ، حَتَّى تَخْرُجَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا تَلْقَاهُ مَنْشُورًا {اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا} قَدْ عَدَلَ -وَاللَّهِ (3) -عَلَيْكَ مَنْ جَعَلَكَ حَسِيبَ نَفْسِكَ.
      هَذَا مِنْ حُسْنِ (4) كَلَامِ الْحَسَنِ، رَحِمَهُ اللَّهُ.
      {مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا (15) }
      يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ مَنِ اهْتَدَى وَاتَّبَعَ الْحَقَّ وَاقْتَفَى آثَارَ النُّبُوَّةِ، فَإِنَّمَا يُحَصِّلُ عَاقِبَةَ ذَلِكَ الْحَمِيدَةَ (5) لِنَفْسِهِ {وَمَنْ ضَلَّ} أَيْ: عَنِ الْحَقِّ، وَزَاغَ عَنْ سَبِيلِ الرَّشَادِ، فَإِنَّمَا يَجْنِي عَلَى نَفْسِهِ، وَإِنَّمَا يَعُودُ وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ.
      ثُمَّ قَالَ: {وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى} أَيْ: لَا يَحْمِلُ أَحَدٌ ذَنْبَ أَحَدٍ، وَلَا يَجْنِي جانٍ إِلَّا عَلَى نَفْسِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ} [فَاطِرٍ: 18] .
      وَلَا مُنَافَاةَ بَيْنَ هَذَا وَبَيْنَ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ} [الْعَنْكَبُوتِ: 13] ، وَقَوْلُهُ [تَعَالَى] (6) {وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ} [النَّحْلِ: 25] ، فَإِنَّ الدُّعَاةَ عَلَيْهِمْ إِثْمُ ضَلَالِهِمْ فِي أَنْفُسِهِمْ، وَإِثْمٌ آخَرُ بِسَبَبِ مَا أَضَلُّوا مَنْ أَضَلُّوا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِ أُولَئِكَ، وَلَا يَحْمِلُوا عَنْهُمْ شَيْئًا. وَهَذَا مِنْ عَدْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ بِعِبَادِهِ.
      وَكَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا} إِخْبَارٌ عَنْ عَدْلِهِ تَعَالَى، وَأَنَّهُ لَا يُعَذِّبُ أَحَدًا إِلَّا بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ بِإِرْسَالِ الرَّسُولِ إِلَيْهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نزلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ} [الْمُلْكِ: 8، 9] ، وَكَذَا قَوْلُهُ [تَعَالَى] (7) : {وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ} [الزُّمَرِ: 71] ، وَقَالَ تَعَالَى: {وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ} [فاطر: 37]
      __________
      (1) في ت، ف، أ: “صحيفة”.
      (2) في ت، ف، أ: “فاملك”.
      (3) في ت، ف، أ: “الله”.
      (4) في ف: “أحسن”.
      (5) في ف: “الحمد”.
      (6) زيادة من ت.
      (7) زيادة من ت.

      [Halaman 53]

      إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْآيَاتِ الدَّالَّةِ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُدْخِلُ أَحَدًا النَّارَ إِلَّا بَعْدَ إِرْسَالِ الرَّسُولِ إِلَيْهِ، وَمِنْ ثَمَّ طَعَنَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ فِي اللَّفْظَةِ الَّتِي جَاءَتْ مُقْحِمَةً فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عِنْدَ قَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ} [الْأَعْرَافِ: 56] .
      حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَان، عَنِ الْأَعْرَجِ بِإِسْنَادِهِ إِلَى (1) أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “اخْتَصَمَتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ” فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَالَ: “وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَأَنَّهُ يُنْشِئُ لِلنَّارِ خَلْقًا فَيُلْقَوْنَ فِيهَا، فَتَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟ (2) ثَلَاثًا، وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ (3) .
      فَإِنَّ هَذَا إِنَّمَا جَاءَ فِي الْجَنَّةِ لِأَنَّهَا دَارُ فَضْلٍ، وَأَمَّا النَّارُ فَإِنَّهَا دَارُ عَدْلٍ، لَا يَدْخُلُهَا أَحَدٌ إِلَّا بَعْدَ الْإِعْذَارِ إِلَيْهِ وَقِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ. وَقَدْ تَكَلَّمَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ فِي هَذِهِ اللَّفْظَةِ (4) وَقَالُوا: لَعَلَّهُ انْقَلَبَ عَلَى الرَّاوِي بِدَلِيلِ مَا أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ (5) عَنْ مَعْمَر، عَنْ هَمَّامٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ (6) صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تَحَاجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ” فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَالَ: “فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ فِيهَا قَدَمَهُ، فَتَقُولَ: قَطٍ، قَطٍ، فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيَزْوِي (7) بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَيُنْشِئُ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا” (8) .
      بَقِيَ هَاهُنَا مَسْأَلَةٌ قَدِ اخْتَلَفَ الْأَئِمَّةُ (9) رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى، فِيهَا (10) قَدِيمًا وَحَدِيثًا وَهِيَ: الْوِلْدَانُ الَّذِينَ مَاتُوا وَهُمْ صِغَارٌ وَآبَاؤُهُمْ كُفَّارٌ، مَاذَا حُكْمُهُمْ؟ وَكَذَا الْمَجْنُونُ وَالْأَصَمُّ وَالشَّيْخُ الْخَرِفُ، وَمَنْ مَاتَ فِي الفَتْرة وَلَمْ تَبْلُغْهُ (11) الدَّعْوَةُ. وَقَدْ وَرَدَ فِي شَأْنِهِمْ أَحَادِيثُ أَنَا ذَاكِرُهَا لَكَ بِعَوْنِ اللَّهِ [تَعَالَى] (12) وَتَوْفِيقِهِ ثُمَّ نَذْكُرُ فَصْلًا مُلَخَّصًا مِنْ كَلَامِ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ (13) الْمُسْتَعَانُ.
      فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ: عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَريع:
      قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] (14) أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ، فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ (15) جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا، وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي (16) بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا،
      __________
      (1) في ت، ف، أ: “عن”.
      (2) في ت، ف، أ: “هل من مزيد؟ ويلقون فيها فتقول: هل من مزيد”.
      (3) صحيح البخاري برقم (7449)
      (4) في ت: “الفظلة” وهو خطأ.
      (5) في ت: “وعبد الرزاق”.
      (6) في ف: “قال رسول الله”.
      (7) في ف: “وينزوي”.
      (8) صحيح البخاري برقم (4850) وصحيح مسلم برقم (2846) .
      (9) في أ: “العلماء”.
      (10) في ف: “اختلف العلماء فيها”.
      (11) في ت: “ومن لم تبلغه”.
      (12) زيادة من ت، ف.
      (13) في ت، ف، أ: “وبالله”.
      (14) زيادة من ف، أ.
      (15) في ف: “لقد”.
      (16) في ت: “يقذفوني”.

      [Halaman 54]

      وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ. فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ ليُطِعنّه (1) فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا” (2) .
      وَبِالْإِسْنَادِ عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، مِثْلَ هَذَا الْحَدِيثِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فِي آخِرِهِ: “مَنْ (3) دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا” (4) .
      وَكَذَا رَوَاهُ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ هِشَامٍ، وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِ الِاعْتِقَادِ، مِنْ حَدِيثِ حَنْبَلِ (5) بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَدِينِيِّ، بِهِ (6) وَقَالَ: هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ، وَكَذَا رَوَاهُ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَرْبَعَةٌ كُلُّهُمْ يُدْلِي عَلَى اللَّهِ بِحُجَّةٍ” فَذَكَرَ نَحْوَهْ (7) .
      وَرَوَاهُ ابْنُ جَرِيرٍ، مِنْ حَدِيثِ مَعْمَر، عَنْ هَمَّامٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَذَكَرَهُ مَوْقُوفًا، ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا} (8) .
      وَكَذَا رَوَاهُ مَعْمَرٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفًا.
      الْحَدِيثُ الثَّانِي: عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ:
      قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانٍ (9) قَالَ: قُلْنَا لِأَنَسٍ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، مَا تَقُولُ فِي أَطْفَالِ الْمُشْرِكِينَ؟ فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَمْ يَكُنْ لَهُمْ سَيِّئَاتٌ فَيُعَذَّبُوا (10) بِهَا فَيَكُونُوا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ حَسَنَاتٌ فَيُجَازُوا بِهَا فَيَكُونُوا مَنْ مُلُوكِ أَهْلِ الْجَنَّةِ هُمْ مَنْ خَدَمِ أَهْلِ الْجَنَّةِ” (11) .
      الْحَدِيثُ الثَّالِثُ: عَنْ أَنَسٍ أَيْضًا:
      قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ لَيْث، عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الفَتْرَة، وَالشَّيْخِ الْفَانِي الْهَرِمِ، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: ابْرُزْ. وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمُ ادْخُلُوا هَذِهِ. قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَتْ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيُدْخِلُ هؤلاء الجنة، وهؤلاء النار”.
      __________
      (1) في ت، ف: “لتطيعنه”.
      (2) المسند (4/24) وقال الهيثمي في المجمع (7/216) : “رجاله رجال الصحيح”.
      (3) في ف: “فمن”.
      (4) المسند (4/24) وقال الهيثمي في المجمع (7/216) : “رجاله رجال الصحيح”.
      (5) في ف، أ: “أحمد”.
      (6) الاعتقاد (ص169) .
      (7) رواه ابن أبي عاصم في السنة برقم (404) من طريق الحسن بن موسى، عن حماد بن سلمة به.
      (8) تفسير الطبري (15/41) .
      (9) في ف: “زيد هو أبان”.
      (10) في ت: “ليعذبوا”.
      (11) رواه أبو نعيم في الحلية (6/308) من طريق سفيان الثوري، عن الربيع بن صبيح به، وضعفه الحافظ ابن حجر في الفتح (3/246) وله شواهد من حديث أبي سعيد الخدري، وسمرة بن جندب رضي الله عنهما. وكأن في متن الحديث نكاره لمخالفته ما ورد في الصحيحين أولا، ولأن الله وصف خدم أهل الجنة بالخلود فقال:

      [Halaman 55]

      وَهَكَذَا رَوَاهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ مُوسَى، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ، بِإِسْنَادِهِ مِثْلَهَ (1) .
      الْحَدِيثُ الرَّابِعُ: عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
      قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا: حَدَّثَنَا قَاسِمُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ.
      -يَعْنِي ابْنَ دَاوُدَ-عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: سُئل رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ قَالَ: “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ”. وَسُئِلَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ”. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا يَعْمَلُونَ؟ قَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ” (2) .
      وَرَوَاهُ عُمَرُ بْنُ ذَرٍّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ رَجُلٍ، عَنِ الْبَرَاءِ، عَنْ عَائِشَةَ، فَذَكَرَهُ (3) .
      الْحَدِيثُ الْخَامِسُ: عَنْ ثَوْبَانَ:
      قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو بْنِ عَبْدِ الْخَالِقِ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عظَّم شَأْنَ الْمَسْأَلَةِ، قَالَ: “إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، جَاءَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَحْمِلُونَ أَوْثَانَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ تُرْسِلْ إِلَيْنَا رَسُولًا وَلَمْ يَأْتِنَا لَكَ أَمْرٌ، وَلَوْ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا لَكُنَّا أَطْوَعَ عِبَادِكَ، فَيَقُولُ لَهُمْ رَبُّهُمْ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَأْمُرُهُمْ (4) أَنْ يَعْمِدُوا إِلَى جَهَنَّمَ فَيَدْخُلُوهَا، فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا وَجَدُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا، فَرَجَعُوا إِلَى رَبِّهِمْ فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا أَخْرِجْنَا -أَوْ: أَجِرْنَا-مِنْهَا، فَيَقُولُ لَهُمْ: أَلَمْ تَزْعُمُوا أَنِّي إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَأْخُذُ عَلَى ذَلِكَ مَوَاثِيقَهُمْ. فَيَقُولُ: اعْمَدُوا إِلَيْهَا، فَادْخُلُوهَا.
      فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا رَأَوْهَا فَرِقوا وَرَجَعُوا، فَقَالُوا: رَبَّنَا فَرِقنا مِنْهَا، وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَدْخُلَهَا فَيَقُولُ: ادْخُلُوهَا دَاخِرِينَ”. فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَوْ دَخَلُوهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا”. ثُمَّ قَالَ الْبَزَّارُ: وَمَتْنُ هَذَا الْحَدِيثِ غَيْرُ مَعْرُوفٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، لَمْ يَرْوِهِ عَنْ أَيُّوبَ إِلَّا عَبَّادٌ، وَلَا عَنْ عَبَّادٍ إِلَّا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ (5) .
      قُلْتُ: وَقَدْ ذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي ثِقَاتِهِ، وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَالنَّسَائِيُّ: لَا بَأْسَ بِهِ، وَلَمْ يَرْضَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: شَيْخٌ لَا بَأْسَ بِهِ يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ.
      الْحَدِيثُ السَّادِسُ: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ-سَعْدُ بْنُ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيُّ:
      قَالَ الْإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الذُّهَلي: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الْهَالِكُ فِي الْفَتْرَةِ وَالْمَعْتُوهُ والمولود: يقول الهالك
      __________
      (1) مسند أبي يعلى (7/225) ومسند البزار برقم (2177) “كشف الأستار” وليث بن أبي سليم ضعيف، وعبد الوارث قال عنه البخاري: “منكر الحديث”.
      (2) وذكره المؤلف في جامع المسانيد والسنن (37/87) من مسند أبي يعلى، ولم أقع عليه في المطبوع من المسند.
      (3) لم أقع على هذا الطريق، ولعلي أستدركه فيما بعد -إن شاء الله. وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ (6/84) مِنْ طَرِيقِ بهية عن عائشة نحوه.
      (4) في ت: “فأمرهم”.
      (5) مسند البزار برقم (3433) “كشف الأستار”.

      [Halaman 56]

      فِي الْفَتْرَةِ: لَمْ يَأْتِنِي كِتَابٌ، وَيَقُولُ الْمَعْتُوهُ: رَبِّ، لَمْ تَجْعَلْ لِي عَقْلًا أَعْقِلُ بِهِ خَيْرًا وَلَا شَرًّا، وَيَقُولُ الْمَوْلُودُ: رَبِّ لَمْ أُدْرِكِ الْعَقْلَ فَتُرْفَعُ (1) لَهُمْ نَارٌ فَيُقَالُ لَهُمْ (2) : رِدُوهَا”، قَالَ: فَيَرِدُهَا مَنْ كَانَ فِي عِلْمِ اللَّهِ سَعِيدًا لَوْ أَدْرَكَ الْعَمَلَ، وَيُمْسِكُ عَنْهَا مَنْ كَانَ فِي عِلْمِ اللَّهِ شَقِيًّا لَوْ أَدْرَكَ الْعَمَلَ، فَيَقُولُ: إِيَّايَ عَصَيْتُمْ، فَكَيْفَ لَوْ أَنَّ رُسُلِي أَتَتْكُمْ؟ “.
      وَكَذَا رَوَاهُ الْبَزَّارُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ هَيَّاج الْكُوفِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ (3) بْنِ مُوسَى، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، بِهِ (4) ثُمَّ قَالَ: لَا يُعْرَفُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ إِلَّا مِنْ طَرِيقِهِ، عَنْ عَطِيَّةَ عَنْهُ، وَقَالَ فِي آخِرِهِ: “فَيَقُولُ اللَّهُ: إِيَّايَ عَصَيْتُمْ فَكَيْفَ بِرُسُلِي بِالْغَيْبِ؟ ”
      الْحَدِيثُ السَّابِعُ: عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
      قَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّار وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ الصُّورِيُّ (5) حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ يُونُسَ بْنِ حَلْبَسٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ (6) الْخَوْلَانِيِّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْمَمْسُوخِ عَقْلًا وَبِالْهَالِكِ فِي الْفَتْرَةِ، وَبِالْهَالِكِ صَغِيرًا. فَيَقُولُ الْمَمْسُوخُ: يَا رَبِّ، لَوْ آتَيْتَنِي عَقْلًا مَا كَانَ (7) مَنْ آتَيْتُهُ عَقْلًا بِأَسْعَدَ مِنِّي -وَذَكَرَ فِي الْهَالِكِ فِي الْفَتْرَةِ وَالصَّغِيرِ نَحْوَ ذَلِكَ-فَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: إِنِّي آمُرُكُمْ بِأَمْرٍ فَتُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: اذْهَبُوا فَادْخُلُوا النَّارَ -قَالَ: وَلَوْ دَخَلُوهَا مَا ضَرَّتْهُمْ-فَتَخْرُجُ عَلَيْهِمْ قَوَابِصُ، فَيَظُنُّونَ أَنَّهَا قَدْ أَهْلَكَتْ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ، فَيَرْجِعُونَ سِرَاعًا، ثُمَّ يَأْمُرُهُمُ الثَّانِيَةَ فَيَرْجِعُونَ كَذَلِكَ، فَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَكُمْ عَلِمْتُ مَا أَنْتُمْ عَامِلُونَ، وَعَلَى عِلْمِي خَلَقْتُكُمْ، وَإِلَى عِلْمِي تَصِيرُونَ، ضُمِّيهِمْ، فَتَأْخُذُهُمُ النَّارُ” (8) .
      الْحَدِيثُ الثَّامِنُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
      قَدْ تَقَدَّمَ رِوَايَتُهُ مُنْدَرِجَةٌ مَعَ رِوَايَةِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
      وَفِي الصَّحِيحَيْنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرَانه ويُمَجِّسانه، كَمَا تُنْتِجُ (9) الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ ” (10) .
      وَفِي رِوَايَةٍ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ صَغِيرًا؟ قَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ” (11) .
      وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ قُرَّة، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ضَمْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -فِيمَا أَعْلَمُ، شَكَّ مُوسَى-قَالَ:
      __________
      (1) في ف: “فرفع”.
      (2) في ت: “فيقول لهم”.
      (3) في ت: “عبد الله”.
      (4) مسند البزار برقم (2176) وقال الهيثمي في المجمع (7/216) “فيه عطية وهو ضعيف”.
      (5) في ت: “الغوري”.
      (6) في ت: “عن أبي ذر”.
      (7) في ت: “ما مات”.
      (8) ورواه ابن عدي في الكامل (5/118) من طريق عبد الصمد بن عبد الله، عن هشام بن عمار، عن عمرو بن واقد به. وقال بعد أن ساق أحاديث عمرو بن واقد عن يونس: “كلها غير محفوظة إلا من رواية عمرو بن واقد عن يونس، عن أبي إدريس، عن معاذ ابن جبل وهو من الشاميين ممن يكتب حديثه ولا يحتج به”.
      (9) في ت، ف: “تولد”.
      (10) صحيح البخاري برقم (1385) وصحيح مسلم برقم (2658) .
      (11) الرواية في صحيح مسلم برقم (2658) .

      [Halaman 57]

      “ذَرَارِيُّ الْمُسْلِمِينَ فِي الْجَنَّةِ، يَكْفُلُهُمْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ (1) ” (2) .
      وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ، عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنَّهُ قَالَ: “إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ” (3) وَفِي رِوَايَةٍ لِغَيْرِهِ “مُسْلِمِينَ”.
      الْحَدِيثُ التَّاسِعُ: عَنْ سَمُرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
      رَوَاهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَرْقَانِيُّ فِي كِتَابِهِ “الْمُسْتَخْرَجِ عَلَى الْبُخَارِيِّ” مِنْ حَدِيثِ عَوْفٍ الْأَعْرَابِيِّ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيِّ، عَنْ سَمُرَة، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ” فَنَادَاهُ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟ قَالَ: “وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ” (4) .
      وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ الضَّبِّي، عَنْ عِيسَى بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي رَجَاء، عَنْ سَمُرَةَ قَالَ: سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: “هُمْ خَدَمُ أَهْلِ الْجَنَّةِ” (5) .
      الْحَدِيثُ الْعَاشِرُ: عَنْ عَمِّ حَسْنَاءَ (6) .
      قَالَ [الْإِمَامُ] (7) أَحْمَدُ: [حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، يَعْنِي الْأَزْرَقَ] (8) ، أَخْبَرَنَا رَوْح، حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ حَسْنَاءَ (9) بِنْتِ مُعَاوِيَةَ مَنْ بَنِي صَرِيمٍ قَالَتْ: حَدَّثَنِي عَمِّي قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ فِي الْجَنَّةِ؟ قَالَ: “النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَالشَّهِيدُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْمَوْلُودُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْوَئِيدُ فِي الْجَنَّةِ” (10) .
      فَمِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ ذَهَبَ إِلَى التَّوَقُّفِ (11) فِيهِمْ لِهَذَا الْحَدِيثِ، وَمِنْهُمْ مَنْ جَزَمَ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ، لِحَدِيثِ سَمُرَة بْنِ جُنْدُبٍ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ: أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ (12) قَالَ فِي جُمْلَةِ ذَلِكَ الْمَنَامِ، حِينَ مَرَّ عَلَى ذَلِكَ الشَّيْخِ تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَحَوْلَهُ وِلْدَانٌ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: هَذَا إِبْرَاهِيمُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَهَؤُلَاءِ أَوْلَادُ الْمُسْلِمِينَ وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟. قَالَ “نَعَمْ، وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ” (13) .
      وَمِنْهُمْ مَنْ جَزَمَ لَهُمْ بِالنَّارِ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ (14) : “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ”.
      وَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّهُمْ يُمْتَحَنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي العَرَصَات، فَمَنْ أَطَاعَ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَانْكَشَفَ عِلْمُ اللَّهِ فِيهِمْ بِسَابِقِ السَّعَادَةِ، وَمَنْ عَصَى دَخَلَ النَّارَ دَاخِرًا، وانكشف علم الله فيه بسابق (15) الشقاوة.
      __________
      (1) في ت: “عليه الصلاة والسلام”.
      (2) المسند (2/326) وقال الهيثمي في المجمع (7/219) : “فيه عبد الرحمن بن ثابت وثقه ابن المديني وجماعة، وضعفه ابن معين وغيره، وبقية رجاله ثقات”.
      (3) صحيح مسلم برقم (2865) .
      (4) أصله في صحيح البخاري برقم (7047) من طريق عوف به نحوه.
      (5) المعجم الكبير (7/244) وقال الهيثمي في المجمع (7/219) : “وفيه عبادة بن منصور وثقة يحيى القطان وفيه ضعف”.
      (6) في ت، ف، أ: “خنساء”.
      (7) زيادة من ت، أ.
      (8) زيادة من ف، أ، والمسند.
      (9) في ت، ف، أ: “خنساء”.
      (10) المسند (5/58) وقال الحافظ ابن حجر في الفتح (3/246) : “إسناده حسن”.
      (11) في ت، ف، أ: “الوقف”.
      (12) في ف، أ: “صلى الله عليه وسلم”.
      (13) صحيح البخاري برقم (7047) .
      (14) في ت: “عليه الصلاة والسلام”، وفي ف، أ: “صلى الله عليه وسلم”.
      (15) في ت، ف، أ: “بتقدم”.

      [Halaman 58]

      وَهَذَا الْقَوْلُ يَجْمَعُ بَيْنَ الْأَدِلَّةِ كُلِّهَا، وَقَدْ صَرَّحَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ الْمُتَقَدِّمَةُ الْمُتَعَاضِدَةُ الشَّاهِدُ بَعْضُهَا لِبَعْضٍ. وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الَّذِي حَكَاهُ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَشْعَرِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، عَنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَهُوَ الَّذِي نَصَرَهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ فِي “كِتَابِ الِاعْتِقَادِ” وَكَذَلِكَ غَيْرُهُ مِنْ مُحَقِّقِي الْعُلَمَاءِ وَالْحُفَّاظِ النُّقَّادِ.
      وَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ النَّمَري بَعْدَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ أَحَادِيثِ الِامْتِحَانِ، ثُمَّ قَالَ: وَأَحَادِيثُ هَذَا الْبَابِ لَيْسَتْ قَوِيَّةً، وَلَا تَقُومُ بِهَا حُجَّةٌ وَأَهْلُ الْعِلْمِ يُنْكِرُونَهَا؛ لِأَنَّ الْآخِرَةَ دَارُ جَزَاءٍ وَلَيْسَتْ دَارَ عَمَلٍ وَلَا ابْتِلَاءٍ، فَكَيْفَ يُكَلَّفُونَ دُخُولَ النَّارِ وَلَيْسَ ذَلِكَ فِي وُسْعِ الْمَخْلُوقِينَ، وَاللَّهُ لَا يُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا؟!
      وَالْجَوَابُ عَمَّا قَالَ: أَنَّ أَحَادِيثَ هَذَا الْبَابِ مِنْهَا مَا هُوَ صَحِيحٌ، كَمَا قَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْعُلَمَاءِ، وَمِنْهَا مَا هُوَ حَسَنٌ، وَمِنْهَا مَا هُوَ ضَعِيفٌ يَقْوَى (1) بِالصَّحِيحِ وَالْحَسَنِ. وَإِذَا كَانَتْ أَحَادِيثُ الْبَابِ الْوَاحِدِ مُتَعَاضِدَةً عَلَى هَذَا النَّمَطِ، أَفَادَتِ الْحُجَّةَ عِنْدَ النَّاظِرِ فِيهَا، وَأَمَّا قَوْلُهُ: “إِنَّ الْآخِرَةَ دَارُ جَزَاءٍ”. فَلَا شَكَّ أَنَّهَا دَارُ جَزَاءٍ، وَلَا يُنَافِي التَّكْلِيفَ فِي عَرَصَاتِهَا قَبْلَ دُخُولِ الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ، كَمَا حَكَاهُ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ عَنْ مَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، مِنَ امْتِحَانِ الْأَطْفَالِ، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ} [ن: 42] وَقَدْ ثَبَتَتِ السُّنَّةُ فِي الصِّحَاحِ (2) وَغَيْرِهَا: أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَسْجُدُونَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَلَا يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ وَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا كُلَّمَا أَرَادَ السُّجُودَ (3) خَرَّ لِقَفَاهُ (4) .
      وَفِي الصَّحِيحَيْنِ فِي الرَّجُلِ الَّذِي يَكُونُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا أَنَّ اللَّهَ يَأْخُذُ عُهُودَهُ وَمَوَاثِيقَهُ أَلَّا يَسْأَلَ غَيْرَ مَا هُوَ فِيهِ، وَيَتَكَرَّرُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، مَا أَغْدَرَكَ! ثُمَّ يَأْذَنُ لَهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ (5) .
      وَأَمَّا قَوْلُهُ: “وَكَيْفَ يُكَلِّفُهُمْ (6) دُخُولَ النَّارَ، وَلَيْسَ ذَلِكَ فِي وُسْعِهِمْ؟ ” فَلَيْسَ هَذَا بِمَانِعٍ مِنْ صِحَّةِ الْحَدِيثِ، فَإِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ الْعِبَادَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْجَوَازِ عَلَى الصِّرَاطِ، وَهُوَ جِسْرٌ عَلَى جَهَنَّمَ أَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ وَأَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ، وَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ عَلَيْهِ بِحَسْبِ أَعْمَالِهِمْ، كَالْبَرْقِ، وَكَالرِّيحِ، وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ، وَمِنْهُمُ السَّاعِي وَمِنْهُمُ الْمَاشِي، وَمِنْهُمْ مَنْ يَحْبُو حَبْوًا، وَمِنْهُمُ الْمَكْدُوشُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ، وَلَيْسَ مَا وَرَدَ فِي أُولَئِكَ بِأَعْظَمَ مِنْ هَذَا بَلْ هَذَا أَطَمُّ وَأَعْظَمُ، وَأَيْضًا فَقَدْ ثَبَتَتِ السُّنَّةُ بِأَنَّ الدَّجَّالَ يَكُونُ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ، وَقَدْ أَمَرَ الشَّارِعُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يُدْرِكُونَهُ أَنْ يَشْرَبَ أَحَدُهُمْ مِنَ الَّذِي يَرَى أَنَّهُ نَارٌ، فَإِنَّهُ يَكُونُ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، فَهَذَا نَظِيرُ ذَلِكَ، وَأَيْضًا فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى [قَدْ] (7) أَمَرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَقْتُلُوا أَنْفُسَهُمْ، فَقَتَلَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى قَتَلُوا فِيمَا قِيلَ فِي غَدَاةٍ وَاحِدَةٍ سَبْعِينَ أَلْفًا، يَقْتُلُ الرَّجُلُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَهُمْ فِي عَمَايَةٍ غَمَامَةٍ أَرْسَلَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ، وَذَلِكَ عُقُوبَةٌ لَهُمْ عَلَى عِبَادَتِهِمُ الْعِجْلَ، وَهَذَا أَيْضًا شَاقٌّ عَلَى النُّفُوسِ جِدًّا لَا يَتَقَاصَرُ (8) عَمَّا ورد في الحديث المذكور، والله أعلم.
      __________
      (1) في ف، أ: “يتقوى”.
      (2) في ت: “والصحاح”.
      (3) في ف: “سجودا”.
      (4) رواه البخاري في صحيحه برقم (4919) من حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
      (5) صحيح البخاري برقم (806) وصحيح مسلم برقم (182) من حديث أبي هريرة، رضي الله عنه.
      (6) في ت، ف: “كلفهم الله”، وفي أ: “يكفهم الله النار”.
      (7) زيادة من ت، ف، أ.
      (8) في ف: “لا تتقاصر”.

      [Halaman 59]

      فَصْلٌ
      فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي وِلْدَانِ الْمُشْرِكِينَ عَلَى أَقْوَالٍ:
      أَحَدُهَا: أَنَّهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَاحْتَجُّوا بِحَدِيثِ سَمُرَة أَنَّهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ (1) رَأَى مَعَ إِبْرَاهِيمَ أَوْلَادَ الْمُسْلِمِينَ وَأَوْلَادَ الْمُشْرِكِينَ وَبِمَا تَقَدَّمَ فِي (2) رِوَايَةِ أَحْمَدَ عَنْ حَسْنَاءَ (3) عَنْ عَمِّهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “وَالْمَوْلُودُ فِي الْجَنَّةِ”. وَهَذَا اسْتِدْلَالٌ صَحِيحٌ، وَلَكِنْ أَحَادِيثُ الِامْتِحَانِ أَخَصُّ مِنْهُ. فَمَنْ عَلِمَ اللَّهُ [عَزَّ وَجَلَّ] (4) مِنْهُ أَنَّهُ يُطِيعُ جَعَلَ (5) رُوحَهُ فِي الْبَرْزَخِ مَعَ إِبْرَاهِيمَ وَأَوْلَادِ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ مَاتُوا عَلَى الْفِطْرَةِ، وَمَنْ عَلِمَ مِنْهُ أَنَّهُ لَا يُجِيبُ، فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ فِي النَّارِ كَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ أَحَادِيثُ الِامْتِحَانِ، وَنَقَلَهُ الْأَشْعَرِيُّ عَنْ أَهْلِ السُّنَّةِ [وَالْجَمَاعَةِ] (6) ثُمَّ مِنْ هَؤُلَاءِ الْقَائِلِينَ بِأَنَّهُمْ فِي الْجَنَّةِ مَنْ يَجْعَلُهُمْ مُسْتَقِلِّينَ فِيهَا، وَمِنْهُمْ مَنْ يَجْعَلُهُمْ خَدَمًا لَهُمْ، كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ الطَّيَالِسِيِّ (7) وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
      الْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُمْ مَعَ آبَائِهِمْ فِي النَّارِ، وَاسْتَدَلَّ عَلَيْهِ بِمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ ضَمْرَةَ (8) بْنِ حَبِيبٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبَى قَيْسٍ مَوْلَى غُطَيْف، أَنَّهُ أَتَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَرَارِيِّ الْكُفَّارِ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هُمْ تَبَعٌ لِآبَائِهِمْ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِلَا عَمَلٍ؟ فَقَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ” (9) .
      وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الْأَلْهَانِيِّ، سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي قَيْسٍ سَمِعْتُ، عَائِشَةَ تَقُولُ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَرَارِيِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ (10) : “هُمْ مِنْ آبَائِهِمْ”. قُلْتُ: فَذَرَارِيُّ الْمُشْرِكِينَ؟ قَالَ: “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ” قُلْتُ: بِلَا عَمَلٍ؟ قَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ” (11) .
      وَرَوَاهُ [الْإِمَامُ] (12) أَحْمَدُ أَيْضًا، عَنْ وَكِيعٍ، عَنْ أَبِي عَقِيل يَحْيَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ -وَهُوَ مَتْرُوكٌ-عَنْ مَوْلَاتِهِ بُهَيَّة عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّهَا ذَكَرْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْفَالَ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: “إِنْ شِئْتِ أَسْمَعْتُكِ تَضَاغِيَهُمْ فِي النَّارِ” (13) .
      وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلِ بْنِ (14) غَزْوَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ زَاذَانَ عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَأَلَتْ خَدِيجَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَلَدَيْنِ لَهَا مَاتَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: “هُمَا فِي النَّارِ”. قَالَ: فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهَا [قَالَ] (15) لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا”. قَالَتْ: فَوَلَدِي مِنْكَ؟ قَالَ: [قَالَ: “فِي الْجَنَّةِ”. قَالَ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ الله
      __________
      (1) في ف، أ: “صلى الله عليه وسلم”.
      (2) في ت، ف: “من”.
      (3) في ت، ف، أ: “خنساء”.
      (4) زيادة من ف، أ.
      (5) في ت، ف، أ: “جعل الله”.
      (6) زيادة من ف، أ.
      (7) سبق الحديث والكلام عليه عند هذه الآية.
      (8) في ف: “حمزة”.
      (9) المسند (6/84) .
      (10) في ف، أ: “فقال”.
      (11) سنن أبي داود برقم (4712) .
      (12) زيادة من ف، أ.
      (13) المسند (6/208) .
      (14) في ت: “عن”.
      (15) زيادة من ف، أ، والمسند.

      KESIMPULANNYA ADALAH :
      —————————————–

      Dari berbagai macam hadits di atas disebutkan bahwa pendapat para ulama berdasarkan hadits yang lebih kuat adalah orang-orang yang hidup pada masa fatrah (ahlul fatrah) mereka selamat selagi tidak berbuat kejahatan dan akan dites kelak di hari kiamat ketaatan mereka dengan api neraka.

      ___________________________________________________

      3. di kalangan ahlu fatrah juga tidak dimutlakan tidak masuk neraka, salah satu buktinya adalah ‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’iy. Orang ini hidup di masa fatrah, namun ia mengubah ajaran Nabi Ibraahiim bagi bangsa ‘Arab sehingga mereka menyembah berhala. Dan telah dijelaskan bahwa ‘Amru disiksa di neraka (Bukhariy No 3521). Bagaimana dengan yang mengikuti ajarannya mas?

      jawab:

      Sudah dijelaskan di atas, orang-orang yang hidup pada masa fatrah (ahlul fatrah) mereka selamat selagi tidak berbuat kejahatan. Sedangkan ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay dan seterusnya itu jelas2 berbuat kejahatan dengan mengubah ajaran Ibrahim.

      ___________________________________________________

      4. yang terakhir mas, adakah ulama2 lain selain imam suyuthiy yang lebih menguatkan dalil bahwa ibunda dan ayah Rasulullah di neraka?

      jawab:

      Banyak, lihat artikel yang sudah saya edit di atas..

      Wallahu A’lam.

  7. Terima kasih mas jawaban dan tambahan di artikelnya, semakin banyak faedah yang sy dapatkan..
    tanggapan pertanyaan saya:
    nomor 1: terkait dengan rangkaian perawi ini saya pernah baca di artikel yang menguatkannya mas. Mungkin mas apriansyah bisa cek dan klarifikasi kebenarannya karena saya tidak punya kitabnya: Affan-Hammad bin Salamah-Tsabit

    a. Ibnu Rajab rahimahumullah berkata :
    قال عبد الله بن أحمد : سمعتُ يحيى بن معين يقول : من أراد أن يكتب حديث حماد بن سلمة، فعليه بعفان بن مسلم
    “Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad : Aku mendengar Yahyaa bin Ma’iin berkata : ‘Barangsiapa yang ingin menulis hadits Hammaad, maka wajib baginya berpegang pada ‘Affaan bin Muslim” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 2/707].
    Artinya, menurut Ibnu Ma’iin, ‘Affaan bin Muslim termasuk orang yang kokoh dan diterima periwayatannya dari Hammaad. Faedahnya, ‘Affaan mendengarkan hadits Hammaad bin Salamah sebelum berubah hapalannya. ‘Affaan bin Muslim sendiri adalah seorang yang tsiqah lagi tsabat, hanya kadang ia keliru/ragu [Taqriibut-Tahdziib, hal. 681-682 no. 4659].
    b. Ahmad bin Hanbal menegaskan riwayat Hammaad dari Tsaabit ini lebih kuat daripada Ma’mar :
    حماد بن سلمة أثبت في ثابت من معمر
    “Hammaad bin Salamah lebih tsabt (kokoh) dalam hadits Tsaabit daripada Ma’mar” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/141; dan Tahdziibul-Kamaal, 7/259].
    c. Ibnu Ma’iin berkata :
    من خالف حماد بن سلمة في ثابت فالقول قول حماد، قيل : فسليمان بن المغيرة عن ثابت ؟. قال : سليمان ثبت، وحماد أعلم الناس بثابت
    “Barangsiapa menyelisihi Hammaad dalam periwayatan dari Tsaabit, maka perkataan yang dipegang adalah perkataan Hammaad”. Dikatakan : “Riwayat Sulaimaan bin Al-Mughiirah dari Tsaabit ?”. Ibnu Ma’iin berkata : “Sulaimaan itu tsabt (kokoh), namun Hammaad orang yang paling mengetahui tentang riwayat Tsaabit” [Tahdziibul-Kamaal, 7/262].
    Abu Haatim berkata :
    حماد بن سلمة في ثابت، وعلي بن زيد أحب إليَّ من همام، وهو أضبط الناس وأعلمهم بحديثهما
    “Hammaad bin Salamah dalam riwayat Tsaabit dan ‘Aliy bin Zaid, lebih aku sukai daripada Hammaam. Dan ia (Hammaad) adalah orang yang paling dlabth (akurat) dan yang paling mengetahui tentang hadits keduanya” [idem, 7/264].
    d. Ibnu Hajar berkata tentangnya : “Tsiqah, lagi ‘aabid, orang yang paling tsabt dalam periwayatan hadits Tsaabit (Al-Bunaaniy). Berubah hapalannya di akhir usianya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 268-269 no. 1507].

    NB: saya hanya mengutip di artikel mas, karena keterbatasan saya. Lengkapnya disini

    nomor 2: memang benar mas saya hanya mengambil sepotong penjelasan ibnu katsir (yang sy anggap sebagai inti) tanpa menguatkan salah satu pendapat karena (mungkin karena kelemahan sy dalam mendalami) sy tidk menemukan mana pendapat yang lebih dikuatkan oleh ibnu katsir.
    nomor 4: mungkin mas apriansyah keliru memahami pertanyaan saya karena saya tidak menemukan jawaban di artikel yang baru (atau mungkin saya kurang detail membaca). Maksud pertanyaan saya adakah ulama yang menyelisihi pendapat imam suyuthiy, karena saya pernah membaca banyak ulama yang lebih menguatkan pendapat bahwa orang tua Rasulullah di neraka. Misalnya:
    – imam Nawawi dan imam Baihaqi ketika mensyarah hadits Muslim di atas.
    – imam Ibnul Jauzi
    – imam Abu Hanifah
    – imam At- Thabari dalam tafsirnya.

  8. Terima kasih mas jawaban dan tambahan di artikelnya, semakin banyak faedah yang sy dapatkan..
    tanggapan pertanyaan saya:

    nomor 1: terkait dengan rangkaian perawi ini saya pernah baca di artikel yang menguatkannya mas. Mungkin mas apriansyah bisa cek dan klarifikasi kebenarannya karena saya tidak punya kitabnya: Affan-Hammad bin Salamah-Tsabit

    a. Ibnu Rajab rahimahumullah berkata :
    قال عبد الله بن أحمد : سمعتُ يحيى بن معين يقول : من أراد أن يكتب حديث حماد بن سلمة، فعليه بعفان بن مسلم
    “Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad : Aku mendengar Yahyaa bin Ma’iin berkata : ‘Barangsiapa yang ingin menulis hadits Hammaad, maka wajib baginya berpegang pada ‘Affaan bin Muslim”
    [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 2/707].

    Artinya, menurut Ibnu Ma’iin, ‘Affaan bin Muslim termasuk orang yang kokoh dan diterima periwayatannya dari Hammaad. Faedahnya, ‘Affaan mendengarkan hadits Hammaad bin Salamah sebelum berubah hapalannya. ‘Affaan bin Muslim sendiri adalah seorang yang tsiqah lagi tsabat, hanya kadang ia keliru/ragu [Taqriibut-Tahdziib, hal. 681-682 no. 4659].

    JAWAB:

    Benar, ini ada dalam kitab:

    Zain al-Diyn ‘Abd al-Rahmaan bin Ahmad bin Rojab bin al-Hasan al-Hanbaliy, Syarh ‘Ilal al-Turmudziy (Tahqiq: Dr. Hammaam ‘Abd al-Rahmaan Sa’iyd), Jordan: Maktabah al-Manar, cet. -, 1407 H/1987 M, vol. II, h. 707.

    PERTANYAANNYA:
    —————————–

    Mengapa untuk menjadikan hujjah riwayat Hammad bin Salamah wajib berpegang kepada Hammad bin Salamah?

    Ini sama ketika ada dua orang A dan B, kemudian jika ingin mendapatkan berita dari si B maka wajib berpegang kepada si A.

    Bukankah berarti ada “sesuatu” pada si B sehingga wajib berpegang kepada perkataan si A?!

    TERNYATA JAWABNYA adalah, Hammad bin Salamah terkena penyakit Pikun dan sering salah meriwayatkan hadits yang munkar, gharib sehingga riwayatnya ditolak oleh Imam Bukhori si penghulu Rawi hadits, Imam Muslim pun menerima Riwayat Hammad bin Salamah ini dengan catatan wajib diriwayatkan juga oleh ‘Affaan bin Muslim.

    Saya pribadi lebih mengikuti Imam Bukhari daripada Imam Muslim dalam menyikapi hadits Hammad bin Salamah.

    ______________________________________________________

    b. Ahmad bin Hanbal menegaskan riwayat Hammaad dari Tsaabit ini lebih kuat daripada Ma’mar :
    حماد بن سلمة أثبت في ثابت من معمر
    “Hammaad bin Salamah lebih tsabt (kokoh) dalam hadits Tsaabit daripada Ma’mar” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/141; dan Tahdziibul-Kamaal, 7/259].

    jawab:

    saya tidak punya kitabnya, jadi tidak bisa komentar.

    ______________________________________________________

    c. Ibnu Ma’iin berkata :
    من خالف حماد بن سلمة في ثابت فالقول قول حماد، قيل : فسليمان بن المغيرة عن ثابت ؟. قال : سليمان ثبت، وحماد أعلم الناس بثابت
    “Barangsiapa menyelisihi Hammaad dalam periwayatan dari Tsaabit, maka perkataan yang dipegang adalah perkataan Hammaad”. Dikatakan : “Riwayat Sulaimaan bin Al-Mughiirah dari Tsaabit ?”. Ibnu Ma’iin berkata : “Sulaimaan itu tsabt (kokoh), namun Hammaad orang yang paling mengetahui tentang riwayat Tsaabit” [Tahdziibul-Kamaal, 7/262].

    Abu Haatim berkata :
    حماد بن سلمة في ثابت، وعلي بن زيد أحب إليَّ من همام، وهو أضبط الناس وأعلمهم بحديثهما
    “Hammaad bin Salamah dalam riwayat Tsaabit dan ‘Aliy bin Zaid, lebih aku sukai daripada Hammaam. Dan ia (Hammaad) adalah orang yang paling dlabth (akurat) dan yang paling mengetahui tentang hadits keduanya” [idem, 7/264].

    d. Ibnu Hajar berkata tentangnya : “Tsiqah, lagi ‘aabid, orang yang paling tsabt dalam periwayatan hadits Tsaabit (Al-Bunaaniy). Berubah hapalannya di akhir usianya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 268-269 no. 1507].

    jawab:

    Saya tidak punya kitabnya, jadi tidak bisa komentar. Tapi dari kitab selain yang anda sebutkan memang saya pernah membacanya tentang hal itu.

    Namun pada umumnya dari kitab-kitab hadits yang sudah saya baca disebutkan bahwa Hammad bin Salamah pada dasarnya adalah Dhabth, Tsiqah akan tetapi menjelang masa tuanya terkena penyakit pikun sehingga banyak meriwayatkan hadits yang Munkar, Gharib dan Dha’if sehingga riwayat beliau ditolak oleh Penghulu Rawi Hadits Imam Bukhari. Dan pendapat inilah yang Mu’tamad.

    ______________________________________________________

    NB: saya hanya mengutip di artikel mas, karena keterbatasan saya. Lengkapnya disini

    jawab:

    sudah saya baca.

    ______________________________________________________

    nomor 2: memang benar mas saya hanya mengambil sepotong penjelasan ibnu katsir (yang sy anggap sebagai inti) tanpa menguatkan salah satu pendapat karena (mungkin karena kelemahan sy dalam mendalami) sy tidk menemukan mana pendapat yang lebih dikuatkan oleh ibnu katsir.

    jawab:

    baca lagi yang seksama anda akan menemukannya.

    ______________________________________________________

    nomor 4: mungkin mas apriansyah keliru memahami pertanyaan saya karena saya tidak menemukan jawaban di artikel yang baru (atau mungkin saya kurang detail membaca). Maksud pertanyaan saya adakah ulama yang menyelisihi pendapat imam suyuthiy, karena saya pernah membaca banyak ulama yang lebih menguatkan pendapat bahwa orang tua Rasulullah di neraka. Misalnya:
    – imam Nawawi dan imam Baihaqi ketika mensyarah hadits Muslim di atas.
    – imam Ibnul Jauzi
    – imam Abu Hanifah
    – imam At- Thabari dalam tafsirnya.

    jawab:

    Benar, akan tetapi jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan sebaliknya.

    Wallahu A’lam bi al-Shawab

  9. kalau boleh tolong sebutkan di kitab qudama’ yang mana yang menyebutkan bahwa jumhur Ahlussunnah mengatakan sebaliknya

  10. Saya setuju sekali sama Apriansyah Bintang, kalau orangtua Rasulullah masuk surga. Masa ada kututurannya yang mulia (Rasulullah Saw.) diturunkan orang yang tidak mulia (kafir), ini mustahil.Tidak usah memakai dalil, tapi makai logika saja.

    • diatas sudah dijelaskan Bapaknya nabi Ibrahim pun divonis kafir tp keturunanya sebagai org mulia, jd mulianya seseorang bukan karena keturunanya tp karena hidayah

      • Bapaknya Ibrahim jelas ada di alQur’an kekafirannya, dan para ‘Ulama tidak berbeda pendapat.

        Namun kekafiran orangtua Rasulullah tidak ada dalil sharih dan para ‘Ulama berbeda pendapat. Jumhur ‘Ulama berpendapat bahwa orangtua Rasulullah adalah hanif sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas.

  11. masalah ortu nabi keneraka belakangan opininya semakin gencar dan diperkuat oleh kafirin kafirun

  12. Saya tdk suka dengan saudara2 kita yg mengambil kondisi politik di jakarta dengan mengkaitkan akidah orangtua rasul yang menurut mereka termasuk orang kafir…smg artikel ini bermanfaat untuk mereka lebih bijak dalam beropini

  13. Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat cerai yang membubarkan rumah tangganya.

    Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.Tentu saja, permasalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.

    Semoga jgn ada amarah dlm hati kita semua manusia ingat. Hanya Allah yg sempurna, berbeda itu wajar banget, dan ingat pula hanya orang yg sombong tdk mau mengakui kebenaran.

    Jikalau Ortu Muhammad Shallaullahu Alaihi Wassalam masuk neraka, kita ambil hikmahnya betapa hebatx iman beliau masih mau berda’wah. Dan jikalau tdk masuk neraka dan masuk surga itulah Allah yg punya kekuasaan dan Ada Rahasia di balik rahasia. Kita cukup beriman dgn benar dan tulus.

    Terkadang ilmu haruslah d bentengi dgn iman.

  14. وَمَنْ بَطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
    “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemuliaan nasabnya tidak bisa mempercepatnya” [HR. Muslim – Arba’un Nawawiyyah no. 36].

  15. Definisi fatrah menurut bahasa kelemahan dan penurunan [Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43]. Adapun secara istilah, maka fatrah bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” [Jam’ul-Jawaami’ 1/63]. Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas-salaam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis-salaam dan Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam. Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :
    يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ
    Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan” [QS. Al-Maaidah : 19].
    Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :
    a. Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.
    b. Yang tidak sampai kepadanya ajaran/dakwah Nabi dan dia dalam keadaan lalai.
    Golongan pertama di atas dibagi menjadi dua, yaitu : Pertama, Yang sampai kepadanya dakwah dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam/ahlul-iman. Contohnya adalah Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya. Kedua, Yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam/ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya adalah ’Amr bin Luhay[3], Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, Abu Thalib, dan yang lainnya.
    Golongan kedua, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.
    Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dimaafkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

    • Saya sudah membaca Lisanul ‘Arab dan tidak ada penjelasan seperti yang anda tuliskan, biasakan langsung mengutip sumber aslinya bukan terjemah.

      Ini saya sudah membaca langsung Di Bab Fa’ :

      Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshoriy Muhammad bin Mukrim bin ‘Aliy, Lisanul ‘Arab, Beirut: Daar el-Shodir, 1414 H, cet. III, vol. V, h. 43-44.

      Ini kontennya :

      Halaman 43

      المعصرة ثم دفنها في الشعير حتى يستحيل الدم الجامد مسكا ذكيا بعد ما كان دما لا يرام نتنا، قال: ولولا أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قد تطيب بالمسك ما تطيبت به. قال: ويقع اسم الفأر على فأرة التيس وفأرة البيت وفأرة المسك وفأرة الإبل؛ قال: وفأرة الإبل أن تفوح منها رائحة طيبة، وذلك إذا رعت العشب وزهره ثم شربت وصدرت عن الماء نديت جلودها ففاحت منها رائحة طيبة، فيقال لتلك فأرة الإبل؛ عن يعقوب؛ قال الراعي يصف إبلا:
      لها فأرة ذفراء كل عشية، … كما فتق الكافور بالمسك فاتقه
      وعقيل تهمز الفأرة والجؤنة والمؤسى والحؤت. ومكان فئر: كثير الفأر. وأرض مفأرة: ذات فأر. والفأرة والفؤرة، تهمز ولا تهمز: ريح تكون في رسغ البعير، وفي المحكم: في رسغ الدابة تنفش إذا مسحت، وتجتمع إذا تركت. والفئرة والفؤارة، كلاهما: حلبة وتمر يطبخ وتسقاه النفساء؛ التهذيب: والفئرة حلبة تطبخ حتى إذا قارب فورانها ألقيت في معصر فصفيت ثم يلقى عليها تمر ثم تتحساها المرأة النفساء؛ قال أبو منصور: هي الفئرة والفئيرة والفريقة. والفأر: ضرب من الشجر، يهمز ولا يهمز. ابن الأثير في هذه الترجمة: وفي الحديث ذكر فاران، هو اسم عبراني لجبال مكة، شرفها الله، له ذكر في أعلام النبوة، قال: وألفه الأولى ليست همزة.
      فتر: الفترة: الانكسار والضعف. وفتر الشيء والحر وفلان يفتر ويفتر فتورا وفتارا: سكن بعد حدة ولان بعد شدة؛ وفتره الله تفتيرا وفتر هو؛ قال ساعدة بن جؤية الهذلي:
      أخيل برقا متى حاب له زجل، … إذا يفتر من توماضه حلجا
      يريد من سحاب «1» حاب. والزجل: صوت الرعد؛ وقول ابن مقبل يصف غيثا:
      تأمل خليلي، هل ترى ضوء بارق … يمان، مرته ريح نجد ففترا؟
      قال حماد الرواية: فتر أي أقام وسكن. وقال الأصمعي: فتر مطر وفرغ ماؤه وكف وتحير. والفتر: الضعف. وفتر جسمه يفتر فتورا: لانت مفاصله وضعف. ويقال: أجد في نفسي فترة، وهي كالضعفة. ويقال للشيخ: قد علته كبرة وعرته فترة. وأفتره الداء: أضعفه، وكذلك أفتره السكر. والفتار: ابتداء النشوة؛ عن أبي حنيفة، وأنشد للأخطل:
      وتجردت بعد الهدير، وصرحت … صهباء، ترمي شربها بفتار
      وفي الحديث:
      أنه، صلى الله عليه وسلم، نهى عن كل مسكر ومفتر
      ؛ فالمسكر الذي يزيل العقل إذا شرب، والمفتر الذي يفتر الجسد إذا شرب أي يحمي الجسد ويصير فيه فتورا؛ فإما أن يكون أفتره بمعنى فتره أي جعله فاترا، وإما أن يكون أفتر الشراب إذا فتر شاربه كأقطف إذا قطفت دابته. وماء فاتر: بين الحار والبارد. وفتر الماء: سكن حره. وماء فاتور: فاتر. وطرف فاتر: فيه
      __________
      (1). قوله [يريد من سحاب] أي فمتى بمعنى من، ويحتمل أن تكون بمعنى وسط، أو بمعنى في كما ذكره في مادة ح ل ج وقال هناك ويروى خلجا

      Halaman 44 :

      فتور وسجو ليس بحاد النظر. ابن الأعرابي: أفتر الرجل، فهو مفتر إذا ضعفت جفونه فانكسر طرفه. الجوهري: طرف فاتر إذا لم يكن حديدا. والفتر: ما بين طرف الإبهام وطرف المشيرة. وقيل: ما بين الإبهام والسبابة. الجوهري: الفتر ما بين طرف السبابة والإبهام إذا فتحتهما. وفتر الشيء: قدره وكاله بفتره، كشبره: كاله بشبره. والفترة: ما بين كل نبيين، وفي الصحاح: ما بين كل رسولين من رسل الله، عز وجل، من الزمان الذي انقطعت فيه الرسالة. وفي الحديث:
      فترة ما بين عيسى ومحمد، عليهما الصلاة والسلام.
      وفي حديث
      ابن مسعود، رضي الله عنه: أنه مرض فبكى فقال: إنما أبكي لأنه أصابني على حال فترة ولم يصبني على حال اجتهاد
      أي في حال سكون وتقليل من العبادات والمجاهدات. وفتر وفتر: اسم امرأة؛ قال المسيب بن علس ويروى للأعشى:
      أصرمت حبل الوصل من فتر، … وهجرتها ولجحت في الهجر
      وسمعت حلفتها التي حلفت، … إن كان سمعك غير ذي وقر
      قال ابن بري: المشهور عند الرواة من فتر، بفتح الفاء، وذكر بعضهم أنها قد تكسر ولكن الأشهر فيها الفتح. وصرمت: قطعت. والحبل: الوصل. والوقر: الثقل في الأذن. يقال منه: وقرت أذنه توقر وقرا ووقرت توقر أيضا، وجواب إن الشرطية أغنى عنه ما تقدم تقديره: إن لم يكن بك صمم فقد سمعت حلفتها. أبو زيد: الفتر النبية، وهو الذي يعمل من خوص ينخل عليه الدقيق كالسفرة.
      فتكر: لقيت منه الفتكرين والفتكرين، بكسر الفاء وضمها والتاء مفتوحة والنون للجمع، أي الدواهي والشدائد، وقيل: هي الأمر العجب العظيم كأن واحد الفتكرين فتكر، ولم ينطق به إلا أنه مقدر كان سبيله أن يكون الواحد فتكرة، بالتأنيث، كما قالوا: داهية ومنكرة، فلما لم تظهر الهاء في الواحد جعلوا جمعه بالواو والنون عوضا من الهاء المقدرة، وجرى ذلك مجرى أرض وأرضين، وإنما لم يستعملوا في هذه الأسماء الإفراد فيقولوا: فتكر وبرح وأقور، واقتصروا فيه على الجمع دون الإفراد، من حيث كانوا يصفون الدواهي بالكثرة والعموم والاشتمال والغلبة.
      فثر: الفاثور، عند العامة: الطست أو الخوان يتخذ من رخام أو فضة أو ذهب؛ قال الأغلب العجلي:
      إذا انجلى فاثور عين الشمس
      وقال أبو حاتم في الخوان الذي يتخذ من الفضة:
      ونحرا كفاثور اللجين، يزينه … توقد ياقوت، وشذرا منظما
      ومثله لمعن بن أوس:
      ونحرا، كفاثور اللجين، وناهدا … وبطنا كغمد السيف، لم يدر ما الحملا
      ويروى: لم يعرف الحملا. وفي حديث أشراط الساعة:
      وتكون الأرض كفاثور الفضة
      ؛ قال: الفاثور الخوان، وقيل: طست أو جام من فضة أو ذهب؛ ومنه قولهم لقرص الشمس فاثورها؛ وفي حديث
      علي، رضي الله عنه: كان بين يديه يوم عيد فاثور عليه خبز السمراء
      أي خوان، وقد يشبه

      Jadi mana kalimat yang anda kutipkan di atas? jangan asal tulis kalau tidak memahami Bahasa Arab dengan baik!

  16. Sombongnya dimana dan atas dasar apa anda mengatakan saya marah?

    pertanyaan yg cerdas, qu tak mengatakan siapapun sombong dan tak mengatakan pula mas sombong.

    dsni qu berdoa bukan mengatakan

    Semoga jgn ada amarah dlm hati kita semua manusia ingat. Hanya Allah yg sempurna, berbeda itu wajar banget, dan ingat pula hanya orang yg sombong tdk mau mengakui kebenaran.

    dan hanya orang yg sombong tdk mau mengakui kebenaran maksudnya tdk mengatakan mas sombong, kebenarannya disini masih hanya Allah yg tahu.

    Maaf, mas membuat mas salah faham, memang perlu ilmu memahami bahasa khususnya bahasa tulisan, karena banyak kesalahfahaman yg akan timbul, karenannya lbh baik kita tanyakan mana kata yg mungkin kita anggap rancu seperti mas telah lakukan, drpd berprasangka. Subhanallah.

    Jadi mana kalimat yang anda kutipkan di atas? jangan asal tulis kalau tidak memahami Bahasa Arab dengan baik!

    makasih nasihatnya , qu berharap ini perkataan nasihat bukan sebaliknya.

    sekali lg maaf, dan qu mencoba menyambung,
    tali silaturahmi yang semoga membawa berkah-Nya aamiin,
    sebelumnya mohon maaf banget , karena qu hanyalah manusia biasa tanpa-Nya dan setilan hidayah-Nya apalah qu,
    #IndahnyaMembangunTaliSilaturahmi😉

    • Saya terima sambungan tali silaturahimnya, tapi sebaiknya fokus saja jangan kemana2.

      Jika anda mau membantah argumentasi yang saya bangun silakan dengan senang hati saya menerima masukan dan kritikan tapi dengan argumentasi pula dan jangan lupa langsung dari sumber aslinya baik cetak maupun elektronik (pdf, dst).

      Terimakasih.

  17. tidak membantah ataupun apalah hanya memberikan tambahan – tambahan yang tujuannya mengurangi perdebatan2 dari para komentar mas, dan menjauhkan dri permusuhan tak berlandas.

    tapi sebaiknya fokus saja jangan kemana2. Semoga ini bukan kata2 yg bermaksud mengajak berdebat karena jujur qu kagak mau berdebat hanya ingin saudara seiman bersatu walau dalam perbedaan dgn ilmu dan iman, hanya itu. Jika mas masih blm terima atas kesalahfahaman bahasa, sekali lagi saya mohon maaf.

    Adapun penjelasan ahlul-fatrah di atas yg qu blm jawab, mengacu pada penjelasan Asy-Syaikh Masyhuur bin Hasan bin Salmaan hafidhahumullah saat memberikan taqdiim terhadap kitab Al-Adillatul-Mu’taqad Abu Haniifah Al-A’dham fii Abawai Ar-Rasuul hal. 8-12. Juga kitab Al-Aayaat wal-Ahaadiits wal-Aatsaar Al-Waaridah fii Ahlil-Fatrah karya Marwan Al-Hamdaan (tesis S2) mulai hal. 3 dst.

    dan referensi dari Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :
    قال النبي صلى الله عليه وسلم رأيت عمرو بن عامر بن لحي الخزاعي يجر قصبه في النار وكان أول من سيب السوائب
    Telah berkata Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)” [HR. Bukhari no. 3333 – tartib maktabah sahab, Muslim no. 2856].
    Nisbah Al-Khuzaa’i merupakan nisbah kepada sebuah suku besar Arab, yaitu Bani Khuza’ah. Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :
    عمرو هذا هو ابن لحي بن قمعة, أحد رؤساء خزاعة الذين ولوا البيت بعد جرهم وكان أول من غير دين إبراهيم الخليل, فأدخل الأصنام إلى الحجاز, ودعا الرعاع من الناس إلى عبادتها والتقرب بها, وشرع لهم هذه الشرائع الجاهلية في الأنعام وغيرها
    “‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasaan atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkenaan dengan binatang ternak dan lain-lain……” [lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103].

    sekali lagi qu tak bermaksud membantah, justru mohon koreksi2 dari mas. Dan buat yg sblm saya komen, ayoo sama2 saling koreksi insyaAllah ada ilmu yg kita dapat walaupun mungkin masih berbeda pemikiran.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: