SHALAT TARAWIH SEJARAH DAN DINAMIKANYA MENURUT MAZHAB SYAFI’IY


BAB I

PENDAHULUAN

Hamdan lillah wa shalatan wa salaman ‘ala Rasulillah wa Ba’du. Dalam Bulan Ramadhan tahun 1436 H / 2015 M ini penulis merasa perlu menuliskan artikel mengenai Shalat Tarawih. Hal ini mengingat keresahan yang penulis dan masyarakat rasakan mengenai segolongan orang yang dengan mudahnya membid’ahkan amalan seseorang hanya karena amalan tersebut berasal dari hadits yang dha’if.

Tulisan ini juga diinspirasikan dari pengalaman penulis berdiskusi dengan golongan yang merasa paling nyunnah tersebut yang biasa disebut dengan golongan Salafi dan/atau Wahabi.

Namun demikian penulis menyadari sepenuhnya bukanlah seorang ulama dan/atau ustadz, penulis merupakan orang biasa yang ingin menuangkan pemikirannya di atas selembar kertas dikarenakan satu keresahan yang terjadi di masyarakat.

Oleh sebab itu dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri penulis sebuah kritik dan saran merupakan setetes embun di tengah padang pasir yang sangat gersang yang dapat membasahi jiwa yang dahaga ini.

CATATAN: Dalam penulisan hadits-hadits di artikel ini sengaja penulis menggunakan nomor untuk memudahkan pembaca merujuk hadits-hadits tersebut dengan hanya menyebutkan hadits nomor sekian.

BAB II

PEMBAHASAN

A. TARAWIH PENDEKATAN BAHASA

A.1.Etimologi

Tarawih secara etimologi musytaq dari kata Raha (رَاحَ) yang bermakna : istirahat, pergi, memulai, berangin, memperoleh, gembira, nyaman, dan seterusnya.[1] Untuk kemudian berkembang menjadi Rawwaha (رَوَّحَ) yang bermakna : menyegarkan, menghibur, pulang, dan shalat tarawih.[2]

 

A.2. Terminologi

Adapun Tarawih secara terminologi berasal dari Tarwiyhah (تَرْوِيْحَةٌ) yang berarti beristirahat, hal ini karena setiap shalat tarawih dua rakaat ada satu salam yang umat Islam bisa beristirahat sejenak[3] dari keletihannya dan kembali ke keadaannya yang awal.[4]

 

B. TARAWIH PENDEKATAN SEJARAH

Dalam sejarah Islam dan disebutkan bahwa sejarah shalat Tarawih adalah di masjid di sepertiga malam pada Bulan Ramadhan Rasulullah saw shalat kemudian diikuti manusia sampai menjadi ramai masjid sehingga Rasulullah saw berhenti dari shalat itu karena takut shalat tarawih kelak akan diwajibkan kepada umat Islam. Demikian Imam Bukhari meriwayatkan.[5]

  1. حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ، أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي المَسْجِدِ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَكَثُرَ أَهْلُ المَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ المَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا قَضَى الفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ، لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، فَتَعْجِزُوا عَنْهَا»
Yahya bin Bukair bercerita kepada kami, dia berkata: al-Laiyts bercerita kepada kami, dari ‘Uqail dari ibn Syihab dia berkata: Urwah mengabarkan bahwasanya ‘Asiyah telah mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah saw keluar dari sepertiga malam lantas shalat di masjid, kemudian beberapa orang shalat sampai banyak manusia shalat mengikutinya. Kemudian mereka membicarakan hal ini sehingga berkumpullah paling banyak dari mereka yang datang sebelumnya lantas shalat bersamanya sehingga menjadi banyak orang. Kemudian mereka membicarakannya lagi sehingga banyaklah orang-orang di masjid pada hari ketiga. Lantas Rasulullah saw keluar untuk shalat. Kemudian pada hari keempat ruangan masjid tidak sanggup menampung jamaahnya sampai Rasulullah saw menunaikan shalat subuh. Setelah selesai menunaikan shalat subuh Rasulullah saw menghadap jama’ah, bersyahadat kemudian bersabda: “Amma Ba’du, sesungguhnya keadaan kalian tidaklah mencemaskanku, akan tetapi yang membuatku takut adalah shalat ini akan diwajibkan atas kalian dan kalian tidak sanggup menjalankannya” (HR. Bukhari).

Sedangkan menurut Hadits Riwayat Imam Muslim, Imam Malik[6] dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan Imam Bukhari disebutkan:

  1. حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ، قَالَ: «قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ»، قَالَ: وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
“Yahya bin Yahya bercerita kepada kami, dia berkata: saya menceritakan hadits ini kepada Malik, dari ibn Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah, bahwasanya Rasulullah saw pada satu malam shalat tarawih di dalam masjid, maka orang banyak mengikutinya, lalu ada satu kabilah yang ikut shalat bersamanya sehingga makin banyaklah jama’ahnya. Lalu mereka berkumpul pada hari ketiga atau keempat akan tetapi Rasulullah saw tidak keluar dari kamarnya untuk shalat tarawih bersama mereka dan ketika subuh telah lewat beliau bersabda: “Sungguh telah kuperhatikan apa yang kalian amalkan, tidaklah mencegahku untuk shalat tarawih berjamaah bersama kalian kecuali aku takut kelak ini akan diwajibkan atas kalian.” Lalu Yahya bin Yahya berkata: “Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (HR. Muslim).

Adapun Imam Ahmad[7] meriwayatkan lebih kurang sama dengan hadits di atas hanya beda redaksi:

  1. حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، وَابْنُ بَكْرٍ، قَالَا: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ، قَالَ: قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، فَثَابَ رِجَالٌ فَصَلَّوْا مَعَهُ بِصَلَاتِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ تَحَدَّثُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ، فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَاجْتَمَعَ اللَّيْلَةَ الْمُقْبِلَةَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، قَالَتْ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى وَصَلَّوْا مَعَهُ بِصَلَاتِهِ، ثُمَّ أَصْبَحَ فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ، فَاجْتَمَعَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ نَاسٌ كَثِيرٌ حَتَّى كَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ، قَالَتْ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ، اجْتَمَعَ النَّاسُ حَتَّى كَادَ الْمَسْجِدُ يَعْجَزُ عَنْ أَهْلِهِ، فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَخْرُجْ، قَالَتْ: حَتَّى سَمِعْتُ نَاسًا مِنْهُمْ يَقُولُونَ: الصَّلَاةَ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا صَلَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ سَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ، ثُمَّ قَالَ: ” أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمُ اللَّيْلَةَ، وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، فَتَعْجَزُوا عَنْهَا
“Abd al-Razzaaq dan Ibn Bakr menceritakan kepada kami, mereka berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kami, dia berkata: Ibn Syuhaib menceritakan kepadaku dan dia berkata: ‘Urwah berkata: ‘Aisyah berkata: Pada sepertiga akhir malam bulan Ramadhan Rasulullah saw keluar menuju masjid dan shalat di dalamnya, sehingga menjadi penuh oleh jama’ah laki-laki yang shalat berjama’ah dengan beliau. Pada pagi harinya manusia membicarakan kejadian semalam bahwa Rasulullah saw telah keluar dari rumahnya menuju masjid akhir sepertiga malam. Maka pada hari kedua berkumpullah jama’ah yang lebih banyak dari sebelumnya. ‘Aisyah berkata: Maka Rasulullah saw tetap keluar dari rumahnya pada akhir sepertiga malam menuju masjid dan shalat berjama’ah bersama mereka. Pada pagi harinya manusia membicarakan hal ini kembali sehingga pada malam ketiga jama’ah masjid membludak sehingga banyak sekali terlihat jama’ah masjid. ‘Aisyah berkata: Nabi Muhammad saw keluar rumah pada akhir sepertiga malam menuju masjid dan shalat berjamaah dengan jama’ah masjid sehingga pada malam keempat manusia berkumpul hampir-hampir masjid tidak dapat menampung jama’ah. Kemudian nabi Muhammad saw duduk dan tidak keluar menuju masjid. ‘Aisyah berkata: sampai saya mendengar jama’ah masjid berkata: ‘mari kita shalat’ akan tetapi nabi Muhammad saw tidak juga keluar. Ketika shalat subuh  selesai beliau memberi salam dan berdiri di depan jama’ah masjid, bersyahadat dan bersabda: “Amma ba’d, sesungguhnya saya tidak kuatir keadaan (amalan tarawih berjamaah) kamu pada malam ini, akan tetapi saya takut shalat tarawih ini akan diwajibkan kepada kalian maka kamu tidak sanggup melaksanakannya” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Imam Ibnu Hubban juga meriwayatkan hadits yang sama dengan sanad yang sahih juga redaksi yang kurang lebih sama.[8]

Imam Bukhari menyebutkan[9] bahwa setelah wafat Rasulullah saw shalat tarawih ini tercerai berai kembali namun diwajibkan berjamaah oleh Umar bin Khattab ra[10] dan beliau menyebut inovasi ini sebagai sebaik-baiknya Bid’ah.[11]

  1. وَعَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ القَارِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: «نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ» يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ
 Dan dari Syihab dari ‘Urwah bin al-Zubair dari ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Qaariy bahwasanya dia berkata: Saya pergi ke masjid bersama ‘Umar bin al-Khattab ra ra pada satu malam di bulan Ramadhan dan ternyata orang-orang  di sana tercerai berai jama’ahnya dan shalat sendiri-sendiri ada juga yang shalat berjamaah sampai paling banyak 10 orang. Lalu ‘Umar berkata:” Saya berpendapat andaikata jama’ah tersebut saya satukan dengan satu Imam tentu akan lebih optimal.” Lalu beliau berketetapan dengan sungguh-sungguh terhadap azamnya itu. Lalu beliau mengumpulkan jama’ah yang tercerai berai tersebut dibawah satu imam yakni Ubay bin Ka’ab. Di malam yang lain saya keluar bersama beliau kembali dan ternyata jama’ah masjid telah shalat tarawih dengan satu imam, lantas ‘Umar berkata: “ini adalah sebaik-baiknya bid’ah yang orang tidur terlebih dahulu itu lebih utama daripada orang yang tidak tertidur (langsung) shalat Tarawih (setelah shalat Isya).” Beliau  menginginkan shalat tarawih dilaksanakan di akhir malam akan tetapi para jamaah masjid menginginkan shalat tarawih di awal malam (pas setelah shalat isya)” (HR. Bukhari, Imam Malik dan Ibnu Khuzaimah).

C. TARAWIH PENDEKATAN FIQH SYAFI’I

Pada sub judul ini akan dispesifikasikan pada masalah yang sering menjadi perselisihan dan pertengkaran di antara umat Islam, yakni: [1] tempat,[2] waktu, dan [3] rakaat shalat sunnah Tarawih.

 

C.1. TEMPAT TARAWIH

Dalam Fiqih Syafi’i ada tiga pendapat mengenai tempat shalat Tarawih, hal ini tergantung keadaan masing-masing.[12]

Pendapat Pertama    : Jama’ah di Masjid lebih utama mengingat sunnah sahabat ‘Umar bin al-Khattab ra (Hadits-hadits telah disebutkan sebelumnya perihal Sunnah ‘Umar bin al-Khattab ra ini).

Pendapat Kedua       : Shalat sendiri di rumah lebih utama karena bebas dari perkara Riya.

Pendapat Ketiga       : Apabila tidak takut malas dan dia hafal al-Qur’an maka shalat sendiri lebih utama akan tetapi apabila kuatir malas atau tidak hafal al-Qur’an maka lebih utama berjamaah di masjid.

PENDAPAT PERTAMA

Menurut Ijma’ Ulama, shalat sunnah Tarawih adalah Sunnah dikerjakan berjama’ah[13] di Masjid bukan di rumah dikarenakan hadits-hadits yang mu’tabar.

Adapun hadits yang mendukung pendapat bahwa shalat Tarawih lebih afdhal di Masjid dalam keadaan apapun adalah menurut hadits-hadits yang telah penulis kutip sebelumnya pada hadits nomor 1 sampai dengan 4, silakan lihat kembali.

PENDAPAT KEDUA

Sedangkan hadits-hadits yang mengafdhalkan di rumah daripada di masjid menurut Imam Baihaqi[14] adalah dalam berikut ini:

  1. أَنْبَأَ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ أَنْبَأَ أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ قَادِمٍ الْمَرْوَزِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ بِشْرٍ الْمِرْثَدِيُّ وَأنبأ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى، قَالُوا، ثنا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، ثنا وُهَيْبٌ، ثنا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا النَّضْرِ، عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ حُجْرَةً قَالَ: حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ: مِنْ حَصِيرٍ فِي رَمَضَانُ فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِيَ، وَفِي رِوَايَةِ الْمِرْثَدِيِّ لَيْلَتَيْنِ، فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: ” قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ، فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ ” وَفِي رِوَايَةِ الْمَرْوَزِيِّ، وَالْمِرْثَدِيِّ، عَنْ سَالِمٍ أَبِي النَّضْرِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ حَمَّادٍ، وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَاتِمٍ، عَنْ بَهْزٍ عَنْ وُهَيْبٍ

 

Memberitakan Abu al-Husain ‘Aliy bin Ahmad bin ‘Abdaan, memberitakan Ahmad bin ‘Ubayd al-Shaffaar, menceritakan kepada kami Ahmad bin Qoodim al-Marqwaziy dan Ahmad bin Bisyr al-Mirtsadiy, mengabarkan Abu ‘Abd Allah al-Haafizh, mengabarkan Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ya’kuwb, menceritakan kepada kami ‘Imroon bin Muwsaa, mereka berkata: menceritakan kepada kami ‘Abd al-A’laa bin Hammad, menceritakan kepada kami Wuhaib, menceritakan kepada kami Muwsaa bin ‘Uqbah, dia berkata: Saya mendengar Abu Nadhr dari Busr bin Sa’iyd dari Zayd bin Tsaabit bahwasanya Rasulullah saw menyiapkan satu ruangan lalu Zayd bin Tsaabit berkata: ‘saya menyangka beliau akan berkata untuk bagian bulan Ramadhan beliau akan shalat di ruangan itu pada malam-malamnya.’ Dan dari riwayat al-Mirtsadiy disebutkan bahwa ‘pada 2 malam Ramadhan.’  Maka umat Islam mulai ikut shalat bersama Rasulullah saw, setelah beliau mengetahui hal itu maka Rasulullah saw duduk lantas keluar menemui mereka dan bersabda: “Sungguh aku telah mengetahui amalan kalian, wahai umat Islam shalatlah di rumah kalian karena sesungguhnya seutama-utamanya shalat yaitu shalatnya seorang hamba di rumahnya kecuali shalat wajib lima waktu.” Dalam riwayat al-Marwaziy dan al-Mirtsadiy dari Salim bin Nadhrah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya,[15] dari ‘Abd al-A’laa bin Hammaad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Muhammad bin Hatim dari Bahz dari Wuhaib” (HR. Al-Baihaqi).

Masih dari riwayat Imam Baihaqi[16] disebutkan:

  1. أنبأ أَبُو نَصْرٍ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيُّ أنبأ أَبُو عَمْرِو بْنُ مَطَرٍ، أنبأ أَبُو خَلِيفَةَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ لَهُ رَجُلٌ أُصَلِّي خَلْفَ الْإِمَامِ فِي رَمَضَانَ؟ قَالَ، يَعْنِي ابْنَ عُمَرَ: ” أَلَيْسَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ ” قَالَ: نَعَمْ قَالَ: ” أَفَتُنْصِتُ كَأَنَّكَ حِمَارٌ؟ صَلِّ فِي بَيْتِكَ “

 

Memberitakan Abu Nashr ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziyz bin ‘Umar bin Qotaadah al-Anshooriy, memberitakan Abu ‘Amr bin Mathor, memberitakan Abu Khalifah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, menceritakan kepada kami Sufyaan dari Manshur dari Mujaahid dari ‘Abd Allah bin ‘Umar berkata: Seorang laki-lakiberkata kepada’Abd Allah bin ‘Umar:  “Saya shalat Tarawih di belakang Imam pada bulan Ramadhan,” Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Tidakkah kamu telah membaca al-Qur’an (hafal al-Qur’an)?” laki-laki itu berkata: “Iya,” ‘Abd Allah bin ‘Umar berkata: “Apakah kamu mendengarkan al-Qur’an seperti mendengarkannya keledai? Shalatlah di rumahmu!” (HR.Al-Baihaqi).

Dan riwayat Imam Baihaqi lainnya[17] disebutkan:

  1. أنبأ أَبُو بَكْرِ بْنُ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ، أنبأ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ، ثنا أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، ثنا أَبُو عَامِرٍ مُوسَى بْنُ عَامِرٍ، ثنا الْوَلِيدُ هُوَ ابْنُ مُسْلِمٍ، أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ” أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ فِي بَيْتِهِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَإِذَا انْصَرَفَ النَّاسُ مِنَ الْمَسْجِدِ أَخَذَ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى مَسْجِدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ لَا يَخْرُجُ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ الصُّبْحَ “

 

Memberitakan Abu Bakr bin al-Haarits al-Faqiyh, memberitakan Abu Muhammad bin Hayyaan, menceritakan kepada kami Abu Ishaaq Ibroohiym bin Muhammad bin al-Hasan, mengabarkan kepada kami Abu ‘Aamir Muwsaa bin ‘Aamir, mengabarkan kepada kami al-Waliyd dia anaknya Muslim, mengabarkan kepada kami ‘Umar bin Muhammad dari Naafi’ dari ‘Abd Allah bin ‘Umar: “Bahwasanya Nabi Muhammad saw mengerjakan shalat Tarawih di rumahnya pada bulan Ramadhan. Apabila umat Islam meninggalkan masjid maka beliau mengambil wadah air, lalu beliau keluar menuju masjid nabawi kemudian beliau tidak keluar dari dalam masjid sampai beliau shalat subuh di dalamnya” (HR. Al-Baihaqi).

PENDAPAT KETIGA

Adapun berjamaah lebih afdhal apabila dia tidak menghafal al-Qur’an dengan baik menurut Imam Baihaqi[18] adalah menurut hadits mursal berikut ini:

  1. أنبأ أَبُو زَكَرِيَّا بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ الْقَاضِي، وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ، قَالُوا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أنبأ بَحْرُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ: قُرِئَ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ وَهْبٍ أَخْبَرَكَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلْمَانَ، وَبَكْرُ بْنُ مُضَرَ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، أَنَّ ثَعْلَبَةَ بْنَ أَبِي مَالِكٍ الْقُرَظِيَّ، حَدَّثَهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ فَرَأَى نَاسًا فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ يُصَلُّونَ، فَقَالَ: ” مَا يَصْنَعُ هَؤُلَاءِ؟ ” قَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَؤُلَاءِ نَاسٌ لَيْسَ مَعَهُمْ قُرْآنٌ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ يَقْرَأُ وَهُمْ مَعَهُ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ قَالَ: ” قَدْ أَحْسَنُوا، أوَ قَدْ أَصَابُوا ” ولَمْ يَكْرَهْ ذَلِكَ لَهُمْ وَأنبأ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو قَالَا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبُ أنبأ الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي بَكْرُ بْنُ مُضَرَ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلْمَانَ الْحَجْرِيُّ، فَذَكَرَهُ بِمِثْلِهِ قَالَ ابْنُ وَهْبٍ: وَأَحَدُهُمَا يَزِيدُ عَلَى صَاحِبِهِ الْكَلِمَةَ وَنَحْوَهَا قَالَ الشَّيْخُ: هَذَا مُرْسَلٌ حَسَنٌ ثَعْلَبَةُ بْنُ أَبِي مَالِكٍ الْقُرَظِيُّ مِنَ الطَّبَقَةِ الْأُولَى مِنْ تَابِعِي أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَقَدْ أَخْرَجَهُ ابْنُ مَنْدَهْ فِي الصَّحَابَةِ

 

Memberitakan ِAbu Zakariyaa bin Abiy Ishaaq dan Abu Bakr Ahmad bin al-Hasan al-Qoodhiy dan Abu ‘Abd al-Rahmaan al-Sulamiy, mereka berkata: Menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quwb, memberitakan Bahr bin Nashr dia berkata: -Kisah ini dibacakan kepada ‘Abdullah bin Wahb- ‘Abd al-Rahmaan bin Salmaan dan Bakr bin Mudhar memberitakanmu dari Ibn al-Haad, sesungguhnya Tsa’labah bin Abiy Maalik al-Qurthubiy menceritakan kepadanya, dia berkata: Pada satu malam Ramadhan Rasulullah saw keluar menuju masjid dan melihat banyak orang tapi tidak membaca al-Qur’an (tidak hafal al-Qur’an) sedangkan disana ada Ubay bin Ka’b membaca al-Qur’an (hafal al-Qur’an) dan mereka shalat Tarawih berjamaah dengannya. Nabi Muhammad saw bersabda: “Sungguh mereka sudah melaksanakan amalan yang baik atau sudah melakukan amalan yang benar.” Dan beliau tidak membenci amalan yang mereka perbuat. Memberitakan Abu ‘Abd Allah al-Haafizh dan Abu Sa’iyd bin Abiy ‘Amr mereka berdua berkata: memberitakan Abu al-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quwb, memberitakan al-Rabiy’ bin Sulaymaan, menceritakan kepada kami Ibn Wahb, mengabarkan kepadaku Bakr bin Mudhar dan ‘Abd al-Rahmaan bin Salmaan al-Hajriy, dia menyebutkan hadits Rasulullah sama seperti yang sudah disebutkan. Ibn Wahb berkata: ‘salah satu dari mereka ada yang menambahkan satu kalimat dan sejenisnya.’ Berkata al-Syaikh: Hadits ini Hadits Mursal Hasan, Tsa’labah bin Abiy Maalik al-Qurthubiy adalah dari jenjang urutan pertama kalangan tabi’in dari Madinah, dan Ibn Mundah telah mentakhrij Tsa’labah ini dalam kitabnya al-Shahabah” (HR. Al-Baihaqi).

Namun jumhur ulama Syafi’iy sepakat bahwa shalat Tarawih adalah Sunnah Mu’akkadah[19] dikerjakan berjamaah di Masjid kecuali dari mazhab Maliki yang berpendapat bahwa Tarawih adalah Mandubah bukan Sunnah Mua’kkadah, dan menurut Mazhab Hanafi yang berpendapat bahwa tarawih di masjid adalah Sunnah Kifayah.[20]

C.2. WAKTU TARAWIH

Waktu shalat tarawih ini menurut Jumhur ‘Ulama adalah mulai dari waktu Isya dan selesai sampai datangnya waktu shalat Subuh.[21] Lantas mengapa tidak di sepertiga malam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw sebagaimana dalam hadits-hadits yang telah penulis kutip di hadits nomor 1?

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي المَسْجِدِ ….

Bahwa Rasulullah saw keluar dari sepertiga malam lantas shalat di masjid….

Jawabnya ada pada hadits nomor 4 yang telah penulis kutip pada halaman sebelumnya, silakan diperhatikan dengan seksama:

…. يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ ….

…. Beliau (‘Umar bin al-Khattab ra) menginginkan shalat tarawih dilaksanakan di akhir malam akan tetapi para jamaah masjid menginginkan shalat tarawih di awal malam (pas setelah shalat isya)”

Di dalam hadits nomor 1 dan nomor 4 bisa disimpulkan bahwa Rasulullah saw shalat Tarawih di sepertiga akhir malam dan begitu pula yang dikehendaki oleh sahabat ‘Umar bin al-Khattab ra, akan tetapi sepeninggal Rasulullah saw para sahabat lebih memilih di awal malam, yakni pas setelah shalat Isya dan para sahabat semua mengamininya.

Lantas benarkah Rasulullah saw shalat satu bulan penuh pada bulan Ramadhan di dalam masjid? Tentu tidak, hal ini sesuai dengan hadits-hadits nomor 1 sampai nomor 3 yang telah pengutip tulis pada halaman sebelumnya. Silakan dibaca dengan seksama!

Hadits nomor 1

…. فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ المَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا قَضَى الفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، ….

“…. Kemudian pada hari keempat ruangan masjid tidak sanggup menampung jamaahnya sampai Rasulullah saw menunaikan shalat subuh. Setelah selesai menunaikan shalat subuh Rasulullah saw menghadap jama’ah, bersyahadat kemudian bersabda: “Amma Ba’du, ….dst.”

Hadits nomor 2

…. ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ….

“…. Lalu mereka berkumpul pada hari ketiga atau keempat akan tetapi Rasulullah saw tidak keluar dari kamarnya untuk shalat tarawih bersama mereka….dst.”

Hadits nomor 3

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، فَثَابَ رِجَالٌ فَصَلَّوْا مَعَهُ بِصَلَاتِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ تَحَدَّثُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ، فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَاجْتَمَعَ اللَّيْلَةَ الْمُقْبِلَةَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، قَالَتْ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى وَصَلَّوْا مَعَهُ بِصَلَاتِهِ، ثُمَّ أَصْبَحَ فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ، فَاجْتَمَعَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ نَاسٌ كَثِيرٌ حَتَّى كَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ، قَالَتْ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ، اجْتَمَعَ النَّاسُ حَتَّى كَادَ الْمَسْجِدُ يَعْجَزُ عَنْ أَهْلِهِ، فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَخْرُجْ، قَالَتْ: حَتَّى سَمِعْتُ نَاسًا مِنْهُمْ يَقُولُونَ: الصَّلَاةَ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا صَلَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ سَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ، ثُمَّ قَالَ: ” أَمَّا بَعْدُ….

“…. Pada sepertiga akhir malam (BACA: hari pertama, pen) bulan Ramadhan Rasulullah saw keluar menuju masjid dan shalat di dalamnya, sehingga menjadi penuh oleh jama’ah laki-laki yang shalat berjama’ah dengan beliau. Pada pagi harinya manusia membicarakan kejadian semalam bahwa Rasulullah saw telah keluar dari rumahnya menuju masjid akhir sepertiga malam. Maka pada hari kedua berkumpullah jama’ah yang lebih banyak dari sebelumnya. ‘Aisyah berkata: Maka Rasulullah saw tetap keluar dari rumahnya pada akhir sepertiga malam menuju masjid dan shalat berjama’ah bersama mereka. Pada pagi harinya manusia membicarakan hal ini kembali sehingga pada malam ketiga jama’ah masjid membludak sehingga banyak sekali terlihat jama’ah masjid. ‘Aisyah berkata: Nabi Muhammad saw keluar rumah pada akhir sepertiga malam menuju masjid dan shalat berjamaah dengan jama’ah masjid sehingga pada malam keempat manusia berkumpul hampir-hampir masjid tidak dapat menampung jama’ah. Kemudian nabi Muhammad saw duduk dan tidak keluar menuju masjid. ‘Aisyah berkata: sampai saya mendengar jama’ah masjid berkata: ‘mari kita shalat’ akan tetapi nabi Muhammad saw tidak juga keluar. Ketika shalat subuh  selesai beliau memberi salam dan berdiri di depan jama’ah masjid, bersyahadat dan bersabda: “Amma ba’d…. dst”

Jadi jika kita mau jujur waktu shalat Tarawih yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw adalah pada sepertiga akhir malam, bukan setelah shalat Isya, dan hanya dilakukan sebanyak 4 hari di masjid sedangkan sisanya Rasulullah saw lakukan di rumah beliau.

Lantas ada apa dengan shalat Tarawih umat Islam pada hari ini, mengapa mereka shalat di dalam masjid berjamaah selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, bukankah ini bid’ah yang tidak dilaksanakan oleh Rasulullah saw?

Ya, ini adalah bid’ah hasanah yang dianjurkan dalam Islam menurut Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana hadits nomor 4 bahwa ‘Umar bin al-Khattab ra mengumpulkan manusia yang tercerai-berai jama’ahnya menjadi satu jama’ah. Menurut Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Khatthib al-Syafi’i dalam kitabnya al-Iqnaa’ disebutkan bahwa ‘Umar bin al-Khattab ra memberikan perintah kepada Ubay bin Ka’b ra untuk mengimami Muslimin dan beliau memberikan perintah kepada Sulayman bin Abiy Hitsmah ra untuk mengimami Muslimat[22] selama satu bulan penuh di masjid.[23]

Lantas bagaimana dengan shalat umat Islam sekarang yang menggabungkan Muslimin dan Muslimat dalam satu Imam, apakah lagi-lagi ini bid’ah? Ya, ini bid’ah hasanah! karena Tarawih berjamaah di masjid selama satu bulan penuh ini pun adalah bid’ah hasanah yang diperintahkan oleh ‘Umar bin al-Khattab ra.

C.3. RAKAAT TARAWIH

Rakaat pada shalat Tarawih para ulama berbeda pendapat, dan setiap pendapat mempunyai dasar masing-masing yang dapat dipertanggung jawabkan. Namun rakat shalat Tarawih yang di ijma’ Madzhab Syafi’i adalah 20 rakaat tambah 3 rakaat shalat witir menjadi 23 rakaat dan dilakukan keliapatan dua kali rakaat = satu salam.

Menurut Mazhab Syafi’i, shalat sunnah Tarawih wajib dilaksanakan 20 rakaat[24] dengan 10 kali salam selama 1 bulan penuh, ini artinya dua rakaat dua rakaat setiap shalat tarawih, dan tidak sah apabila salam tidak lakukan setiap dua kali rakaat kecuali shalat sunnah yang lain seperti: shalat sunnah Zhuhur dan Ashar, Dhuha dan Witir maka boleh kelipatan 4 rakaat,[25] dan jika dilaksanakan kelipatan 4 rakaat dengan satu salam maka tidak sah[26] apabila dia sengaja dan dia mengetahui fiqihnya.[27] Dan diperkenankan khusus Ahlul Madinah untuk melaksanakan lebih dari 20 rakaat sampai 36 rakaat meskipun paling afdhal adalah 20 rakaat.[28]

Dalil Naqliy shalat Tarawih 20 rakaat

Kebanyakan Dalil Naqliy mengenai shalat sunnah Tarawih 20 rakaat adalah dari para sahabat ‘Umar bin al-Khatthab, ‘Aliy bin Abiy Thalib dan Ubay bin Ka’b. Sedangkan Dalil Naqliy shalat sunnah Tarawih 11 rakaat adalah hadits riwayat istri Rasulullah ‘Aisyah ra.

Mengapa harus mengikuti cara para sahabat dalam shalat sunnah Tarawih? Jawabnya ada pada ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits berikut ini:

 

C.3.A. DALIL KEWAJIBAN MENGIKUTI PARA SAHABAT:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ 

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur-an yang diturunkan kepada-nya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah: 285]

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” [Ali ‘Imran: 110]

Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal dan dari berbagai riwayat dengan redaksi yang hampir sama:

  1. حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ، عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً، ذَرَفَتْ لَهَا الْأَعْيُنُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، قُلْنَا أَوْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا. قَالَ: ” أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “
“Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu : “Suatu hari Rasulullah saw  pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah nasihat ini seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.”(HR. Ahmad bin Hanbal,[29] Ibnu Majah,[30] Thabraniy,[31] Baihaqiy,[32] Abu Daud[33] dan Ibn Hubbaan[34] dan al-Daarimiy[35]).

 

C.3.B. AL-HADITS TARAWIH 20 RAKAAT

DALIL PERTAMA

Imam Malik menambahkan dari Yazid bin Rumman, bahwa Umat Islam shalat Tarawih + Witir sebanyak 23 Rakaat[36] dan menurut riwayat Imam Baihaqi disebutkan bahwa Umat Islam shalat Tarawih 20 Rakaat dan Sahabat ‘Aliy bin Abiy Thoolib ra juga ikut witir dengan mereka.[37]

  1. أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ بِبَغْدَادَ أنبأ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عِيسَى بْنِ عَبْدَكَ الرَّازِيُّ، ثنا أَبُو عَامِرٍ عَمْرُو بْنُ تَمِيمٍ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ يُونُسَ، ثنا حَمَّادُ بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: ” دَعَا الْقُرَّاءَ فِي رَمَضَانَ فَأَمَرَ مِنْهُمْ رَجُلًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ عِشْرِينَ رَكْعَةً ” قَالَ: وَكَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُوتِرُ بِهِمْ
“Mengabarkan kepada kami Abu al-Husain bin al-Fadhl al-Qotthoon di Baghdad, memberitakan Muhammad bin Ahmad bin ‘Iysaa bin ‘Abdak al-Rooziy, menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir ‘Amr bin Tamiym, menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abd Allah bin Yuwnus, mengabarkan kepada kami Hammad bin Syu’aib, dari ‘Athoo’ bin al-Saa’ib dari Abiy ‘Abd al-Rahmaan al-Sulamiy, dari ‘Aliy ra beliau berkata: “Imam di bulan Ramadhan mengajak shalat Tarawih lalu salah seorang dari jama’ah memerintahkan untuk shalat 20 Rakat,” Berkata periwayat bahwa ‘Aliy ra saat itu juga ikut shalat witir bersama mereka” (HR. Baihaqi).

DALIL KEDUA

11.مَالِكٌ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ؛ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فِي رَمَضَانَ، بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

“Imam Malik, dari Yazyd bin Rumaan, bahwasanya beliau berkata: “Manusia pada zaman ‘Umar bin al-Khatthab ra shalat Tarawih pada bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat.” (HR. Malik).[38]

DALIL KETIGA

  1. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ قَالَ: نا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ قَالَ: نا أَبُو شَيْبَةَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ، عَنْ مِقْسَمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ «يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ» لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الْحَكَمِ إِلَّا أَبُو شَيْبَةَ وَلَا يُرْوَى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ
“Menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahya al-Hulwaaniy beliau berkata: menceritakan kepada kami ‘Aliy bin al-Ja’d beliau berkata: menceritakan kepada kami Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsmaan bin ‘Utsmaan dari al-Hakam bin ‘Utaibah dari Miqsam dari Ibn al-‘Abbaas : “bahwasanya Nabi Muhammad saw Shalat Tarawih selain Witir sebanyak 20 rakaat.” Hadits Abu al-Hakam ini hanya dari jalur Abu Syaibah dan Perwawi dari Ibn al-‘Abbas juga hanya dari Sanad ini. (HR. Thabraniy).[39]

DALIL KEEMPAT

  1. أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مَحْمُودُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الثَّقَفِيُّ بِأَصْبَهَانَ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ أَبِي الرَّجَاءِ الصَّيْرَفِي أخْبرهُم قِرَاءَة عَلَيْهِ انا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنِ أَحْمَدِ الْبَقَّالِ انا عُبَيْدُ اللهِ بْنِ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ انا جَدِّيْ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ جَمِيلٍ انا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ انا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى انَا أَبُوْ جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ عُمَرَ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ فَقَالَ إِنَّ النَّاسَ يَصُومُونَ النَّهَار وَلَا يُحْسِنُوْنَ أََنْ (يَقْرَؤَا) فَلَوْ قَرَأْتَ الْقُرْآنَ عَلَيْهِمْ بِاللَّيْلِ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ هَذَا (شَيْءٌ) لَمْ يَكُنْ فَقَالَ قَدْ عَلِمْتُ وَلَكِنَّهُ أَحْسَنُ فَصَلَّى بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً (إِسْنَاده حسن)
“Mengkabarkan kepada kami Abuw ‘Abd Allah Mahmuwd bin Ahmad bin ‘Abd al-Rahmaan al-Tsaqofiy di Ashbahan, bahwasanya Sa’iyd bin Aby al-Rojaa’ al-Shoyrofiy  mengabarkan mereka satu bacaan atasnya, mengabarkan kepada kami ‘Abd al-Waahid bin Ahmad al-Baqqool, mengabarkan kepada kami ‘Ubayd Allah bin Ya’quwb bin Ishaaq, mengabarkan kepada kami kakekku Ishaq bin Ibroohiym bin Muhammad bin Jamiyl, mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muniy’, mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Muwsaa, mengabarkan kepada kami Abuw Ja’far al-Rooziy dari al-Robiy’ bin Anas dari Abiy al-‘Aaliyah dari Ubay bin Ka’b bahwasanya ‘Umar bin al-Khotthoob memerintahkan Ubay untuk shalat bersama manusia di bulan Ramadhan, berkata ‘Umar bin al-Khotthob: “Sesungguhnya manusia berpuasa pada siang hari dan tidaklah baik membaca al-Qur’an dengan tahsin (pada siang hari), coba kalau kamu membaca al-Qur’an  bersama mereka pada malam hari.” Maka berkata Ubay: “Wahai Amirul Mukminin, ini sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya?” maka berkata ‘Umar: “Ya saya tahu, akan tetapi hal itu baik.” Maka shalatlah Ubay bersama manusia 20 rakaat.” (Sanadnya Hasan).[40]

DALIL KELIMA

  1. وَاخْتَلَفَ أَهْلُ العِلْمِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ، فَرَأَى بَعْضُهُمْ: أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً مَعَ الوِتْرِ، وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ المَدِينَةِ، وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَهُمْ بِالمَدِينَةِ، وَأَكْثَرُ أَهْلِ العِلْمِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ، وَعَلِيٍّ، وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ، وَابْنِ المُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيِّ ” وقَالَ الشَّافِعِيُّ: «وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ بِبَلَدِنَا بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً» وقَالَ أَحْمَدُ: «رُوِيَ فِي هَذَا أَلْوَانٌ وَلَمْ يُقْضَ فِيهِ بِشَيْءٍ» وقَالَ إِسْحَاقُ: «بَلْ نَخْتَارُ إِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ»
“Para ‘Ulama berbeda pendapat perihal Qiyam Ramadhan (shalat tarawih + witir, pent), sebagian berpendapat bahwa jumlah tarawih dan witir adalah 41 rakaat dan ini adalah pendapat penduduk Madinah dan amalan ini hanya diamalkan di Madinah. Kebanyakan para ulama berpendapat dengan riwayat ‘Umar, ‘Aliy dan selain mereka dari para sahabat Nabi Muhammad saw bahwa shalat Tarawih sejumlah 20 rakaat. Pendapat ini didukung oleh Imam al-Tsauriy, Imam Ibn al-Mubaarok dan Imam al-Syaafi’iy. Dan berkata Imam al-Syaafi’iy: “Inilah yang saya temui di negeri kita Makkah, mereka shalat tarawih 20 rakaat.” Berkata Imam Ahmad: “Perihal ini banyak riwayatnya dan tidaklah dijudgment dengan sesuatu hal apapun.” Berkata Ishaaq: “Kami lebih memilih 41 rakaat berdasarkan riwayat Ubay bin Ka’b r.”(HR. Tirmidziy).[41]

DALIL KEENAM

Adalah Imam Ibn Abiy Syaibah[42] meriwayatkan hadits ke 14 sampai 18 dalam kitabnya al-Mushonnaf halaman 163 sampai 164:

  1. حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: ثنا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ: «أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ»
“Menceritakan kepada kami Abuw Bakr beliau berkata: menceritakan kepada kami Wakiy’ dari Sufyaan dari Abiy Ishaaq dari ‘Abd Allah bin Qoys dari Syutayr bin Syakl ra: “Bahsawanya dia shalat Tarawih di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat ditambah witir.”
  1. حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ حَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي الْحَسْنَاءِ، «أَنَّ عَلِيًّا أَمَرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِهِمْ فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً»
“Menceritakan kepada kami Wakiy’ dari Hasan bin Shoolih dari ‘Amr bin Qoys dari Ibn Abiy al-Hasanaa’; “bahwasanya ‘Aliy bin Abiy Thoolib memerintahkan seseorang untuk shalat Tarawih bersama mereka pada bulan Ramadhan dengan 20 rakat.”
  1. حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، «أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَمَرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً»
“Menceritakan kepada kami Wakiy’ dari Malik bin Anas dari Yahya bin Sa’iyd; “Bahwasanya ‘Umar bin alKhotthoob memerintahkan seseorang untuk shalat Tarawih bersama mereka dengan 20 rakaat.”
  1. حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: ” كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ “
“Menceritakan kepada kami Wakiy’ dari Naafi’ bin ‘Umar beliau berkata: bahwa Ibnu Abiy Mulaykah shalat Tarawih bersama kami pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat dan beliau membaca Bihamd al-Malaa’ikah pada satu rakaatnya.”
  1. حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَسَنٍ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ قَالَ: «كَانَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ بِالْمَدِينَةِ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيُوتِرُ بِثَلَاثٍ»
“Menceritakan kepada kami Humaiyd bin ‘Abd al-Rohmaan dari Hasan dari ‘Abd al-‘Aziyz dari Rufay’ beliau berkata: Adalah Ubay bin Ka’b ra shalat Tarawih pada bulan Ramadhan bersama manusia di Madinah sebanyak 20 rakaat dan Witir sebanyak 3 rakat.”
  1. حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، قَالَ: أَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مِقْسَمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ»
“Menceritakan kepada kami Yaziyd bin Haaruwn beliau berkata: menceritakan kepada kami Ibroohiym bin ‘Utsmaan dari al-Hakam dari Miqsam dari Ibni ‘Abbaas: “Bahwasanya Rasulullah saw shalat Tarawih pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat ditambah shalat witirnya.”

 

Adapun Dalil ‘aqliy shalat Tarawih 20 rakaat

Siapakah orang-orang Mukmin yang Allah dan Rasul-Nya ridha kepada mereka dan mereka disebut sebagai sebaik-baiknya umat? Tidak lain dan tidak bukan adalah para sahabat nabi Muhammad saw dan tidak ada yang lain. Karena tidak diragukan kredebilitas keimanan dan ketaatan para sahabat terhadap perintah dan larangan Rasulullah saw maka sangat dianjurkan (wajib) menjadikan para sahabat suri tauladan dan salah satu sumber hukum Islam setelah al-Qur’an dan al-Hadits.

Mengapa? Karena merekalah manusia-manusia mulia yang hidup pada saat wahyu Allah swt diturunkan kepada hamba-Nya yang mulia Rasulullah saw, dan beliau menjelaskan maksud dan tujuan ayat-ayat tersebut langsung kepada mereka, dan merekapun langsung bertanya terhadap segala sesuatunya kepada beliau, maka sangatlah pantas apabila mereka sangat memahami maksud dan tujuan ayat al-Qur’an dan maksud dari sunnah-sunnahnya, maka sangat pantaslah apabila merujuk mereka dalam satu ketetapan hukum dan suri teladan mengingat merekalah orang yang paling memahami al-Qur’an dan al-Sunnah.

Apabila kita berkunjung ke Makkah maka kita akan menemukan dari mulai Islam berkembang sampai dengan saat ini shalat Tarawih di sana dilakukan sebanyak 20 rakaat. Logikanya jika memang hadits ‘Aisyah yang mengatakan 11 rakaat adalah hadits yang benar pastilah akan diikuti para Khalifah al-Rasyidin dan para sahabat. Dan tentunya para sahabat dan istri nabi ‘Aisyah akan menentang habis-habisan shalat tarawih 20 rakaat dan apalagi lebih dari itu sebagaimana yang ahlul Madinah lakukan, mulai dari 30 rakaat dan seterusnya karena hal itu merupakan bid’ah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.

Namun kenyataannya? Justru yang “disahkan” oleh Khulafa’ al-Rasyidin adalah yang 20 rakaat dan ‘Aisyah ra dan para sahabat tidak protes. Lantas apakah dalil ‘Aqli shalat tarawih + witir 11 rakaat? Mungkin anda mau menjawabnya?

BAB III

KESIMPULAN

 

Shalat Tarawih dapat disimpulkan sebagai sunnah mu’akkadah yang menjadi sunnah yang paling banyak dilakukan oleh seluruh umat Islam di dunia ini, yang kebanyakan mereka menggunakan versi 20 rakaat dan berjamaah di dalam masjid. Namun meski demikian wajib bagi kita menghormati mereka yang berkeyakinan shalat sunnah Tarawih + Witir 11 rakaat.

Namun celakanya ada mulut-mulut kotor yang merasa lebih hebat dari salafus salih (para sahabat dan tabi’in) yang dengan sangat mudahnya mengatakan bid’ah dan mencaci amalan para sahabat dan para ulama yang beramal shalat sunnah Tarawih 20 rakaat, maka celakalah mereka dengan mulut-mulut kotor mereka.

Salah satu mulut kotor itu adalah mulut Syaikh Nashiruddin al-Albaniy yang dengan mudahnya mengatakan bahwa orang yang menambahkan rakaat Tarawih + Witir lebih dari 11 rakaat adalah BID’AH, SESAT dan BODOH TERATAS (TOLOL).[43]

Semoga Allah swt melindungi lidah kita dari perkataan kotor demikian.

Berikut adalah scan kitabnya:

New Doc 22_1 New Doc 22_8 New Doc 22_9 New Doc 22_10

BAB IV

PENUTUP

 

Alhamdulillah yang telah memberikan kekuatan kepada penulis sehingga dapat merampungan risalah kecil ini dalam waktu 1 bulan sebagai respon dari kelompok yang sangat mengobral kata-kata bid’ah dan kata-kata kotor lainnya yang dialamatkan kepada ahlussunnah wal jama’ah khususnya mazhab Syafi’iy.

Kritik dan saran yang membangun sangat penulis dambakan karena penulis bukanlah ustadz apalagi ulama. Penulis hanya orang biasa yang tidak sudi agama ini diacak-acak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atas nama bid’ah.

Kesalahan hanya dari penulis dan kebenaran hanya datangnya dari Allah ‘Azza wa Jall.

Wallah A’alam bi al-Shawab.

Penulis,

Bekasi, 14 Juli 2015 08.18 wib.

Apriansyah Bintang

http://www.diskursusislam.wordpress.com

BIBLIOGRAFI

[1] Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia / Qomus Karobiyak al-‘Ashriy ‘Arobiy Indunisiy, Yogyakarta: Yayasan ‘Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak,cet. III, 1998 M/1445 H. h. 942-943.

[2] Pdt. Louis Ma’luf al-Suyu’i; dan Pdt. Ferdinand Totel al-Suyu’i, al-Munjid fi al-Lughah Wa al-A’lam, Beirut: Dar el-machreq/Dar al-Masyriq, cet. XXXIV, 1994 M, h. 285-286.

[3] Jamaluddin  Muhammad Thahir bin ‘Aliy al-Shadiyqiy al-Hindiy al-Fattaniy al-Kujrotiy, Majma’ Bihar  al-Anwaar Fiy Gharaa’ib al-Tanziyl wa Lathaa’if al-Akhbaar, Hiderabad India: Mathba’ah Majlis Daa’iroh al-Ma’aarif al-‘Utsmaniyyah, 1387 H/1967 M, cet. III, vol. II, h. 389.

[4] Abu al-Qaasim Mahmud bin ‘Amr bin Ahmad al-Zamakhsyariy, Asaas al-Balaaghah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1419 H/1998 M, cet. I, vol. I, h. 392.

[5] Muhammad bin ‘Isma’iyl bin ‘Abu ‘Abd Allah al-Bukhoriy al-Ja’fiy, al-Jami’ al-Musnad al-Shahiyh al-Mukhtashar Min Umuwr Rosuwl Allah saw Wa Ayyaamih (Shahiyh Bukhooriy), Damascus: Dar al-Thuwq al-Najah, 1422 H, cet. I, vol. II, h. 95/vol. V, h. 52/vol. VI, h. 69.

[6] [a] Muslim bin al-Hajjaaj Abuw al-Hasan al-Qusyairiy al-Niysabuwriy, al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘An al-‘Adl Ilaa Rasuwl Allah saw (Shahih Muslim), Beirut: Dar Ehya el-Turath el-‘Arobiy, t.t., vol. I, h. 523. [b] Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amir al-Ashbahiy al-Madaniy, al-Muwattho’,         Abu Dhabi: Maktabah Zaayid bin Sulthoon Aal Nihyaan Li al-A’maal al-Khairiyyah wa al-Insaaniyyah, 1425 H/2004 M, cet. I, vol. II, h. 156 dan 524

[7] Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad al-Syibaaniy, Musnad al-Imaam Ahmad bin Hanbal, —: Mu’assasah al-Risaalah, 1421 H/2001 M, cet. I, vol. 42, h. 223-224.

[8] Muhammad bin Hubbaan bin Ahmad bin Hubbaan bin Ma’aadz bin Ma’bad al-Tamiymiy Abu Hatim al-Daarimiy al-Bastiy, Shahiyh Ibn Hubbaan bi Tartiyb Ibn Bulbaan, Beirut: Mu’assasah al-Risaalah, 1414 H/1993 M, cet. II, vol. VI, h. 283.

[9] Shahih Bukhari, Loc,Cit.,vol. III, h. 45 dan Al-Muwattho’, Loc.Cit., h. 158.

[10] Abu Bakr Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah bin al-Mughiyroh Shaalih bin Bakr al-Salamiy al-Niysaabuwriy, Shahih Ibn Khuzaimah, Beirut: Maktabah al-Islaamiy, t.t., vol. III, h. 339.

[11] Shahih Bukhari, Loc.Cit dan Al-Muwattho’, Loc.Cit., h. 158.

[12] Abu Haamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazaaliy al-Thuwsiy, al-Wasityh fiy al-Madzhab, Cairo: Daar al-Salaam, 1417 H, cet. I, vol. II, h. 215.

[13] Sa’iyd bin Muhammad Ba’aliy Ba’isyin al-Daw’aniy al-Ribathiy al-Hadromiy al-Syafi’iy, Syarh al-Muqoddimah al-Hadhromiyyah (Busyroo al-Kariym bi Syarh Masaa’il al-Ta’liym), Jeddah: Daar al-Minhaaj li al-Nasyr wa al-Tawziy’, 1425 H/2004 M, cet. II, vol. I, h. 326.

[14] Ahmad bin al-Husain bin ‘Aliy bin Muwsaa al-Khusrowjidiy al-Khurosaaniy Abu Bakr al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubra, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah , 1424 H/2003 M, cet. III, vol. II, h. 695.

[15] Shahih Bukhari, Loc.Cit., vol. I, h. 147.

[16] Ibid., h. 696.

[17] Ibid.

[18] Ibid., h.697.

[19] Keterangan: Sunnah Mu’akkadah = Sunnah yang sangat dianjurkan (mendekati kewajiban).

[20] ‘Abd al-Rahmaan bin Muhammad ‘Audh al-Juzairiy, al-Fiqh ‘ala al-Madzaahib al-Arba’ah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H/2003 M, cet. II, vol. I, h. 310.

[21] Ibid..

[22] [a] Syams al-Diyn Muhammad bin Ahmad al-Khatthiyb al-Syarbiniy al-Syaafi’iy, al-Iqnaa’ fiy Hill al-Faazh Abiy Syujjaa’, Beirut: Daar al-Fikr, t.t., vol. I, h. 117. [b] Ahmad Salaamah Abu al-‘Abbaas Syihab al-Diyn Qalyuwbiy dan Syihab al-Siyn Ahmad al-Barlisiy al-Mishriy ‘Amiyroh, Haasyiyataa Qalyuwbiy wa ‘Amiyroh, Beirut: Daar al-Fikr, 1415 H/1995 M, cet. –, vol. I, h. 244.

[23] Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar al-Bujairomiy al-Mishriy al-Syaafi’iy, Tuhfah al-Habiyb ‘Alaa Syarh al-Khothiyb (Haasyiyah al-Bujairomiy ‘Alaa al-Khothiyb), Beirut: Daar al-Fikr, t.t., vol. I, h. 256.

[24] Abuw Bakr ‘Utsmaan bin Muhammad Syathoo al-Dimyathiy al-Syaafi’iy, I’aanah al-Thoolibiyn ‘Alaa Hill Al-Faazh Fath al-Mu’iyn, Beirut: Daar Fikr Li al-Thobaa’ah wa al-Nasyr wa al-Tawziy’, 1418 H/1997 M, cet. I, h. 305.

[25] Zain al-Diyn Ahmad bin ‘Abd al-‘Aziyz bin Zain al-Diyn bin ‘Aliy bin Ahmad al-Ma’bariy al-Maliybariy al-Hindiy, Fath al-Mu’iyn bi Syarh Qurrah al-‘Aiyn bi Muhimmat al-Diyn, Indonesia: al-Haromaiyn Jaya, 1427 H/2006 M, cet. I, h. 33.

[26] [a] Muhammad bin ‘Umar Nawawiy al-Jaawiy al-Bantaniy al-Tanariy, Nihayah al-Zayn, Indonesia: al-Haromayn Jaya, t.t., cet. II, h. 114. [b] Ahmad bin Lu’lu’ bin ‘Abd Allah al-Ruwmiy Abuw al-‘Abbaas Syihaab al-Diyn Ibn al-Naqiyb al-Syaafi’iy, ‘Umdah al-Saalik wa ‘’Uddah al-Naasik, Qathar:  al-Syu’uwn al-Diyniyyah, 1982 M, cet. I, vol. I, h. 60. [c] Muhammad bin Qoosim bin Muhammad bin Muhammad Abuw ‘Abd Allah Syams al-Diyn al-Ghoziy, Fath al-Qoriyb al-Mujiyb fiy Syarh al-Alfaazh al-Taqriyb (al-Qowl al-Mukhtaar fiy Syarh Ghooyah al-Ikhtishoor), Beirut: Daar Ibn al-Hazm li al-Thabaa’ah wa al-Nasyr wa al-Tawziy’, 1425 H/2005 M, h. 72.  [d] Dr. Mushthofa al-Hin, Dr. Mushthofa al-Baghoo dan ‘Aliy al-Syarbajiy, al-Fiqh al-Mahajiy ‘Alaa al-Madzhab al-Syaafi’iy Rahimah Allah,  Damascus: Daar al-Qolam Li al-Thabaa’ah Li al-Nasyr wa al-Tawziy’, 1413 H/1992 M, cet. IV, vol. I, h. 237.

[27] Sulaiman bin ‘Umar bin Manshuwr al-‘Ujailiy al-Azhariy al-Jumal, Futuwhaat al-Wahhaab bi Tawdhiyh Syarh Manhaj al-Thullaab (Haasyiah al-Jumal), Beirut: Daar al-Fikr, t.t., vol. I, h. 490.

[28] Muhammad bin ‘Umar Nawawiy al-Jaawiy, Nihayah al-Zayn, Loc.Cit.

[29] Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Loc.Cit., vol. XVIII, h. 373.

[30] Ibn Maajah Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Yaziyd al-Qazwiyniy, Sunan Ibn Maajah, Egypt: Daar Ihyaa’ al-Kutub al-‘Arobiyyah, t.t., vol. I, h. 15.

[31] [a] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyuwb bin Muthiyr al-Lakhmiy al-Syaamiy Abuw al-Qoosim al-Thobrooniy, al-Mu’jam al-Awsath, Cairo: Daar al-Haromayn, t.t., vol. I, h. 28. [b] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyuwb bin Muthiyr al-Lakhmiy al-Syaamiy Abuw al-Qoosim al-Thobrooniy, al-Mu’jam al-Kabiyr, Cairo: Maktabah Ibn al-Taimiyyah, t.t., cet. II, vol. XVIII, h. 245.

[32] Ahmad bin al-Husayn bin ‘Aliy bin Muwsaa al-Khusrowjirdiy al-Khuroosaaniy Abu Bakr al-Bayhaqiy, al-Madkhol Ila al-Sunan al-Bayhaqiy, Kuwait: Daar al-Khulafaa’ li al-Kitaab al-Islaamiy, t.t., vol. I, h. 115.

[33] Abuw Daawud Sulayman bin al-Asy’ats bin Ishaaq bin Basyiyr bin Syaddaad bin ‘Amr al-Azdiy al-Sijistaaniy, Sunan Abiy Daawud, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, t.t., vol. IV, h. 200.

[34] Muhammad bin Hubbaan, Shahiyh Ibn Hubbaan bi Tartiyb Ibn Bulbaan,Loc.Cit., vol. I, h. 178.

[35] Abu Muhammad  ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rohmaan bin al-Fadhl bin Bahroom bin ‘Abd al-Shomad al-Daarimiy al-Tamiymiy al-Samarqondiy, Musnad al-Daarimiy (Sunan al-Daarimiy), Beirut: Daar al-Basyaa’ir, 1434 H/2013 M, cet. I, I, h. 123.

[36] Al-Muwattho’, Loc.Cit., h. 159.

[37] Imam al-Baihaqiy, al-Sunan al-Kubra, Loc.Cit., h. 699.

[38] Al-Muwattho’, Loc.Cit., vol. II, h. 156.

[39] [a] Al-Thobrooniy, al-Mu’jam al-Awsath, Loc.Cit., h. 243. [b] Al-Thobrooniy, al-Mu’jam al-Kabiyr, Loc.Cit., vol. XI, h. 393.

[40] Dhiyaa’ al-Diyn Abuw ‘Abd Allah Muhammad bin ‘Abd al-Waahid al-Maqdisiy, al-Ahaadits al-Mukhtaaroh Mimmaa Lam Yukhrijhu al-Bukhooriy wa Muslim fiy Shohiyhayhima,Beirut: Daar al-Khadhr Li al-Thobaa’ah wa al-Nasyr wa al-Tawziy’, 1420 H/2000 M, cet. III, vol. III, h. 367.

[41] Muhammad bin ‘Iysaa bin Sauroh bin Muwsaa bin al-Dhohhaak al-Tirmidziy Abu ‘Iysaa, Sunan al-Tirmidziy, Egypt: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthoofaa al-Baabiy al-Halbiy, 1395 H/1975 M, cet. II, vol. III, h. 160.

[42] Abu Bakr bin Abiy Syaibah ‘Abd Allah bin Muhammad bin Ibroohiym bin ‘Utsmaan bin Khuwaasity al-‘Absiy, al-Kitaab al-Mushonnaf fiy al-Ahaadiyts wa al-Aatsaar, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1409 H, cet. I, vol II, h. 163.

[43] Muhammad Nashir al-Diyn al-Albaaniy, Sholaah al-Tarawiyh, Riyadh: Maktabah al-Ma’aarif li al-Nasyr wa al-Tawziy’, 1421 H, cet. I, h. 41.

Catatan:

  1. Jika anda mengutip artikel ini mohon disertakan sumber, hargailah jerih payah saya, janganlah ilmu ini menjadi tidak berkah.
  2. Saran dan kritik membangun penulis dambakan.
  3. Jika anda ingin melihat versi pdf nya silakan unduh di sini.

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 14 Juli 2015, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Mata malaikat

    Lantas bagaimana dengan shalat umat Islam sekarang yang menggabungkan Muslimin dan Muslimat dalam satu Imam, apakah lagi-lagi ini bid’ah? Ya, ini bid’ah hasanah! karena Tarawih berjamaah di masjid selama satu bulan penuh ini pun adalah bid’ah hasanah yang diperintahkan oleh ‘Umar bin al-Khattab ra.
    —————-
    Waduh…. sebenarnya, tarawih itu adalah qiyamul lail. bkn hanya 1 bln, tetapi 1thn penuh…

    Rasul biasa qiyam di rumah beliau, namun ktk ramadhan beliau mengerjakan di masjid sehingga sahabat berjamaah dibelakang beliau. sehingga rasul kembali qiyam di rumah krn takut ini diwajibkan.

    kata “terawih” itu nggak dikenal pada zaman nabi dan sahabat. Terawih baru dikenal skrag2. ktk zaman nabi namanya qiyamul lail -_-

    Haduh-haduh

    • Haduh haduuh… Berarti kita ahlul bid’ah semua ya, karena mengubah nama ibadah qiyamullail bulan Ramadhan menjadi Tarawih. Ckckckck..

      Kasihan amalan para ulama seluruh dunia tertolak karena mengamalkan ibadah bid’ah shalat Tarawih..

  2. Tentang saya di blog ini tidak bisa diakses.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: