Kesesatan Syi’ah dalam kitab Ushul al-Kafiy (Post 2)


….. Langsung Saja, Yang mau baca pembukaan dan latar belakang tulisan ini, tatib dan siapa yang bisa komentar silakan buka di sini.


 

أصول الكافي

ثقة الإسلام محمد بن يعقوب الكليني

Halaman 143

72. BAB KUMPULAN KEUTAMAAN & SIFAT-SIFAT IMAM YANG SPESIAL

Dari Abu Muhammad al-Qasim bin al-‘Ala ra semoga Allah mengangkatnya, dari ‘Abdil ‘Aziz bin Muslim berkata: “Kami besama Ridha as di Marwa dan kami berkumpul di masjid pada hari Jumat, di awal kedatangan kami mereka mendiskusikan tentang perkara Imamah, mereka menyebutkan banyak sekali perbedaan pandangan manusia mengenai Imamah, kemudian saya masuk ke rumah ‘Ali as dan saya memberitahukan tentang kedalaman perkara tadi kepada beliau. Maka beliau tersenyum lalu berkata: “Wahai ‘Abdul ‘Aziz, kaum itu sudah bodoh dan mereka tertipu dengan akal mereka sendiri. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mencabut nyawa nabinya sehingga agamanya telah sempurna, dan Allah telah menurunkan kepada nabinya sebuah kitab al-Qur’an yang di dalamnya ada penjelasan atas segala sesuatu, yang menjelaskan perkata yang halal dan yang haram, perkara hudud dan hukum, dan segala sesuatu yang manusia butuhkan ada di dalamnya dengan lengkap. Allah berfirman: “…… Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan” (QS. Al-An’am: 37) dan Allah menurunkan Ayatnya dalam Haji Wada’ dan ini adalah akhir dari umur Nabi Muhammad saw: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ma’idah: 3). Dan perkara Imamah adalah adalah bagian dari sempurnanya Agama ini. Dan tidaklah Rasulullah saw melewati pengajaran terhadap agama umatnya, menjelaskan jalan agama mereka, dan meninggalkan mereka pada jalan yang benar, dan Rasulullah saw meninggikan untuk mereka ‘Ali as sebagai pemimpin dan Imam, tidaklah Rasulullah saw meninggalkan satu kebutuhan mereka kecuali beliau menjelaskannya, maka barangsiapa yang menyangka bahwa Allah ‘Azza wa Jall tidak menyempurnakan agamanya maka sungguh dia telah menolak Kitab Allah, dan barangsiapa yang menolak kitab Allah maka sesungguhnya dia telah kafir kepada Allah.

 

Apakah mereka mengetahui kekuatan al-Imamah dan kedudukannya di mata umat sehingga dia bisa memilih mereka dalam hal al-Imamah? Sesungguhnya al-Imamah adalah kekuatan yang agung dan seagung-agungnya perkara, arah yang paling dicegah, dan sejauh-jauhnya perkara yang dalam untuk dicapai manusia dengan akal mereka, atau agar akal mereka mencapainya, atau dengan cara memilih Imam dengan usaha mereka? Sesungguhnya al-Imamah telah Allah Azza wa Jall khususkan kepada hamba-Nya Ibrahim al-Khalil as setelah kenabian dan pertemanannya dengan tingkatan ke tiga, dan Allah telah memuliakan Ibrahim dengan keutamaan al-Imamah, mengingatkan untuk mengenang Ibrahim dengan perkara al-Imamah. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu Pemimpin (al-Imam) di antara manusia” (QS. Al-Baqarah: 124). Dan Ibrahim al-Khalil as pun berbahagia seraya bertanya: “Bagaimana dengan keturunanku?” Allah Tabarak wa Ta’ala menjawab: “Janji-Ku tidak termasuk keturunan-keturunanmu yang zalim.” Ayat ini membatalkan al-Imamah untuk orang-orang zalim sampai hari kiamat sehingga perhal al-Imamah ini adalah perkara suci, kemudian Allah Ta’ala memuliakan Ibrahim as dengan menjadikan al-Imamah lekat kepada keturunannya yang suci-suci dan bersih-bersih, Allah berfirman: “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Yakub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shaleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah” (QS. Al-Anbiya’: 72-73).

Dan tentu keturunannya akan mewarisi hal tersebut dari masa ke masa sehingga sampailah pada masa Nabi Muhammad saw. Allah Jall wa Ta’ala berfirman:

 

Catatan:

  1. Al-Imamah versi Syi’ah adalah hanya berhak dari keturunan Nabi Muhammad saw dan tidak bisa dipilih sebagaimana dipilihnya Khalifah setelah wafat Rasulullah saw.
  2. Keturunan Nabi Muhammad di sini adalah hasil pernikahan ‘Ali Karramallah Wajhah dan Fathimah az-Zahra’ putri Rasulullah yang mempunyai 5 anak, dan salah satu anak ‘Ali Karramallah Wajhah bernama Ummu Kultsum menikah dengan ‘Umar bin Khattab namun anehnya Syi’ah hanya mengakui Hasan dan Husein sebagai cucu Rasulullah yang berhak mawarisi al-Imamah dari Rasulullah saw, dan mereka mencaci ‘Umar bin al-Khattab anak Fathimah az-Zahra’ yang dinikahi oleh beliau. Konyol bukan?
  3. Dengan definisi versi mereka otomatis pengganti Rasulullah saw setelah beliau wafat wajib dari ‘Ali Karramallah Wajhah dan keturunannya. Dengan definisi ini otomatis Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in tidak sah menjabat sebagai Khalifah karena dianggap merebut hak ‘Ali Karramallah Wajhah, karena dianggap merebut haknya maka Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in bisa disebut sebagai orang yang menolak hukum Allah, dan yang menolak hukum Allah maka disebut kafir. Disinilah Takfir keluar dari mulut mereka.
  4. Sesuaikah dua poin di atas dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawa Rasulullah saw dan dijalankan oleh keluarga, sahabat, tabi’it tabi’in dan ‘ulama al-‘mu’tabirin? Pikirkan dengan akal sehat anda?!

 


أصول الكافي

ثقة الإسلام محمد بن يعقوب الكليني

 

Halaman 144

 

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman” (QS. Ali ‘Imran: 68). Al-Imamah ini adalah kekhususan bagi Ibrahim yang Muhammad saw mengikuti kekhususan tersebut kepada ‘Ali as dikarenakan perintah Allah Ta’ala atas firman yang telah ditetapkan Allah, maka kekhususan al-Imamah ini tentunya diwarisi oleh keturunannya yang suci-suci yang mana Allah telah memberikan Ilmu dan Iman atas dasar Firman Allah Ta’ala: “Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini (nya)” (QS. Ar-Rum: 56), ayat ini menerangkan tentang kelahiran ‘Ali as khususnya sampai hari kiamat, karena tidak ada nabi setelah nabi Muhammad saw maka dari mana orang-orang bodoh itu akan bertanya (tentang agama)?

Sesungguhnya al-Imamah itu adalah kedudukan para nabi, warisannya para wali, sesungguhnya al-Imamah adalah kekhilafahan Allah dan kekhilafahan Rasulullah saw dan juga menjadi kedudukannya Amirul Mukminin ‘Ali as dan tentunya diwarisi kepada al-Hasan dan al-Husain as. Sesungguhnya al-Imamah adalah pengikat agama, dan ketetapan untuk umat Islam serta kemaslahatan dunia dan kemuliaan umat Islam. Sesungguhnya al-Imamah itu adalah fondasi Islam yang berkembang dan cabangnya adalah yang Maha Tinggi. Dengan al-Imamah maka sempurnalah Shalat, zakat, puasa, haji dan jihad, dan persiapan harta rampasan (al-Fai’) dan sedekah, penyempurnaan hudud dan hukum, mencegah lubang dan jejak.

Seorang Imam menghalalkan yang dihalalkan Allah dan mengharamkan yang diharamkan Allah, mendirikan Hudud Allah, menjaga agama Allah, dan mengajak ke jalan Tuhannya dengan Hikmah dan nasehat yang baik, hujjah yang tepat. Seorang Imam itu seperti matahari yang terbit yang amat terang cahayanya untuk menerangi alam, dan matahari itu ada di ufuk yang tidak bisa dicapai oleh tangan dan mata.

Seorang Imam adalah bulan purnama yang menerangi, pelita yang bersinar, cahaya yang berkilauan, bintang yang menunjukkan di kegalapan malam, bagian terbesar dari daerah yang` berpenduduk maupun tidak, bagian terdalam lautan. Seorang Imam adalah air tawar bagi yang dahaga, dalilnya petunjuk, penyelamat dari ketergelinciran. Seorang Imam adalah api di atas bukit yang menghangatkan bagi siapapun, petunjuk untuk menghindari bahaya, barangsiapa yang berpisah diri dengannya maka akan celaka. Seorang Imam adalah awan yang menurunkan hujan, hujuan tersebut amatlah lebat, dan sebagai Matahari yang menerangi, langit yang meneduhkan, bumi yang luas, mata air yan melimpah, saluran dan taman.

Seorang Imam itu adalah sahabat yang lembut, ayah dan saudara yang penuh kasih sayang, ibu yang sangat baik terhadap anaknya yang kecil, pelindung hamba pada masa-masa musibah yang berat. Sorang Imam adalah kepercayaan Allah pada makhluk-Nya, hujjah atas hamba-Nya dan khalifah atas hamba-Nya, da’i kepada Allah, penolak hal yang diharamkan Allah.

Seorang Imam adalah bersih dari dosa dan bebas dari aib, mempunyai ilmu yang khusus, yang mempunyai ciri bijak, dia sebagai sistem agama, kemuliaan umat Islam, kemarahan munafikin dan kegersangan orang-orang kafir.

Seorang Imam adalah satu masanya yang tidak mungkin didekati oleh siapapun, yang seorang alim tidak akan bisa mengimbanginya, tidak akan bisa satu orangpun menggantikannya, karena al-Imam adalah khusus dengan keutamaan seluruhnya tanpa meminta ataupun diusahakan, akan tetapi pengkhususan dari yang Maha Utama Maha Pemberi.

 

Catatan:

  1. Al-Imamah definisi Syi’ah di sini adalah kepemimpinan yang diberikan oleh Allah kepada para nabi, ‘Ali Karramallah Wajhah dan dua keturunannya Hasan-Husain dan keturunan mereka yang suci; hal ini seperti Keimamahannya Nabi Ibrahim dan keluarganya.
  2. Imamah adalah Rukun Islam versi Syi’ah.
  3. Seorang Imam meskipun bukan nabi adalah bebas dari dosa (Ma’shum) dan dari kesalahan.
  4. Al-Imamah adalah anugerah yang hanya diberikan kepada hambanya yang Allah kehendaki, tidak bisa diusahakan dengan cara apapaun. Dalam hal ini ‘Ali Karramallah Wajhah dan dua keturunannya Hasan-Husain dan keturunan mereka.
  5. Sesuaikah dua poin di atas dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawa Rasulullah saw dan dijalankan oleh keluarga, sahabat, tabi’it tabi’in dan ‘ulama al-‘mu’tabirin? Pikirkan dengan akal sehat anda?!

 

KESESATAN SYI’AH DALAM BUKU INI BERSAMBUNG….

About Apriansyah Bintang

Turut mendiskusikan mispersepsi terhadap Islam dengan hikmah dan mau'izhah hasanah. مناقش أي سوء الفهم للإسلام بالحكمة والموعظة الحسنة Also discuss any misperceptions of Islam with wisdom and good advice.

Posted on 15 Januari 2016, in Diskursus Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komentar bro...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: