Hukum Membaca/Menyimak Bacaan dengan Mushaf ketika Shalat


BAB I

PENDAHULUAN

 

Segala puji syukur hanya bagi Allah swt dan Shalawat dan Salam hanya bagi Rasulullah saw, para keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Bermula dari sebuah status yang penulis posting di facebook:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10200624445881026&set=a.1154097860067.2024035.1456305047&type=1&ref=notif&notif_t=like&theater

yang isinya sebagai berikut:

Yang ngerasa wangabi dan siapapun yang hobi ngebid’ah bid’ahin orang lain, ini tarawih pake alQur’an di Android Bidengah gak ya..??!!

Suka ·  · Berhenti Mengikuti Kiriman · Bagikan · Sunting · Promosikan · 4 Agustus

  • Hanif M. Saleh Maksudnya gimana ne mas??? Emang g’boleh ya baca quran sambil sholat??
    4 Agustus pukul 22:53 melalui seluler · Suka · 1
  • Abu Kharis Jangan kebencianmu pada sesuatu membuat buta hatimu…..
    KAlau serius, kritik artikel ini dengan ilmu. Kami siap menyimak, barangkali kebenaran ada di dirimu. Kami siap memihak kebenaran. Ini sikap kami yang selalu digelari wahabi meskipun kami tak mengerti alasan apa kami dibenci sampai mati.

    ==============

    Pertanyaan:

    Apakah boleh membaca Al-Quran melalui komputer ketika shalat Taraweh?

    Jawaban:

    Alhamdulillah

    Membaca Al-Quran melalui komputer dalam sholat hukumnya sama dengan hukum membaca Al-Quran melalui mushaf. Ini adalah masalah yang sudah dikenal. Di dalamnya terdapat perbedaan pendapat para ulama. Kalangan mazhab Syafi’I dan Hambali membolehkannya, sedangkan Abu Hanifah menyatakan batal shalat dengan membaca lewat mushaf.

    Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 33/57-58:

    “Kalangan mazhab Syafi’I dan Hambali berpendapat dibolehkannya membaca Al-Quran melalui mushaf ketika shalat. Imam Ahmad berkata, ‘Tidak mengapa mengimami shalat dalam shalat malam dengan cara melihat mushaf,’ Lalu ada yang bertanya, ‘Bagaimana dalam shalat fardhu?’ Beliau berkata, ‘Aku belum pernah mendengar sedikit pun masalah ini.’ Az-Zuhri ditanya tentang seseorang yang shalat di bulan Ramadan dengan cara membaca Al-Quran melalui mushaf, maka dia berkata, ‘Dahulu pendapat pilihan kami adalah mereka boleh membaca melalui mushaf. Dalam Syarah Raudhut-Thalib, karangan Syekh Zakaria Al-Anshari, dinyatakan, ‘Jika dia membaca Al-Quran melalui mushaf walaupun kadang-kadang harus membalik lembaran-lembarannya, hal itu tidak membatalkan shalat, karena perbuatan itu dianggap ringan atau tidak bersifat terus menerus tidak mengesankan lengah. Perbuatan sedikit yang apabila dilakukan dengan sering akan berakibat batal, jika dilakukan tanpa kebutuhan, maka dia dianggap makruh.

    Sedangkan Abu Hanifa berpendapat bahwa orang yang shalat dengan membaca Al-Quran lewat mushaf, batal shalatnya, baik sedikit maupun banyak, imam atau shalat sendiri, tidak dapat membaca kecuali dengannya atau tidak. Mereka menyebutkan bahwa Abu Hanifat memiliki alasan tentang batalnya shalat karena perbuatan tersebut;

    Pertama, Membawa mushaf dan melihatnya serta membolak balik halaman mengakibatkan gerakan yang banyak.

    Kedua, orang tersebut seakan-akan sedang dituntun oleh mushaf, maka hal itu sebagaimana dia dituntun oleh selainnya. Bagi golongan kedua, tidak ada bedanya antara konten dan benda yang dibawa, sedangkan bagi kelompok pertama, hal tersebut berbeda.

    Dikecualikan dari itu jika orang tersebut hafal terhadap apa yang dia baca tanpa harus membawanya. Maka hal tersebut tidak membatalkan shalatnya. Karena bacaan itu disandingkan dengan hafalannya, bukan dari tuntunan mushaf. Sekedar melihat tanpa membawa tidak membatalkan. Kedua murid Abu Hanifah; Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa membaca Al-Quran lewat mushaf, hukumnya makruh, jika tujuannya adalah menyerupai Ahlul Kitab.”

    Pendapat boleh difatwakan oleh Ulama yang tergabung dalam Lajnah Da’imah Lil Ifta, Syekh Utsaimin, Syekh Abdullah bin Jibrin. Lihat jabawan DISINI

    Tidak diragukan lagi bahwa yang lebih utama menjadi imam adalah orang yang hafal Al-Quran dan dibaca di luar kepala.

    Syekh Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hafizahullah ditanya apakah membaca melalui mushaf lebih utama daripada membaca di luar kepala? Mohon penjelasan.

    Beliau menjawab,

    “Jika membaca Al-Quran di luar shalat, maka membaca Al-Quran melalui mushaf lebih utama, karena lebih tepat dan lebih terjaga, kecuali jika dia membaca di luar kepala lebih mantap dan khusyu di hatinya, maka bacalah di luar kepala. Sedangkan dalam shalat, maka lebih utama membacanya di luar kepala. Karena jika dia membaca melalui mushaf akan banyak gerakan yang diulang untuk membawa mushaf, meletakkannya, membalik-balik lembarannya, melihat ke huruf-hurufnya. Demikian pula dia kehilangan kesempatan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada saat berdiri. Kadang dia juga tidak dapat merenggangkan tangan saat ruku dan sujud, jika meletakkan mushaf di ketiaknya. Karena itu, kami menguatkan pendapat bahwa orang yang shalat lebih utama baginya membaca Al-Quran di luar kepala daripada melalui mushaf.

    (Al-Muntaqa Min Fatawa Al-Fauzan, 2/35, Soal Jawab, no. 16)

    Di antara dampak negatif membaca melalui mushaf atau komputer atau hp dalam shalat adalah bahwa hal tersebut membunuh semangat imam untuk menghafal Al-Quran dan menghapus dorongan dalam diri untuk menghafalnya. Jika tahu bahwa dia dapat melihat mushaf atau komputer atau hp, maka dia merasa tidak perlu lagi buang-buang waktu untuk menghafal Al-Quran dan tidak bersungguh-sungguh menjaga hafalannya. Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku untuk menghafal Al-Quran dan bacalah di luar kepala dalam shalat.

    Wallahua’lam.

    Sumber: www.islamqa.com
    Piblish: artikelassunnah.blogspot.com

  • Apriansyah Bintang Tolong maraji’ yang antum copas dari mbah google ditulis dong yang rinci (penulis, nama kitab, daerah pencetak: pencetak, tahun cetakan, cetakan ke berapa, volume berapa, dan halaman berapa) biar saya cari langsung di kitabnya.Dan tolong sebutkan Maraji’nya kitab ahlussunnah non Wangabi ya seperti karangan ‘Utsaimin, al-Albaniy, Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim. Maaf Kitab mereka tidak berlaku buat saya.

    Anda menukil dari kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah, ini belum lengkap nama kitabnya, dan pengarangnya siapa? asal anda tahu kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah itu banyak, ada Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Duror al-Tsaniyyah, ada Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah al-Muyassirah, ada Mausu’ah al-Fiqhiyyah yang lainnya. Yang mana bro? saya ada semuanya…!

    Itu dulu deh.. kalau sudah saya akan bantah tulisan anda satu persatu..

  • Ananto Y. Wicaksono Saudara kita ini berkata “kalau sudah saya akan bantah tulisan anda satu persatu..” hanya akan mendebat anda wahai Abu Kharis – meskipun seandainya perkataan anda adalah kebenaran -. tidak usah diladeni orang yg memperturutkan hawa nafsunya (kebencian). doakan saja… Allahu Musta’aan
  • Apriansyah Bintang Status di atas khusus para pembid’ah amalan umat Islam yang tidak sesuai dengan manhaj wangabi. Kalau anda tidak merasa membid’ahkan orang lain ya tidak usah komen. Simple toh?Berani COPAS BERANI TANGGUNG JAWAB DONG. Jangan kalau tidak bisa beragumentasi ujung2nya Allah al-Musta’an, tidak usah diladeni, ya mending tidak usah komen.

    Kebencian? maksud anda saya benci wahabi? Memang anda Tuhan bisa tahu isi hati saya?! saya cuma kasihan, makanya saya “sentil” dengan picture ini mudah2an nyadar. Masih banyak picture yang lain kalau kurang…

    Silakan para pembid’ah lain komen.. kita sharing ilmu, maaf tidak terima kitab dari syaikh al-Ustadz Google…

  • Abu Kharis Manusia pembid’ah yang paling pantas dijadikan panutan adalah baginda nabi Muhammad. Apa yang salah dengan beliau dan pengekornya yang setia sampai kiamat. Semua bid’ah tetap aja bid’ah, tak mungkin berubah jadi sunnah, meskipun dibela oleh yg jenggotan sekalipun. Apalagi kalau yang membelanya nggak berjenggot sama sekali.Kebenaran adalah semua yang sesuai dengan nash Al-quran dan sunnah. Kebatilan adalah semua yang menyelisihinya. Kalau kaidahnya sudah jelas, maka kebenaran yg keluar dari mulut budak hitam legampun harus diterima dengan lapang dada. Sebaliknya, kebatilan harus ditolak meskipun keluar dari mulut yang wangi.

    Sudah tiba saatnya kita buang segala sak wa sangka. Dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Tunjukkan sikap yg paling baik yang kita miliki. Tidak jarang kebenaran tertutup oleh sikap kita yang kurang simpatik. Biarkan itu menjadi masa lalu.

    5 Agustus pukul 6:09 melalui seluler · Suka · 1
  • Hanif M. Saleh Wowowowow.., my bros sekalian, tahan emosi. Jangan dibawa panas.
    Al afu minkum ya sebelumnya ane bkan orang pinter agama, cuman tau aja klu beragama ada aturan mainya, g’bleh sembrangan.Asal muasal kan ni masalah tentang sohlat sambil baca mushaf pake quran android bid’ah apa bukan, gitukan???

    Abu Kharis udah menanggapi dengan pendapat para ulama yg melemahkan orangnyg sholat sambil baca alquran, baik mushaf atw elktonik.

    Setuju semua ya sampai disini.????

    Nah sekarang klu boleh tanya sma mas Apriansyah Bintang, tanggapan mas sendiri gimana tentang masalh diatas?? Sebenrnya setuju atw tidak?

    Monggo di coment dengan hikmah wal amuidzhotil hasanah

    Yang “kompor”nya lagi panas jangan dibawa2 ke sini ya, simpen di dapur aja buat siap2 buka

    5 Agustus pukul 7:17 melalui seluler · Suka · 1
  • Apriansyah Bintang He he he.. Bagi saya refferensi dari Syaikh Google Dot Com tidak ada artinya, apalagi dr Ngusaimin,ngalbani dkk..Kalau dikatakan manusia pembidah cuma Muhammad yg pantas dijadikan panutan skrg apa zaman nabi ada android? Jangankan Android mushaf alQuran aja zaman nabi gak ada dalam bentuk alQuran seperti sekarang (ini br satu kasus bro blm yg lain) Please deh.. Apalagi tolak ukur hak pembelaan adalah berjenggot atau tidak.. Makin ngawur aja..

    Udah cari dulu maraji’ non ngusaimin, ngalbani dkk.. Jgn dari Syaikh Google Dot Com ya…

  • Abu Kharis Kalau merujuk dari artikel di atas, sebenarnya sudah keliatan ada pro dan kontranya (antara boleh dan nggak boleh) dg alasan masing2. Namun tidak ada pemakaian istilah bid’ah. Karena para ulama paham betul tentang apa yg dimaksud dengan bid’ah.Nah, kalau yg pro kontra itu ulama, sikap kita tinggal pilih yg menurut kita lebih dekat dg kebenaran. Tidak ada yg tabu dalam berijtihad asal memenuhi syarat2nya. Dua pahala bagi yg benar, satu pahala untuk yg salah.

    Bagusnya mumpung belum jauh, samakan dulu persepsi kita apa itu bid’ah. Karena saya yakin semua kita pasti alergi dengan yg satu ini. Dikecualikan dalam hal ini adalah ahlul bid’ah. Itupun semata mata karena kejahilannya tentang sunnah.

    Terus terang saya pengagum Masyaikh yg ente benci. Mereka2 banyak menuntun saya memahami meskipun masih sangat sedikit tentang agama ini. Kalau ente punya lebih baik, jangan kaget kalau tiba2 saya ada di belakang ente. Sebabnya hanya satu, saya masih belajar dan sangat menghormati siapapun yg dapat menunjukkan kepada saya kebenaran. Meskipun itu Syaikh gugel.kokom.

    SAYA TUNGGU SETIAP KEBENARAN YANG ENTE TUNJUKKAN DARI KITAB2 ENTE. SAYA KAGAK PUNYA MESKIPUN HANYA SATU. ITULAH HAKIKATNYA SAYA.

    5 Agustus pukul 15:47 melalui seluler · Suka · 1
  • Hanif M. Saleh Mas Apriansyah Bintang, klu memang ada pendapat yang lebih kuat dibanding artikel diatas mohon jangan disimpan sendiri. kasian saya yg g’faham ini. Mohon di bagi ilmunya.Dan kenapa menurut mas pendapat shalih utsaimin, al bani dkk kurang bisa dipakai? Ada alasannya g’mas??

    Abu Kharis jadi menurut antum tidak ada pembahasan bid’ah dalam masalh diatas. Tergantung kitanya mana yg dirasa lebih benar, gitu ya? Slnya kan itu pendapat para ulama. Klu mau sholat sambil baca monggo, klu yg g’ ya silahkan. Betul begitu?

    5 Agustus pukul 16:22 melalui seluler · Suka · 2
  • Abu Kharis Hanif M. Saleh, wallahu a’lam. Merujuk kepada sabda Nabi, bid’ah itu adalah semua yg baru, tapi karena konteknya agama tentu bisa diphami tidak termasuk urusan duniawi (android dkk). Sehingga kalau merujuk ulasan di atas, sementara saya tidak berani menganggap masalah yg ada pada gambar di atas bagian dari bid’ah.Namun demikian kita tunggu saja pendapat ustadz Apriansyah Bintangyg barangkali bisa lebih cemerlang. SABAR SAJA AKHI

    5 Agustus pukul 16:48 melalui seluler · Suka · 1
  • Ananto Y. Wicaksono iya sepakat dengan akh hanif, ana juga ingin tau, sebenarnya memakai mushaf u/ membaca Qur’an ketika sholat itu boleh tidak? dan bagaimana bila mushafnya itu dalam bentuk digital *android? pertanyaan ini udah disampaikan oleh antum dari commen di urutan pertama namun belum dijawab beliau.dan mengapa pendapat ‘Utsaimin, al-Albaniy, Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim. tidak berlaku buat ustadz ?

  • Apriansyah Bintang Insya Allah habis lebaran sy akan jawab brikut dgn kitabnys. Sktg sy Fokus malam trakhir ramadhan.Satu lagi saya tidak membenci org2 tsb sy hanya kasian trhadap org yg mudah membid’ahkan amalan org lain.

  • Hanif M. Saleh Habis lebaran? Oke, mas Apriansyah Bintang Ingat lho, membiarkan orang lain dlam ke bodohan termasuk dzholim
  • Apriansyah Bintang Insya Allah pak ustadz…

maka muncullah pertanyaan, sanggahan dan kritikan. Maka dengan segala kekurangan penulis mencoba menjawab dan meluruskan “benang kusut” tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. DEFINISI MUSHAF

Mushaf (مُصْحَفٌ) secara etimologi adalah musytaq dari kata (أَصْحَفَ) yang bermakna membaca buku.[1] Adapun secara terminologi arti Mushaf adalah adalah lembaran-lembaran kertas atau kumpulan dari lembaran-lembaran kertas yang tergulung.[2]

B. DEFINISI SMARTPHONE

Smartphone atau ponsel pintar adalah ponsel yang dibangun di atas sistem operasi mobile, dengan kemampuan komputasi yang lebih maju dan konektivitas lebih dari fitur telepon biasa.[3]

C. HUKUM MEMBACA/MENYIMAK DENGAN MUSHAF KETIKA SHALAT

Membaca mushaf al-Qur’an dalam shalat ada dua pendapat dalam fiqih Islam. Yang pertama adalah melarang dan yang kedua menganjurkan.

Adapun pendapat yang mengatakan itu dilarang dan bahkan bisa membatalkan shalat adalah pendapat mazhab Hanafi[4] kecuali apabila dia tidak hafal surah al-Fatihah/surah pendek lalu membaca mushaf maka diperkenankan.[5] Argumentasi mereka hal tersebut makruh dan bisa membatalkan adalah karena menyerupai (tasybih) orang-orang Nasrani dalam berdoa yang menggunakan kitabnya.[6]

Sedangkan yang pendapat jumhur ‘ulama yang mengatakan membaca dan/atau menyimak dengan mushaf al-Qur’an ketika shalat itu diperkenankan adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah berikut ini:

أَنَّ عَائِشَةَ كَانَ يَؤُمُّهَا غُلاَمٌ لَهَا فِي الْمُصْحَفِ- وَكَانَ يُقَالُ لَهُ ذِكْوَانٌ- فِيْ رَمَضَانَ بِاللَّيْلِ

“Sesungguhnya ‘Aisyah ra diimami seorang budak (bernama Dzikwan) yang memegang mushaf ketika shalat malam pada bulan Ramadhan.[7]

Akan tetapi Imam Ahmad mensyaratkan boleh apabila shalat sunnah, namun jika shalat fardhu maka tidak boleh. Sedangkan imam Syafi’iy, imam Ahmad dan imam Ishaq membolehkan akan tetapi mempermasalahkan bagi perempuan apabila membaca mushaf dan ingin memperbaiki gerakan shalat Imam yang keliru dan kemungkinan kesulitan menepuk pundak tangannya karena sedang memegang mushaf.[8]

D. HUKUM MEMBACA/MENYIMAK DENGAN SMARTPHONE KETIKA SHALAT 

Apabila dianalogikan secara kasat mata tentu jelas dibolehkan apabila memakai program al-Qur’an pada smartphone untuk membaca atau menyimak bacaan di dalam Shalat. Akan tetapi penulis menambahkan syarat apabila dengan smartphone maka wajib dalam mode pesawat/plane mode dan tidak cukup dengan mematikan suara/mute dan mematikan getar/vibrate. Karena segala macam pesan timbul/push dan notifikasi pada smartphone akan muncul dan tentunya akan mengganggu konsentrasi ibadah shalat.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Lantas sumber masalah dari diskusi postingan penulis pada link di atas sebenarnya bukan pada boleh atau tidaknya membaca mushaf dengan smartphone ketika shalat, akan tepi lebih pada sindiran penulis kepada saudara-saudara semuslim wahabi dan/atau salafi dari Nejd yang dengan mudahnya membid’ahkan amalan para ‘ulama dengan alasan tidak ada sunnahnya/haditsnya atau perintah dari Rasulullah saw dengan mengungkapkan dalil “seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid’ah adalah kesesatan.” (HR Muslim no 2042)

Nah penulis menyindir mereka bahwa smartphone pun tidak ada zaman nabi lantas mengapa justru dari golongan merekalah yang menggunakan smartphone sebagai pengganti mushaf untuk membaca/menyimak al-Qur’an dalam shalat. Ini artinya ambivalensi kalau tidak mau disebut hipokrit! 

Adapun mengapa penulis tidak mau memakai refferensi dari Ibnu Taimiyyah dkk ini butuh pembahasan khusus, silakan baca saja buku yang sudah dengan susah payah discan ini dan diconvert dalam bentuk PDF, unduh disini.

 

BAB IV

PENUTUP

 

 Semua yang penulis sebutkan di atas hanyalah seperseribu dari ambivalensi kaum wahabi dan salafi, masih banyak contoh selain di atas, seperti masalah isbal, mencium tangan ‘ulama, ziarah kubur dan seterusnya yang mereka haramkan akan tetapi mereka lakukan. Mereka mudah melihat semut di negeri orang tapi sulit melihat gajah di hidungnya sendiri.

Semoga kita termasuk orang yang memahami fiqih sebelum seenaknya membid’ah-bid’ahkan orang lain. Allahumma Amin.

Kritik dan saran adalah cambuk bagi penulis al-Jahil al-Faqir agar menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

END NOTE: 


[1] ‘Abd al-Malik bin Muhammad bin Isma’il al-Manshur al-Tsa’alabiy, Fiqh al-Lughah wa al-Sirr al-‘Arobiyyah, Beirut: Ehya’ el-Turath el-‘Arobiy, 1422 H/2002 M, cet. I, vol. I, h. 215.

[2] ‘Aliy bin Sulthon Muhammad Abu al-Hasan Nur al-Diyn al-Mala al-Harwiy al-Qoriy, Jam’ al-Wasa’il fiy Syarh al-Syama’il, Egypt: Mathba’ah al-Syarofiyyah, t.t., vol. II, h. 204.

[4] Abu Ma’aliy Burhan al-Diyn Mahmud bin Ahmad bin ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Umar bin Mazaah al-Bukhoriy al-Hanafiy, al-Muhiyth al-Burhaniy fiy al-Fiqh al-Ni’maniy Fiqh al-Imam Abiy Haniyfah Radhiy Allah ‘Anh, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1424 H/2004 M, cet. I, vol. I, h. 312.

[5] a. Muhammad bin Ahmad bin al-Husain bin ‘Umar Abu Bakr al-Syasyiy al-Qoffaal al-Faariqiy al-Syaafi’iy, Hilyah al-‘Ulama’ Fiy Ma’rifah Madzaahib al-Fuqohaa’, Beirut: Mu’assasah el-Risaalah, 1980 M, cet. I, vol. II, h. 89.

b. Abu al-Husain Yahya bin Abiy al-Khair bin Saalim al-‘Imrooniy al-Yamaniy al-Syaafi’iy, al-Bayaan Fiy Madzhab al-Imaam al-Syaafi’iy, Jeddah: Dar el-Minhaaj, 1421 H/2000 M, cet. I, vol. II, h. 311.

[6] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa bin Ahmad bin Husain al-Ghaitabiy al-Hanafiy Badr al-Diyn al-‘Aiyniy, ‘Umdah al-Qaariy Syarh al-Shahiyh al-Bukhooriy, Beirut: Dar Ehyaa’ el-Turoth el-‘Arobiy, Dar Ehyaa’ el-Turoth el-‘Arobiy, t.t., vol. V, h. 225.

[7] a. Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Nashr bin al-Hajjaaj al-Marwaziy, Mukhtashor Qiyaam al-Layl wa Qiyaam al-Ramadhaan wa Kitaab al-Witr, Pakistan: Hadits Akadimiy (Akademi Hadits), 1408 H/1988 M, cet. I, vol. I, h. 233.

b. Abu Khoolid Sa’iyd ‘Abd al-Jaliyl Yuwsuf Shokhr al-Mishriy, Fiqh Qiroo’ah al-Qur’aan al-Kariym, Cairo: Maktabah al-Qudsiy, t.t., 1418 H/1997 M, cet. I, vol. I, h. 72.

c. Zain al-Diyn ‘Abd al-Rahmaan bin Ahmad bin Rojab bin al-Hasan al-Salaamiy al-Baghdadiy al-Dimasyqiy al-Hanbaliy, Fath al-Baariy Syarh Shahiyh al-Bukhooriy, Madinah al-Nabawiyyah: Maktabah al-Ghurobaa’ al-Atsariyyah, 1417 H/1996 M, cet. I, vol. VI, h. 168.

[8] Muhammad bin ‘Abd Allah bin Abiy Bakr al-Hatsiytsiy al-Shordafiy al-Riymiy Jamal al-Diyn, al-Ma’aaniy al-Badiy’ah Fiy Ma’rifah Ikhtilaaf Ahl Syariy’ah, Beirut: Dar el-Kutub el-‘Ilmiyyah, 1419 H/1999 M, cet. I, h. 179.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 12 Agustus 2013, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: